LENSAINDONESIA.COM: Mutasi Sars-CoV-2 hingga kini masih terus berlanjut. Bahkan kemunculan virus COVID-19 varian baru E484K beberapa waktu lalu disebut-sebut lebih ganas.

Pakar Imunologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr. Agung Dwi Wahyu Widodo mengatakan, virus tersebut dapat menghindar dari beberapa antibodi.

“Dijelaskan oleh penelitian Widera dkk, beberapa monoklonal antibodi gagal mendeteksi keberadaan atau melakukan netralisasi pada virus yang memiliki Varian E484K,” kata Dr. Agung, Kamis (15/04/2021).

Menurutnya, varian E484K telah mengalami mutasi pada asam amino glutamic acid. Dimana mutasi tersebut, berada dekat dengan puncak spike, sehingga struktur protein pada spike berubah dan perubahan itulah yang menyebabkan virus dapat menghindar dari antibodi COVID-19.

Terkait efektifitas vaksin terhadap varian E484K, Dr. Agung mengungkapkan, usai dilakukan tes netralisasi, beberapa vaksin menunjukkan hasil yang cukup bagus. Terutama pada orang yang sudah divaksin.

Tetapi, efek netralisasi mengalami penurunan pada varian yang memiliki mutasi E484K. Seperti pada Pfizer dan Moderna. Sedangkan Johnson & Johnson, Astrazeneca, dan Novavax dilaporkan mengalami penurunan yang lebih daripada Pfizer dan Moderna.

“Beberapa sampel dari pasien yang sudah terinfeksi COVID atau vaksin Sera juga mengalami proses penurunan. Tepatnya pada mekanisme netralisasi ketika dilakukan pemeriksaan memakai Varian E484K,” jelasnya.

Ia juga menyebut, jika varian E484K memang lebih ganas, namun gejala yang ditimbulkan mirip dengan gejala varian lain yang pernah ada.

“Pada umumnya, varian-varian tersebut mudah menular. Hal itulah yang menyebabkan jumlah pasien meningkat,” tuturnya.

Ia menambahkan, jika peningkatan jumlah pasien tidak segera ditangani, angka kematian dan mortalitas akan melonjak. “Pada varian ini, gejala klinis yang muncul mirip dengan Varian B117, B1351 Afrika Selatan dan P1 Brazil. Derajat keparahannya juga tidak berubah,” ujarnya.

Sedangkan, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi Varian E484K adalah dengan monitoring surveilans. Menurutnya monitoring surveilans perlu dilakukan terutama pada kasus yang ada di masyarakat.

Penerapan protokol kesehatan (Prokes) 5M, seperti memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilisasi, juga harus tetap diterapkan secara ketat.

Sebab, selama virus masih terus menginfeksi manusia, mutasi Sars-CoV-2 akan tetap berlanjut. Artinya bahaya masih mengancam masyarakat.

“Mutasi apapun memang berbahaya. Tapi mau mutasi bagaimana pun, cara mencegahnya sama, yaitu dengan 5M,” jelasnya.

Dia juga menyarankan pemerintah agar mempercepat vaksinasi massal pada masyarakat dan gencar mengedukasi Prokes 5M. Sehingga, hal-hal yang tak diinginkan dapat dihindari.

“Yang tak kalah penting yakni menyiapkan sarana dan pra sarana untuk mengakomodasi seandainya terjadi peningkatan kasus. Vaksinasi juga harus dilakukan lengkap serta edukasi terkait 5M harus terus digencarkan,” pungkasnya.

Diketahui, COVID-19 varian E484K atau Varian EEK di Indonesia pertama kali terdeteksi di wilayah DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Virus ini merupakan mutasi yang membantu Corona untuk menyebar.@wendy

 

#satgascovid19
#ingatpesanibu
#ingatpesanibupakaimasker
#ingatpesanibujagajarak
#ingatpesanibucucitangan
#pakaimasker
#jagajarak
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitangan
#cucitangandengansabun