LENSAINDONESIA.COM: Gaya hidup frugal atau Frugal Living adalah sebuah istilah dari gaya hidup yang tengah trend belakangan ini. Meskipun terdengar baru, namun gaya hidup ini sudah diajarkan dan diterapkan oleh para pendahulu kita, hanya saja dengan istilah yang berbeda. Misalnya gaya hidup minimalis, gaya hidup hemat, atau gaya hidup sederhana. Bahkan sejak dahulu, para orangtua Jawa sering memberikan nasehat “Urip iku sak madyo wae !”, yang kurang lebih memiliki pengertian bahwa hidup itu sewajarnya saja.

Kondisi perekonomian yang tidak menentu dan adanya wabah COVID-19 membuat diperlukan adanya tabungan berupa dana darurat. Disinilah letak pentingnya menerapkan gaya hidup frugal yang identik dengan hemat dan minimalis, serta cermat dan cerdas dalam mengelola keuangan, sehingga tidak mengakibatkan adanya pengeluaran yang berlebihan. Cermat dan cerdas dalam hal ini, seperti belanja kebutuhan berdasarkan skala prioritas, melakukan evaluasi pemasukan dan pengeluaran.

Branding and Communication Strategist MiPOWER by Sequis Ivan Christian Winatha mengatakan bahwa menerapkan gaya hidup frugal bukan berarti kita pelit, namun kita mampu memprioritaskan pengeluaran yang penting dibandingkan yang tidak penting.

Menurut Ivan, gaya hidup frugal adalah mengutamakan nilai dan kualitas suatu barang ketimbang harganya. Misal, kita harus membeli sepatu baru, karena sepatu yang lama sudah rusak, lalu kita mempunyai dua pilihan sepatu. Pilihan pertama adalah sepatu yang lebih murah, namun mudah rusak. Sedangkan sepatu yang kedua, harganya lebih mahal, tetapi memiliki kualitas yang bagus dan awet.

Jika sesuai dengan prinsip gaya hidup frugal, maka kita akan memilih sepatu yang kedua. Kenapa ? Karena meskipun harganya lebih mahal, namun kualitas lebih bagus dan bisa digunakan untuk waktu yang lebih lama. Hal tersebut otomatis akan membuat kita dapat menghemat uang lebih banyak.

Untuk memulai menerapkan gaya hidup frugal, kita perlu mengevaluasi dan mengatur ulang cash flow keuangan. Anggaran yang hanya untuk kesenangan sesaat dan tidak mendesak sebaiknya dicoret dari daftar kebutuhan kita. Hal ini berarti mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, sehingga dapat ditambahkan ke tabungan.

Selain itu, sangat penting untuk disiplin dalam mencatat pengeluaran harian kita, supaya mudah untuk melakukan evaluasi keuangan.

Selanjutnya, kita bisa memanfaatkan diskon atau promo untuk membeli barang yang benar-benar dibutuhkan. Cara ini efektif untuk menghemat pengeluaran, sehingga ada sisa uang yang bisa ditabung.

Kemudian, hilangkan keinginan untuk mendapat pengakuan dari lingkungan sosial atau yang trend dengan istilah “pansos”. Keinginan untuk pansos ini yang seringkali menyebabkan pembelian barang-barang yang tidak penting, seperti makan di cafe-cafe nge-hits yang mahal, membeli pakaian bermerk yang mahal, dan sebagainya. Tidak perlu gengsi dan repot memenuhi ekspektasi orang lain dengan membeli barang-barang mahal yang tidak penting.

Ada pepatah mengatakan anjing menggonggong kafilah berlalu, generasi milenial di masa pandemi Covid-19 penting untuk menjadi bijaksana dalam memenuhi apa yang benar-benar dibutuhkan, bukan memenuhi apa yang orang lain butuhkan dan katakan tentang “nilai” status sosial diri kita. @Limad