LENSAINDONESIA.COM: Sejumlah pengrajin tahu tempe di Jawa Timur mengeluhkan harga bahan baku kedelai impor yang mengalami kenaikan. Merespon hal itu, Satgas Pangan Jatim terjun ke sejumlah agen dan distributor melakukan pengecekan.

Dirreskrimsus Polda Jatim, Kombes Farman, mengatakan saat pengecekan pihaknya berkoordinasi dengan Disperindag dan Dinas Pertanian.

Menurutnya, harga kedelai internasional sudah mengalami penurunan dari Rp 9.604 per kilogram menjadi Rp 9.220 per kilogram.

“Informasi dari PT Surabaya Palleting Company FPC, harga kedelai saat ini sudah mengalami penurunan dibanding bulan puasa dan lebaran yang tembus Rp 10.150 per kilogram di tingkat importir. Hari ini menjadi Rp 9.500 dan saat ini FPC memiliki stok kurang lebih 1.000 ton,” katanya, Kamis (3/6/2021).

Hal serupa juga ditemui saat melakukan pengecekan di PT FKS. Di sini harga kedelai impor Rp 10.100 per kilogram. “Ada pula informasi dari CV Jaya Tri Hutama Lumajang, salah seorang Agen kedelai. Hari ini dia menjual kedelai dengan harga Rp 10.300 per kilogram dan masih ada stok kurang lebih 40 ton dan beberapa hari terakhir permintaan kedelai turun karena harga yang masih tinggi,” imbuhnya.

Sementara informasi yang dihimpun Satgas Pangan, dari salah satu agen subdistributor kedelai di Tulungagung, per Kamis (3/6/2021) ini harga kedelai impor di agen sana mencapai Rp 10.500 per kilogram dalam kemasan 25 kilogram.

Sedangkan jika dijual eceran harganya harganya mengalami kenaikan menjadi Rp 10.750. Kemudian harga di distributor kedelai CV. Polowijo, Tulungagung menjual harga kedelai di Rp 10.300 per satu kilogram.

Menurut Kombes Farman, kenaikan ini disebabkan oleh tingginya permintaan kedelai impor di dalam negeri, kemudian harga kedelai yang diimpor dari Amerika dan Brazil mengalami kenaikan.

“Berdasarkan informasi dari importir dan distributor stok saat ini masih cukup, namun harga masih tinggi yang disebabkan oleh beberapa faktor, pertama harga internasional atau dari negara asalnya seperti Amerika dan Brazil sudah tinggi sedangkan Kebutuhan kedelai untuk bahan baku tahu tempe di dalam negeri 80% masih bergantung pada impor,” papar mantan Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya ini.

Faktor lain yaitu adanya kenaikan biaya transportasi pengiriman kapal, karena dampak dari pandemi Covid-19. “Biaya transportasi dari negara asal juga mengalami kenaikan karena masih sedikitnya perusahaan perkapalan yang beroperasi akibat pandemi Covid-19,” terangnya.

Nantinya, Kombes Farman akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan Disperindag Jatim untuk mengambil langkah terkait perlu atau tidaknya diadakan operasi pasar.

“Selain itu, kita juga senantiasa melakukan pengecekan langsung ke distributor-distributor di seluruh wilayah dengan memberdayakan satgas pangan tingkat kabupaten,” pungkasnya. @wendy