LENSAINDONESIA.COM : Terkait kasus penganiayaan yang dialami jurnalis Tempo di Surabaya, Nurhadi, kini dipertegas oleh Ketua AJI Surabaya, Eben Haezer bahwa Nurhadi tak melanggar kode etik jurnalistik.

Hal tersebut disampaikan saat dipanggil tim penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Jatim untuk dimintai keterangan, Selasa (13/04/2021) di Mapolda Jatim.

Eben mengatakan, penyidik memberikan 14 pertanyaan dalam pemeriksaan yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB hingga 14.30 WIB. Dan pertanyaan-pertanyaan tersebut terkait status keanggotaan Nurhadi di organisasi AJI Surabaya.

Selain itu, lanjutnya, penyidik bertanya apakah kedatangan Nurhadi di gedung resepsi pernikahan putra Angin Prayitno Aji dengan putri Kombes Pol Ahmad Yanisana pada 27 Maret 2021 lalu, tanpa surat undangan itu tidak melanggar peraturan yang berlaku di organisasi AJI.

“Di kalangan jurnalis, yang dilakukan Nurhadi saat datang ke acara tersebut tanpa pemberitahuan merupakan bagian dari investigasi untuk mengejar klarifikasi kepada Angin yang telah ditetapkan KPK sebagai tersangka atas kasus dugaan menerima suap,” terang Eben.

Ia menambahkan, Nurhadi datang di lokasi juga dengan persiapan khusus, misalnya mengenakan busana batik seperti halnya tamu pesta pernikahan pada umumnya.

“Jadi dalam hal ini, apa yang dilakukan Nurhadi tidak melanggar peraturan yang berlaku di AJI, baik itu Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Peraturan Organisasi, maupun kode etik jurnalis yang diakui oleh AJI,” terang Eben.

Maksud kedatangan Nurhadi di Gedung Graha Bumimoro itu tiada lain untuk minta keterangan dari Angin Prayitno Aji. Sebab selama itu Tempo belum berhasil mendapatkan kesempatan melakukan wawancara dengan Angin terkait kasus tersebut.

“Justru kedatangannya ke sana sebab ada tanggung jawab dari Kode Etik di mana pemberitaan harus berimbang. Semua pihak, termasuk tersangka diberikan kesempatan untuk menjelaskan kasus yang dihadapinya,” tuturnya.

Terkait kedatangan tanpa undangan, sudah jelas Nurhadi datang mengenakan pakaian selayaknya tamu pada umumnya. Bahkan, Eben menyebut jika itu suatu teknik metode investigasi. Cara-cara tersebut merupakan hal yang lazim saat melakukan liputan investigasi guna mengungkap isu-isu yang menjadi kepentingan publik.

Selain itu, Nurhadi juga sudah mengaku sebagai jurnalis. Sayangnya, justru tindakan oknum aparat yang melakukan kekerasan kepada Nurhadi sepatutnya tidak terjadi, jika merasa keberatan seharusnya cukup diminta pergi saja.

“Toh pada akhirnya Nurhadi juga mengaku sebagai jurnalis. Dan jika memang ada keberatan terhadap kedatangannya, maka seharusnya cukup diminta pergi. Tidak perlu sampai dianiaya dan dirusak peralatan kerjanya,” pungkas Eben.

Kasus ini masuk pelaporan pada 28 Maret 2021 di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), Mapolda Jawa Timur, dengan nomor laporan LP-B/176/III/RES.1.6/2021/UM/SPKT Polda Jatim.

Hingga kini, polisi masih melakukan penyelidikan dan belum menetapkan tersangka kendati Nurhadi dan sejumlah saksi serta terduga pelaku telah diperiksa. @wendy