LENSAINDONESIA.COM: Kinanthi Batik Nusantara, sudah tidak asing lagi di kalangan para pecinta daster di Indonesia, terutama wilayah Jawa Timur. Keunikan konsep yang tertuang pada produk-produknya, membuat Kinanthi kian dilirik oleh kaum hawa dari segala lapis usia, mulai muda hingga paruh baya.

Semula Kinanthi hanya memproduksi daster bermotif batik. Namun, mengikuti trend pasar dan meningkatnya permintaan dari konsumen, Kinanthi pun menambah variasi produknya, seperti gamis, tunik dan baju anak.

Berawal dari seorang ibu rumah tangga bernama Pipin Ratnawati. Perempuan yang hobi mengenakan daster ini memiliki cita-cita untuk bisa menjual daster hasil ciptaannya sendiri.

“Berarti saya harus punya produk (daster) yang berbeda dengan yang ada di pasaran,” ujar Pipin saat dijumpai Lensaindonesia.com di kediamannya yang sekaligus menjadi kantor pusat operasional Gallery Kinanthi Batik Nusantara, di Dukuh Burak, Desa Tulung, RT.3 RW.4, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan.

Dari impiannya itulah, ia merintis produksi Batik Kinanthi. Menurutnya, jika kita membeli barang hanya karena sisi fungsional saja, maka cukup dengan harga murah kita bisa memiliki barang tersebut. Hal ini menjadi alasan kuat Pipin untuk menciptakan daster batik yang berkualitas bernilai jual tinggi.

Pipin mengatakan, ketika brand lain bisa menjual daster dengan harga terendah kisaran 30.000 hingga 50.000 rupiah, maka Kinanthi mampu menjual daster batiknya dengan harga di atas 100 ribu rupiah. Harga tersebut sebanding dengan kualitas produk yang dihasilkan.

Bahan dasar yang digunakan sebagai material produk memiliki konstruksi bahan yang padat di setiap serat kain, warna yang tidak mudah luntur dan hasil jahitan yang rapi. Dengan menggandeng 4 rumah produksi yang berlokasi di Sukoharjo dan Solo, tiap bulannya Kinanthi mampu menghasilkan ribuan lembar baju batik nan cantik.

Pipin mengaku, desain-desain batik yang diaplikasikan pada produk-produk Kinanthi adalah rancangan sendiri. Hal ini membuat Pipin semakin percaya diri untuk mengembangkan dan memajukan usaha yang telah digelutinya selama hampir dua tahun tersebut.

Tak mau tanggung-tanggung, Pipin selalu memastikan sendiri, setiap produk Kinanthi sudah melalui proses Quality Control (QC) yang ketat. Ia pun tidak segan untuk terjun langsung membantu 20 orang karyawannya.

Dengan sistem pemasaran yang berfokus pada online, Pipin berhasil meraup keuntungan hingga ratusan juta rupiah. Bahkan di bulan Ramadhan tahun 2021 ini, omzetnya mencapai 350 juta rupiah. Hal ini menunjukkan bahwa pandemi tidak terlalu berpengaruh pada usahanya.

“Mungkin karena semua ibu-ibu butuh penghasilan dan banyak pekerja dirumahkan,” ucapnya.

Sehingga banyak agen dan reseller Kinanthi yang mengikuti jejaknya, dengan mencari peruntungan melalui online shop. Hal ini sesuai dengan harapan Pinpin, yang memfokuskan Kinanthi pada penjualan secara online dalam jumlah besar. Untuk pembelian eceran akan dilayani oleh para reseller.

“Saya inginnya untung yang berkah dan bermanfaat bagi banyak orang,” kata Pipin.

Pipin juga mengatakan, sampai saat ini, Kinanthi memiliki 38 agen yang tersebar di beberapa kota di Indonesia, antara lain Surabaya, Jember, Probolinggo, dan juga Madiun. Target terbesarnya adalah Kinanthi memiliki distributor di setiap wilayah di Indonesia.

Pada hari jadinya yang pertama pada Desember 2020 lalu, Kinanthi sukses menggelar Jumpa Sahabat Kinanthi (JSK) yang dihadiri oleh seluruh agen Kinanthi. Program JSK tersebut menampilkan fashion show daster Kinanthi Batik Nusantara, yang rencananya akan menjadi agenda tahunan.

Ibu dari lima orang anak tersebut juga menyampaikan, ia memiliki impian untuk membuat batik yang dapat menjadi ikon Kabupaten Magetan.

Gak usah tenar, yang penting sangar ( tidak perlu terkenal, yang penting keren),” pungkasnya. @Limad