LENSAINDONESIA.COM: Penganiayaan terhadap Nurhadi jurnalis Tempo Surabaya yang dilakukan beberapa oknum aparat, harus dijadikan momentum konsolidasi bersama oleh semua pihak yang pro terhadap demokrasi.

Pernyataan Ketua AJI Surabaya, Eben Haezer ini juga diamini oleh Pimpinan Redaksi Tempo.co, Setri Yasa. Sebab, penganiayaan yang dialami Nurhadi merupakan representasi dari situasi pers di Indonesia yang masih berada di bawah bayang-bayang kekerasan.

“Apa yang dialami Nurhadi, bisa terjadi pada wartawan di mana saja, apapun medianya dan apapun organisasi profesinya. Jadi benar kalau memang ini seharusnya dijadikan momentum untuk mewujudkan konsolidasi untuk mendorong penegakan kemerdekaan pers di Indonesia,” ujar Eben dalam keterangan tertulisnya, Rabu (14/04/2021).

Nantinya dalam waktu dekat, lanjut Eben, Aliansi Anti Kekerasan Terhadap Jurnalis akan menggelar pertemuan dengan elemen masyarakat pro demokrasi.

Dalam pertemuan tersebut, pihaknya akan merumuskan untuk pemberian penawaran kebijakan yang bisa diadopsi oleh pemerintah dan aparat penegak hukum, untuk memastikan agar kemerdekaan pers terjamin.

“Kami akan mengajak berbagai elemen, baik organisasi profesi jurnalis maupun organisasi-organisasi pro demokrasi untuk berkonsolidasi dan merumuskan tawaran kebijakan. Setidaknya kami berharap bisa mendorong Kapolri untuk membuat Perkap yang isinya bertujuan untuk mendorong perlindungan terhadap kerja-kerja Jurnalistik dan penguatan implementasi Undang-undang Pers nomor 40 tahun 1999,” tandasnya.

Diketahui, Nurhadi menjadi korban penganiayaan sejumlah oknum aparat, saat melakukan reportase di Gedung Samudra Bumimoro, Sabtu (27/3/2021) malam, sebab hendak meminta keterangan terkait kasus dugaan suap yang dilakukan oleh bekas Direktur Pemeriksaan Ditjen Pajak Kemenkeu, Angin Prayitno Aji yang sedang ditangani KPK. @wendy