Penurunan jumlah penderita COVID-19 di Indonesia ini masih dibayang dengan kondisi di India yang mengalami ‘tsunami’ COVID-19 sebagai serangan dashyat gelombang kedua dengan angka penularan mencapai 1,65 juta dalam waktu sepekan terakhir.

Indonesia baru saja menyelesaikan puncak serangan COVID-19 gelombang pertama pada medio Januari-Pebruari 2021 (Kemenkes, 2021) dan sekarang pada kondisi yang cukup melandai. Namun penurunan jumlah penderita COVID-19 di Indonesia ini masih dibayang dengan kondisi di India yang mengalami ‘tsunami’ COVID-19 sebagai serangan dashyat gelombang kedua dengan angka penularan mencapai 1,65 juta dalam waktu sepekan terakhir. Total kasus COVID-19 di India telah mecapai 20,2 juta orang (Voa, 2021). Malaysia dalam seminggu ini juga mengalami kondisi yang mengarah kepada meningkatnya serangan COVID-19 dengan kemungkinan varian baru yang lebih cepat daya tularnya dan lebih parah daya rusaknya. Bagaimana membangun kesiapan dan ketangguhan masyarakat dalam mengantisipasi kemungkinan lonjakan COVID-19 di Indonesia?

Pencegahan sebelum sakit
Upaya pencegahan sebelum sakit (primary prevention) merupakan hal utama dan langkah awal yang paling mudah, minim biaya dan paling realistis untuk segera dilaksanakan. Upaya ini dapat dilakukan melalui dua langkah utama. Pertama melalui promosi/peningkatan kesehatan (health promotion) yakni dengan melakukan upaya terus menerus tentang pendidikan dan kesadaran kesehatan terkait COVID-19 yaitu upaya 3M atau 5M. Juga dilakukan pembuatan protokol-protokol kesehatan seperti protokol keluar dan masuk rumah, protokol tempat kerja, protokol pendidikan, protokol tempat wisata, travel warning, dan lain sebagainya, yang semuanya didokumentasi dengan baik dan disebarkan kepada masyarakat melalui berbagai media. Pemberian jaring pengaman sosial sangat diperlukan untuk membantu keluarga miskin dan rentan agar meringankan beban mereka selama pandemi COVID-19. Anjuran untuk menjaga imunitas tubuh perlu digalakkan.

Beragam cara untuk meningkatkan immunitas dimana dilingkungan kita banyak herbal untuk bisa memberikan rasa nyaman di badan dan dapat memacu serta meningkatkan immunitas. Contohnya minuman campuran jahe, kencur, jeruk dan sedikit madu bisa mempercepat menyembuhkan batuk pilek. Banyak lagi khasanah kekayaan dan kearifan lokal yangbisa dimanfaatkan untuk itu. Anjuran makan makanan dengan pedoman gizi seimbang, istirahat yang cukup, olah raga yang teratur sesuai porsi dan kekuatan tubuh, memelihara hubungan yang baik antar anggota keluarga, tetangga dan teman kerja, harus terus didengungkan. Anjuran menata perumahan sehat serta upaya menggerakkan kembali desa/kelurahan tangguh/siaga aktif tidak boleh berhenti dan harus selalu dijalankan secara konsisten.

Kedua melalui langkah khusus pencegahan/preventif (special protection) yakni khusus berkenaan dengan COVID-19. Anjuran memakai masker, face shield, jaket pelindung diri, topi Corona, menjaga physical distance, mencuci tangan pakai sabun (CTPS) dan air mengalir dan menggunakan hand sanitizer, mengurangi mobilitas, stay at home, work from home, school from home, jangan sentuh wajah sebelum CTPS, serta anjuran menghindari kerumunan merupakan langkah efektif pencegahan penularan COVID-19. Ditambah dengan anjuran semprot dengan antiseptik atau upaya desinfeksi ruang lainnya (UV-C, Ionizer, filter HEPA), penggunaan APD bagi petugas (level-1, level2, level-3), imunisasi dengan vaksin COVID-19 setidaknya bagi 185 juta (70%) penduduk untuk menciptakan herd immunity serta upaya membangun pertahanan berlapis oleh pemerintah, swasta dan masyarakat, maka upaya pencegahan khusus COVID-19 ini akan dapat dioptimalkan.

Pencegahan sedang sakit
Pencegahan bagi yang sedang sakit (secondary prevention) sebagai lapis kedua pencegahan juga diperlukan dalam mengantisipasi merebaknya COVID-19. Deteksi dini (early case finding) dan penangan serta pengobatan yang cepat dan tepat (prompt threatment) merupakan tahapan dimana dilakukan tindakan tertentu untuk mengetahui munculnya penyebab penyakit. Dengan mengetahui lebih dini maka kita akan mampu merencanakan tindakan pengobatan (kuratif) selanjutnya. Ini dapat dilakukan melalui pemeriksaan contact survey (kontak erat) atau cluster dengan Rapid test / RT-PCR / TCM / Rapid Abtigen dll. Juga melalui pemeriksaan mass screening dengan Rapid test / RT-PCR / TCM di tempat-tempat umum serta penanganan dan isolasi pasien di RS COVID-19, serta penyediaan tempat karantina bagi para suspect COVID-19. Proses karantina jugaharusdilakukan secara berlapis mulai dari negara, provinsi (PSBB), kabupaten/kota, lingkungan, RS Karantina, serta karantina mandiri di rumah,sebagai upaya penyekatan dan lokalisasi pergerakan penyebaran virus COVID-19.

Pengobatan yang tepat melalui upaya menemukan berbagai obat untuk penanganan pasien COVID-19 harus terus diupayakan. Sebagai penyakit baru, maka riset dan penelitian harus selalu menyertai pergerakan dan perkembangan COVID-19 sehingga hasil kajian dan penemuan mutakhir tentang karakteristik COVID-19 beserta cara mengatasi dan menyembuhkannya dapat diupayakan segera. Peningkatan kapasitas rumah sakit dan ketersedian serta kehandalan alat kesehatan merupakan hal mutlak yang harus terus dilakukan. Hal ini juga perlu ditunjang dengan penyempurnaan dan kerapian sistem rujukan berjenjang (case holding) fasilitas kesehatan yang ada. Sistem terintegrasi dan terpusat pada seluruh fasilitas kesehatan yang ada mulai dari Pustu (puskesmas pembantu), Puskesmas/PKM, RS primer (C), RS sekunder (B) dan RS tersier(C) serta rumah sakit khusus COVID-19, akan sangat membantu dalam klasterisasi penanganan pasien COVID-19.

Pengobatan yang tidak layak dan tidak sempurna dapat mengakibatkan orang yang bersangkutan cacat atau ketidak mampuan. Untuk itu diperlukan upaya pembatasan kecacatan (disability limitation) melalui berbagai terobosan dan penelitian lanjutan. Penemuan metode pengobatan lanjutan bagi penderita COVID-19 melalui senam paru-paru, terapi plasma konvalesen serta penemuan metode pengobatan komplikasi seperti pengobatan badai sitokin, ARDS (acute respiratory distress syndrome) atau gangguan pernapasan berat yang disebabkan oleh penumpukan cairan di alveoli, merupakan beragam upaya dalam rangka mengatasi serta mengantisipasi dampak lanjutan yang mungkin timbul pasca serangan COVID-19, yang kesemuanya harus sudah dijalankan seiring berkembangnya COVID-19.

Pencegahan setelah selesai sakit
Data dari covid19.go.id menunjukkan jumlah pasien sembuh atau penyintas COVID-19 di Indonesia sudah melebihi angka 1,5 juta orang. Untukitu perlu pula upaya pencegahan setelah selesai sakit (tertiary prevention) bagi para penyintas COVID-19 sehingga tidak terpapar kembali ataupun menjadi perantara penyebaran COVID-19. Selain tetap menjalankan upaya pencegahan seperti halnya sebelum sakit (primary prevention) maka bagi para penyintas COVID-19 juga perlu dilakukan proses rehabilitasi (rehabilitation) sebagai proses untuk membantu mereka yang memerlukan kemampuan medis untuk mencapai kemampuan fisik, psikologis dan sosial yang maksimal. Hal itu dapat diuapayakan melalui berbagai aktifitas bagai para penyintas COVID-19. Mereka bisa didorong dan difasilitasi untuk bisa berkumpul/berorganisasi sebagai wahana mengekpresikan diri dan memperkuat eksistensi penyintas COVID-19. Komunitas atau alumni penyintas COVID-19 dapat digalang, dimotivasi dan diarahkan untuk menjadi pendonor plasma konvalesen. Mereka yang sejatinya telah menjalani langsung terpapar,menderita dan mencapai kesembuhan dari COVID-19, merupakan potensi besar untuk sosialisasi dan penyadaran ke masyarakat akan pentingnya menyikapi dan mewaspadai COVID-19. Update perkembangan COVID-19 perlu terus dilakukan. Untuk itu perlu juga disiapkan penyediaan fasilitas untuk training bagi penyintas COVID-19 dan juga petugas kesehatan. Penyuluhan kesehatan lanjutan dan advokasi kebijakan kesehatan untuk memperkuat strategi percepatan penanganan COVID-19, penggalangan peran serta masyarakat dan sektor swasta, serta penggalangan relawan COVID-19, masih terus dan sangat diperlukan.

Pencegahan pemborosan
Tidak bisa dipungkiri bahwa penanganan dan dampak COVID-19 telah menyedot anggaran yang luar biasa besar dari kas negara dan juga keuangan di berbagai sektor. Pengalihan anggaran hingga 50 persen untuk penangan COVID-19 baik pada APBN mapun APBD provinsi dan kota juga sudah diputuskan oleh pemangku kebijakan. Besarnya anggaran tersebut tentunya harus dikelola dan dipergunakan dengan baik sehingga nilai kemanfaatan dalam penanganan COVID-19 dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu perlu upaya pencegahan pemborosan (quaternary prevention) sebagai langkah antisipatif. Beban biaya tinggi kesehatan biasanya dikarenakan masih besarnya ketergantungan akan obat dan alat yang bersumber pada pengadaan dari luar negeri. Untuk itu upaya penemuan, penciptaan, peningkatan, inovasi serta terobosan dalam hal obat dan alat kesehatan dalam negeri harus dikawal dan didukung penuh utamanya oleh pemerintah dan masyarakat. Upaya produksi rapid test RI GHA 19, GeNose, I-nose, upaya pembuatan ventilator produksi dalam negeri (PT Pindad, PT Indofarma, PT GTM, PT EMB dll oleh 28 perusahaan) untuk mengurangi belanja impor adalah langkah yang tepat. Upaya diversifikasi produk APD oleh masyarakat dan indusri tekstil (PT Sritex, dll), upaya produksi vaksin oleh Biofarma dan lembaga Eijkman serta upaya produksi obat-obatan oleh Kimia Farma harus didukung dalam rangka efisiensi dan penghematan serta peningkatan kepercayaan diri akan kemampuan dan kehandalan SDM dan produk dalam negeri. Kunci dari itu adalah kendali mutu dan biaya. Selama pemantauan, pengawasan dan pengendalian mutu atas produk tersebut dapat dijalankan maka kehandalannya tidakakan kalah dengan produk luar negeri.

Kekuatan dan ketangguhan bersama
COVID-19 tidakakan bisa diselesaikan secara parsial oleh masing-masing pihak. COVID-19 harus diatasi bersama melalui komunikasi dan koordinasi yang terbuka,terus menerus dan berkelanjutan. Melalui upaya-upaya penguatan ketangguhan masyarakat menghadapi COVID-19 tersebut, bebannya tidak hanya bertumpu pada pemerintah, tapi dapat terdistribusi kemasyarakat melalui beragam partisipasi yang ada sehingga semua dapat bersinergi dan berkolaborasi. Dengan demikian maka harapan agar pandemi COVID-19 di Indonesia dapat berakhir akan segera tercapai. Semoga.

Oleh:


Dr. Christrijogo Sumartono W, dr., Sp.An. KAR, KIC
Dokter Senior di FK Unair dan RSUD Dr Soetomo,
DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pasien) RS Lapangan Indrapura Surabaya