LENSAINDONESIA.COM: Di tengah masih hangatnya ingatan masyarakat terkait bom bunuh diri di Gereja Makassar dan aksi teroris di Mabes Polri, kini giliran kelompok diduga terpapar paham radikal kembali nekat unjuk gigi membuat kegaduhan yang memicu konflik dengan warga di Medan Sumatera Utara.

Ind Police Watch (IPW) mendesak Kapolda Sumut bertindak tegas menyapu bersih kelompok diduga radikal tersebut dan segera memproses biang keroknya ke pengadilan.

“Jika manuver kelompok radikal ini dibiarkan, Indonesia akan terus menerus direcoki dua kelompok, yakni teroris dan kelompok radikal. Jika Kapolda Sumut tidak mampu segera menyapu bersih, Kapolri harus segera menggantinya dengan perwira yang mampu agar ketenangan dan kedamaian masyarakat Sumut terjaga, terutama di bulan Ramadhan,” tegas Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, menyoroti kritis kinerja Polda Sumut.

IPW memberi apresiasi pada Polri yang sudah menangkap 94 tersangka teroris sejak Januari 2021. Para tersangka teroris itu ditangkap di sejumlah daerah, mulai dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Gorontalo, Jakarta, Jawa Barat hingga Jawa Timur. Seiring serangan
teror di Makassar dan Mabes Polri, kini muncul kelompok radikal dengan aksi semena-mena.

Faktanya belakangan ini, IPW mencermati, heboh video viral di medsos yang memperlihatkan cekcok antara warga dengan sejumlah pria berpeci dengan seragam Ormas yang membubarkan paksa pertunjukan kesenian tradisional :Jaran Kepang: di Kota Medan.

Para radikalis pria berpeci lengkap dengan seragam Ormas saat melakukan aksi intoleransi pada Jumat (/24/2021) itu merupakan oknum dari salah satu Ormas keagamaan di Sumut. Awalnya, warga dan anggota Ormas hanya adu mulut.  Karena sekelompok pria berseragam Ormas  bertindak semena-mena membubarkan paksa pertunjukan seni tradisional itu dengan dalih syirik.

Bahkan, seorang anggota Ormas sempat meludahi seorang perempuan di acara kesenian tradisional itu. Warga pun marah menyaksikan tindakan tidak terpuji itu, hingga terjadi baku hantam. Dari peristiwa ini, baik warga maupun Ormas saling lapor ke polisi. Akibatnya, 15 orang
diperiksa sebagai saksi.

“IPW mendesak polisi bersikap tegas untuk menyapu bersih semua kelompok radikal, terutama yang bisa menimbulkan konflik horizontal di masyarakat. Sesuai undang undang hanya polisi yang berhak membubarkan kegiatan di masyarakat. Ormas apa pun tidak berhak membubarkan acara masyarakat, dengan alasan apa pun,” tegas Neta.

“Jika ormas itu tidak senang hati dengan acara tersebut, mereka harus segera lapor ke polisi. Ormas apa pun tidak punya hak sewenang wenang membubarkan acara di masyarakat. Apalagi, meludahi warga yang hadir di acara tersebut,” imbuhnya.

IPW mencermati kian nekatnya para teroris dan kelompok radikal dalam melakukan aksinya, kata Neta, sepatutnya segenap jajaran Polri perlu bertindak cepat, tegas, dan presisi agar Bangsa Indonesia tidak menjadi bulan bulanan terorisme dan kelompok radikal.

“Jika ada Kapolda yang ragu ragu dan tidak mampu menghadapi manuver para teroris maupun kelompok radikal sebaiknya Kapolri segera mencopot dari jabatannya,” pungkasnya. @red