LENSAINDONESIA.COM: Wali Kota Blitar Santoso akan memindahkan sekolah yang berada di sekitar kawasan Monumen PETA Jl. Sudanco Supriyadi. Hal ini berjuan untuk mewujudkan berdirinya meseum perjuangan Soeprijadi (Supriyadi) di Kota Blitar.

Seperti diketahui, di belakang Monumen PETA terdapat gedung bersejarah yang saat digunakan untuk 4 sekolahan yakni, SMPN 3, 5 dan 6 serta SMKN 3 Kota Blitar.

Gedung yang didirikan pada masa kolonial ini memiliki keterkaitan dengan dua tema dalam sejarah Indonesia, pendidikan dan militer.

Gedung ini awalnya dibuka pada tahun 1910 sebagai tempat penyelenggaraan sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) yang tergolong jenjang pendidikan menengah. Dalam sistem pendidikan Hindia Belanda ketika itu tingkat MULO sudah bisa dikatakan cukup tinggi bagi seorang pribumi.

Para pelajar MULO berasal dari anak-anak Eropa, Cina dan pribumi kaya. Sukarni (Soekarni) tokoh pejuang kemerdekaan dan Pahlawan Nasional Indonesia sempat mengenyam pendidikan di MULO Blitar.

Pada masa pendudukan Jepang, bangunan ini digunakan sebagai tangsi militer atau markas untuk Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA).

Pada 14 Februari 1945, Daidan PETA Blitar dibawah pimpinan Sudanco Supriyadi melancarkan pemberontakan terhadap tentara Jepang. Sat itu, tembakan pertama dilancarkan dari markas PETA (bekas gedung MULO) Blitar.

Pada masa kemerdekaan gedung ini dikembalikan fungsinya sebagai tempat pendidikan. Kurun waktu 1945-1965 dipergunakan sebagai Sekolah Guru A dan Sekolah Guru B, sedangkan pada kurun waktu 1965-1998 gedung ini dipergunakan sebagai Sekolah Teknik (ST), Sekolah Kesejahteraan Keluarga Pertama (SKKP), Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Sejak 1998 hingga kini digunakan oleh Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3, 5, dan 6, serta Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3.

“Nilai sejarah harus betul-betul bisa kita pertahankan, tekad bulat kami sudah kami lakukan yaitu dengan akan memindahkan beberapa sekolah yang ada di monumen Supriadi,” kata Santoso didampingi Wakil Wali Kota Tjutjuk Sunario saat menghadiri Pengukuhan Pengurus Generasi Penerus Yayasan Pembela Tanah Air (YAPETA) Blitar Masa Bakti 2020–2025 dan Rapat Kerja tahun 2021 di Sasana Praja Pemkot Blitar, Rabu (07/04/2021).

Sementara itu, Ketua Umum YAPETA Tinton Suprapto menyampaikan, ada pekerjaan rumah yang harus dikerjakan di masa kepengurusannya, yaitu mempersembahkan kepada negara-negara di dunia petilasan sejarah terbentuknya PETA di Kota Blitar masa pergerakan nasional dulu.

Kata dia, PETA merupakan pengawal kemerdekan Republik Indonesia dan menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).

“Cikal bakal TNI ada di sini semua. Yang mengawal proklamasi dan merebut kemerdekaan itu PETA, sudah lengkap semua. Tinggal ada upaya, supaya tahun depan ini diakui oleh negara-negara lain. Ada pekerjaan rumah buat YAPETA Jatim ini yang berpusat di Blitar, mereka mereka kan sudah punya aset, museum monumen ada di sini, tempat pemberontakan namanya kebangkitan PETA ada di sini semua,” jelas Tinton usai mengukuhkan pengurus YAPETA.@ADV/Sam