LENSAINDONESIA.COM: Israel memanas! Koalisi oposisi parlemen pimpinan Yair Lapid akan mengakhiri era pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan membentuk pemerintahan baru.

Upaya menggulingkan Netanyahu ini menyusul kegagalan militer Israel baru-baru ini dalam menghadapi kelompok perlawanan Palestina di Jalur Gaza. Politisi rezim mencapai kesepakatan untuk membentuk pemerintahan koalisi, yang dapat mengakhiri pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, pemimpin terlama rezim tersebut.

Netanyahu (71) yang sedang menghadapi persidangan atas tuduhan penipuan, penyuapan, dan pelanggaran kepercayaan, tetap memegang kekuasaan meski empat pemilu sebelumnya diwarnai kekacauan.

Terbaru, Partai Likud-nya meraih kursi terbanyak pada pemilu Maret, tetapi kembali gagal membentuk pemerintahan baru.

Yair Lapid yang merupakan mantan penyiar televisi, sekarang mencoba membangun koalisi saingan. Lapid sedang berusaha membentuk aliansi yang oleh media-media Israel disebut sebagai blok perubahan, yang akan mencakup garis keras nasionalis Naftali Bennett dan para anggota parlemen Arab-Israel.

Yair Lapid dilaporkan telah membuat tawaran pembagian kekuasaan kepada musuh politik pemimpin Yamina, Naftali Bennett, dimana mereka akan berbagi jabatan perdana menteri (PM).

The Jerusalem Post mengutip sumber yang berbicara ke Bennet, bahwa mereka bakal menjalani dua tahun masing-masing dari masa jabatan empat tahun.

Bennett akan bertugas hingga September 2023, setelah itu Lapid akan mengambil alih hingga masa jabatan berakhir pada November 2025.

Bennett dilaporkan memberi tahu Lapid tentang keputusannya pada Jumat, 28 Mei 2021. Hal tersebut dilakukan untuk membangun pemerintahan koalisi pada batas waktu Rabu, 26 Mei 2021, setelah PM Benjamin Netanyahu gagal melakukannya.

Namun, ada beberapa perselisihan dengan pihak Lapid Yesh Atid yang masih belum terselesaikan, kata sumber di Yamina.

Lapid memiliki waktu seminggu untuk membawa pemerintah ke mosi percaya di Knesset begitu dia memberi tahu Presiden Reuven Rivlin bahwa dia berencana untuk membentuk pemerintahan.

Anggota Knesset di Yamina yang menentang koalisi dilaporkan akan diminta mengundurkan diri pada hari Senin untuk digantikan oleh kandidat yang akan memberikan suara mendukung pemerintah.

Lawan Netanyahu menuduhnya memecah belah dan memprioritaskan cengkeramannya pada kekuasaan di atas segalanya. Netanyahu telah menjadi PM sejak 2009. Ia juga menjabat posisi tersebut dari tahun 1996 hingga 1999.

Dia telah menjadi subjek berbagai investigasi korupsi, termasuk penyelidikan atas klaim bahwa dia menerima hadiah dari berbagai pengusaha, mengajukan undang-undang yang akan menguntungkan salah satu surat kabar utama Israel, dan mendukung peraturan yang lebih longgar dari perusahaan telekomunikasi Bezeq dengan imbalan liputan positif. Dia membantah semua tuduhan.

Bulan lalu, persidangan korupsi Netanyahu dilanjutkan di Pengadilan Distrik Yerusalem setelah dia mengaku tidak bersalah atas semua tuduhan yang diajukan terhadapnya selama sidang sebelumnya.

Jika terbukti bersalah, dia bisa menghadapi hukuman 10 tahun penjara karena penyuapan dan tiga tahun penjara karena penipuan dan pelanggaran kepercayaan. Namun, proses pengadilan diperkirakan akan memakan waktu bertahun-tahun untuk diselesaikan.@LI-13