LENSAINDONESIA.COM: Atlet-atlet Jawa Timur memasang harapan tinggi kepada Pemerintah Provinsi Jatim untuk dapat memberikan dukungan penuh terhadap skuad Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) yang akan berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2021 di Papua.

Harapan tersebut disampaikan karena informasi terjadi kembali pemotongan anggaran Puslatda Jatim yang dilakukan oleh pemprov.

Sejatinya, awal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jatim menganggarkan Rp425 miliar, lalu turun menjadi Rp390 sekian, dan akhirnya disepakati Rp192 miliar.
Namun, setelah digedok ternyata masih ada perubahan karena dipotong lagi oleh pemprov sebesar Rp23 miliar membuat anggaran tersisa Rp169 miliar.

Hal tersebut membuat KONI Jatim harus kembali berhitung mengubah rancangan anggaran yang sudah disiapkan untuk menjalankan program finalisasi persiapan. Karena itu, ada beberapa yang terancam seperti peniadaan training camp (TC) dan try out (TO) luar negeri, bisa berimbas pemotongan uang makan, dan pemotongan gaji atlet, mungkin juga pemangkasan cabang olahraga yang diberangkatkan ke Papua.

Salah satu atlet dari cabang olahraga senam, Rozanah Gozana mengaku kecewa karena anggaran tersebut sangat penting dalam hal pemantapan persiapan atlet. Apalagi, target yang dibenbankan adalah juara umum, sehingga butuh upaya ekstra untuk mempersiapkan diri melalui program yang disusun tim pelatih.

“Kalau dana untuk pelaksanaan program tersebut dipotong kan akan mempengaruhi semuanya yang telah direncanakan. Bukan hanya KONI tapi semua tergabung dalam KONI seperti kami salah satunya atlet yang berjuang membawa nama Jatim,” ujar atlet yang akrab disapa Oca itu.

Karena itu, ia sangat berharap ada kebijakan yg lebih baik lagi dari Pemprov Jatim mengingat jadwal PON sudah semakin dekat.

“Masa pemerintah lupa target kita bersama kan merebut juara umum, kalau begini kan banyak program yang menunjang tersebut dipres seminim mungkin. Bagaimanapun juga kita akan fight sih,” ungkapnya.

Kekecewaan juga dirasakan oleh atlet atletik, Heru Astriyanto karena pasti akan mempengaruhi persiapan tim pasca sebelumnya puslatda melakukan latihan dengan skema new normal tanpa adanya lawan tanding.

“Persiapan menuju PON pasti terkendala karena di tiadakannya kegiatan-kegiatan try out luar negeri atau training camp luar negeri,” tutur Heru.

Walau begitu, ia mengaku akan tetap menerima apapun keputusannya karena atlet harus menunjukkan semangat pantang menyerah dalam kondisi apapun dalam mencapai impian bersama.

“Saya berharap supaya pemerintah tetap menaruh harapan pada atlet-atletnya. Indikasi negara yang sehat adalah atletnya hebat di semua cabor,” imbuhnya.@fredy