LENSAINDONESIA.COM: Minggu ini dunia dikejutkan berita India mengalami serangan kedua covid-19. Secara nasional, dilaporkan 261.500 kasus baru pada Minggu 19 april 2021. Ini menjadikan jumlah total kasus Covid-19 hampir 14,8 juta, kedua terbanyak setelah Amerika Serikat yang melaporkan lebih dari 31 juta infeksi.

Kematian harian akibat Covid-19 di India naik dengan rekor 1.501, menjadikan total kematian 177.150. (Reuter 2021). Akibatnya seluruh rumah sakit di India penuh sesak dengan pasien covid-19. Bahkan banyak yang memaksakan satu bed digunakan dua pasien karena keterbatasan yang ada.

Padahal India mengklaim telah menyuntikkan lebih dari 100 juta dosis vaksin covid-19 kepada penduduknya. Dengan jumlah penduduk lebih dari 1,3 milyar, vaksinasi covid-19 tersebut memang belum memenuhi syarat kekebalan kelompok (herd immunity) sebesar 70 persen dari populasi.

India begitu dahsyat mengalami serangan gelombang kedua covid-19 akibat faktor abainya masyarakat terhadap protokol kesehatan. Keputusan Pemerintah India melonggarkan aturan kerumunan massa, menyebabkan berbagai kerumunan merebak di berbagai wilayah di India.

Berbagai acara pernikahan dan perayaan acara keagamaan seperti upacara mandi suci di sungai Gangga yang dipercaya dapat menyucikan tubuh dan jiwa serta mendatangkan berkah dewa dituding biang berkumpulnya jutaan orang tanpa protokol kesehatan sehingga ledakan penularan Covid-19 terjadi. Keadaan makin parah dengan merebaknya varian baru Covid-19 yang daya serangnya tinggi.

Petugas di India yang sempat terlena setelah sebaran Covid-19 otomatis kelabakan dan tak siap menghadapi serangan gelombang kedua.

*Covid-19 di Indonesia*
Merujuk pada laman covid19.go.id, hingga pekan ini, total penderita Covid-19 di Indonesia mencapai lebih dari 1,6 juta orang dengan angka kesembuhan mencapai 90,2 persen, atau 1,45 juta orang.

Vaksinasi yang sudah dijalankan lebih 10,8 juta dosis tahap satu dan 5,9 juta lebih dosis tahap dua. Dari grafik data harian KPCPEN, penderita covid-19 sejak Maret 2020 hingga pertengahan April 2021 ini, merangkak naik cukup signifikan mulai Desember 2020 dan sampai puncaknya pada akhir bulan Januari 2021. Bisa dikatakan Januari sebagai puncak serangan gelombang pertama covid-19 di Indonesia. Selanjutnya mulai turun dan melandai pada Pebruari dan Maret 2021.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menyatakan pekan ini di Indonesia terjadi penurunan kasus sebesar 14,2 persen dan penurunan 17,6 persen angka kematian. Data ini menjadi indikasi telah melandainya Covid-19 di Indonesia, dan disambut sebagai masa relaksasi bagi sebagian nakes dan relawan yang bertugas. Mereka sejenak bisa rehat melepaskan beban dan kejenuhan setahun menangani pasein covid-19.

*Waspada serangan kedua*
Berkaca pada kondisi India, Indonesia harus waspada terhadap kemungkinan kembalinya serangan covid-19 (gelombang kedua). Pemerintah memang sudah menjalankan vaksinasi Covid-19 yang menyasar lebih dari 10,8 juta orang. Namun angka tersebut masih jauh dari target pemerintah dan syarat 70% herd immunity dari 271 juta penduduk Indonesia. Setidaknya perlu 189,7 juta vaksinasi bagi masyarakat untuk mewujudkan adanya kekebalan kelompok. Melihat kenyataan tersebut, proses vaksinasi hendaknya tidak dijadikan sandaran yang kuat untuk lengah dan menyepelekan Covid-19. Efektifitas vaksin harus dipandang bukan sebagai kepastian bahwa yang sudah divaksinasi pasti aman dan tidak mungkin terpapar Covid-19. Pemahaman ini harus disampaikan kepada mereka yang sudah menjalani vaksinasi, agar tidak merasa sudah kebal lalu abai menjalankan protokol kesehatan.

Tidak dipungkiri dengan semakin menipisnya anggaran penanggulangan covid-19, pelaksanaan 3T tidak semarak seperti awal-awal masa pandemi Covid-19. Kini konfirmasi covid-19 lebih banyak mengandalkan kesadaran masyarakat melakukan tes sendiri saat merasakan gejala covid-19.

Bahkan di kalangan masyarkat sendiri pada akhir-akhir ini, yang merasakan gejala ringan sudah langsung menjalankan isolasi mandiri dan tidak melaporkan kondisinya ke faskes terdekat. Indikator lain yang perlu dicermati adalah pasien masuk rumah sakit dengan gejala ringan jumlahnya sudah tidak banyak. Namun yang bergejala berat/parah masih banyak masuk rumah sakit dan biasanya sudah pada kondisi kritis sehingga tingkat kematian masih tinggi.

Perlu sistem koordinasi dan pelaporan yang baik untuk menjembatani antara perkembangan positif kesadaran partisipasi masyarakat menghadapai Covid-19 (inisiasi isolasi mandiri, penanganan mandiri bagi OTG dan gejala ringan) dengan kevalidan dan kesesuaian data mengenai penderita covid-19 sehingga menjadi acuan bagi perancang dan penentu kebijakan penangan covid-19. Monitoring dari faskes terdekat tetap harus dijalankan sehingga tidak muncul kasus-kasus penderita covid-19 terlambat ditangani dan baru dibawa ke puskesmas/rumah sakit pada kondisi berat/kritis.

Memasuki Ramadhan, sebagian besar penduduk Indonesia yang mayoritas muslim tentunya akan menjalankan ibadah puasa serta beragam ibadah tambahan lainnya. Sudah banyak petunjuk dan panduan menjalani ibadah di bulan Ramadhan bagi penderita Covid-19, penyintas maupun masyarakat umum selama masa pandemi.

Yang perlu diwaspadai adalah pelaksanaan protokol kesehatan selama menjalankan ibadah puasa dan ibadah penyerta lainnya. Tetap memakai masker selama beraktifitas di tempat umum, sering melakukan cuci tangan dan selalu menjaga jarak sangat penting dijalankan baik saat sahur, berbuka puasa, hingga sholat berjamaah pada pelaksanaan sholat fardhu maupun sholat tarawih.

Acara yang menimbulkan kerumunan, apalagi saat makan bersama baik saat sahur maupun berbuka hendaknya dihindari untuk kebaikan bersama. Juga nantinya saat lebaran.

*Konsisten menjalankan protokol kesehatan*

Ibadah puasa Ramadhan yang dipungkasi dengan perayaan Idul Fitri identik kumpul, makan bersama dan berlibur serta berkunjung di tempat wisata.

Pada kondisi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung sekarang ini, semua pihak harus bisa menahan diri untuk sementara menghindari dan tidak melakukan berbagai aktifitas yang menimbulkan kerumunan. Hal ini sebagai langkah antisipasi dari potensi penularan Covid-19.

Apa yang diputuskan pemerintah pada momentum lebaran untuk tidak dijalankannya tradisi mudik sudah tepat. Ini merupakan langkah antisipatif menutup potensi penyebaran ke pelosok daerah, dan kembali meningkatnya angka penderita covid-19.

Momentum perayaan hari besar agama, yakni Ramadhan dan lebaran jangan sampai menjadi pemicu dan peluang serangan Covid-19 gelombang kedua, seperti hanya di India.

Kuncinya di protokol kesehatan. Vaksinasi harus dipahami sebagai langkah antisipasi bagi masing-masing individu, bukan merupakan jaminan kepastian kekebalan dari serangan Covid-19. Tetap memakai masker saat beraktifitas di tempat umum, sering mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, terutama saat akan makan maupun memegang benda-benda yang mudah diakses umum. Menjaga jarak saat bertemu atau berkumpul dengan orang lain merupakan langkah utama dalam menghindari penularan Covid-19. Selama menjalani aktifitas peribadatan utamanya dalam bulan ramadhan hendaklah tetap menghindari dan menjauhi kerumunan. Tanpa pelaksanaan protokol kesehatan yang masif dan menyeluruh serta konsisten, maka momentum lebaran dapat memicu merebak dan meningkatnya kembali serangan Covid-19 di Indonesia hingga dapat menjadi serangan besar gelombang kedua, seperti halnya yang terjadi di India. Semoga tidak.

Oleh Radian Jadid
Penyintas Covid-19, Pendonor Plasma Konvalesen #6
Sekretaris KPPK (Komunitas Pendonor Plasma Konvalesen),
Ketua Relawan Pendamping Keluarga Pasien Covid-19 RS Lapangan Indrapura Surabaya