LENSAINDONESIA.COM: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi memulai pembangunan Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19. Peletakan batu pertama pembangunan RS senilai Rp 40 miliar itu dilaksanakan pada Senin (05/4/2021).

Hadir dalam acara peletakan Batu pertama itu  Bupati Malang, Drs HM  Sanusi, MM. Selain itu Wakil Bupati, Kapolres Malang dan  Komandan Kodim 0818 Malang-Batu.

Rektor UMM Dr Fauzan MPd mengatakan, pembangunan RS COVID-19 ini dibantu oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Dana yang dibutuhkan untuk membangun RS ini sekitar Rp 40 miliar. Proses pembangunannya harus selesai 45 hari. Nanti kerjanya nonstop, siang malam,” jelas Fauzan.

Dia menjelakan bahwa pembangunan tersebut merupakan tekad UMM untuk mewujudkannya. Sehingga, Malang, Indonesia serta dunia bisa segera bebas dari wabah COVID-19.

Bupati Malang HM Sanusi mengapresiasi tekad UMM mewujudkan RS Lapangan Penanganan COVID-19 itu. Bahkan dia menilai UMM sangat  responsif dalam berupaya menangani pandemi COVID-19.

Sanusi juga berharap, kedepan UMM bisa terus berkontribusi di semua bidang. “Tidak hanya berhenti pada penanganan COVID-19 saja, tapi juga semakin peka terhadap kebutuhan masyarakat sekitar,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Balai Prasarana Pemukiman Wilayah (BPPW) Jawa Timur M. Reva Sastrodiningrat menyampaikan, bahwa tujuan pengembangan RS ini merupakan upaya untuk menangani COVID-19, khususnya di wilayah Malang Raya.

Pembangunan RS khusus COVID-19 di daerah sangat penting, mengingat jumlah pasien COVID-19 di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan data Satgas COVID-19, jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia mencapai 1.534.255 orang per tanggal 4 April.

“Pasien positif yang ada di Jawa timur mencapai 140.331 orang. Sebanyak 10.346 di antaranya berada di Malang Raya,” tuturnya.

Berdasarkan data tersebut, sejumlah rumah sakit ditunjuk menjadi RS rujukan virus Corona. Salah satunya adalah RS UMM.

Makanya, jelas Reva, UMM melakukan pengembangan rumah sakit darurat penanganan COVID-19 ini.

RS yang dibangun di atas lahan seluas 8.000 meter persegi ini memiliki fasilitar 65 bed untuk ruang observasi serta 8 bed ruang isolasi. Selain itu juga ada ruang screening dan fasilitas penunjang lainnya.

Reva kembali menuturkan, bahwa pembangunan RS darurat tersebut juga menjadi bagian dari program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menyediakan RS khusus COVID-19.

Sebelumnya, telah dibangun beberapa rumah sakit serupa yang berlokasi di Pulau Galang, RSUD dr. Soegiri Lamongan, RSUD Zainul Abidin Kota Banda Aceh dan beberapa tempat lainnya.

Karena itu, kata dia, pembangunan RS darurat tersebut diharapkan bisa selesai dalam 45 hari. Sumber pendanaannya menggunakan dana siap pakai BNPB.

“Insya Allah RS ini nantinya akan dijadikan sebagai RS penyakit infeksius di Kabupaten Malang ketika pandemi usai,” pungkasnya.@aji 

 

#satgascovid19
#ingatpesanibu
#ingatpesanibupakaimasker
#ingatpesanibujagajarak
#ingatpesanibucucitangan
#pakaimasker
#jagajarak
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitangan
#cucitangandengansabun