LENSAINDONESIA.COM: Nuansa sakral kian kental ketika rombongan kirab berjalan perlahan melintasi basahnya jalan Supit Urang. Suara gamelan dan alunan tembang Macapat berpadu mesra dengan semburat cahaya temaram yang berasal dari lampu-lampu ting atau lentera yang dibawa oleh para Abdi Dalem. Sedangkan sejumlah Abdi Dalem yang lain terlihat membawa jodang (kotak kayu) yang berisikan makanan.

Inilah gambaran suasana Kirab Malem Selikuran Pasa 1954 Jimakir atau peringatan malam ke-21 Ramadhan tahun 2021 yang digelar oleh Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Minggu (2/5/2021) malam.

Gelaran tradisi yang dimulai sekitar pukul 21.30 WIB tersebut, diawali dengan kirab yang diikuti oleh sekitar 150 orang yang terdiri dari para keluarga, kerabat, dan Abdi Dalem Kraton Surakarta. Dimulai dari Kraton Surakarta, rombongan kirab yang terbagi dalam beberapa kelompok itu berjalan menuju Kagungan Dalem Masjid Agung Kraton Surakarta.

Sesampainya di Masjid Agung, satu persatu peserta kirab duduk di lantai masjid dengan tertib, kemudian memulai pembacaan doa dan zikir. Pembacaan doa dipimpin Penghulu Tafsir Anom Masjid Agung Surakarta, KRAT. Moh. Muhtarom.

Pengageng Parentah Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH. Drs. Adipati Dipokusumo, M.Si. mengatakan, ritual tradisi Malem Selikuran adalah peringatan memasuki 10 hari terakhir Ramadhan. Sedangkan untuk Kirab Lampu Ting melambangkan 1000 bulan atau malam Lailatul Qadar.

“Jodang berisi makanan itu yang disebut Tumpeng Sewu, juga melambangkan malam seribu bulan, yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan,” kata adik Raja Surakarta, SISKS Pakoe Boewono XIII tersebut.

Meski diikuti oleh cukup banyak orang, namun para peserta kirab tampak tertib dalam menerapkan protokol kesehatan, seperti tetap mengenakan masker selama kegiatan berlangsung, serta bergiliran mencuci tangan terlebih dahulu saat memasuki Masjid Agung.

Acara Kirab Malem Selikuran Pasa 1954 Jimakir ditutup dengan pembagian tumpeng sewu kepada seluruh peserta. @Lisor