LENSAINDONESIA.COM: Beredarnya dua video berisi fitnah yang menyebut Hj. Endang Yuniati, istri dari pengasuh Pondok Pesantren Shiddiqiyyah, Ploso, Jombang KH Muchtar Mu’thi sebagai anak PKI dan Gerwani berdampak mengerikan.

Selasa 11 Mei 2021 sekitar pukul 17.00 WIB, kediaman Endang Yuniati yang berada di dalam lingkungan Pondok Pesantren Shiddiqiyyah digeruduk ratusan santri dan orang tak dikenal.

Suasana sekitar rumah yang dihuni Nyai Endang Yuniati berserta anak-anaknya tersebut menjadi sangat mencekam ketika sejumlah orang mulai melompat pagar dan menyegel pintu dan jendela dengan kayu yang dipaku. Saat kejadian itu, Nyai Endang Yuniati beserta anak, menantu dan cucunya sedang berada di dalam rumah.

Gus Qoim Liddinillah putra ketiga Nyai Endang Yuniati mengungkapkan, sebelum kejadian pengepungan dan teror itu belangsung, aliran listrik rumahnya yang berasal dari travo induk pondok pesantren mendadak padam. Praktis rumahnya menjadi gelap gulita dan CCTV di sekitar lokasi pun tidak berfungsi.

“Kejadian itu dua hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Listrik di rumah kami tiba-tiba padam, sementara di pesantren tidak. Padahal aliran listriknya menyambung pada travo yang sama,” kata Gus Qoim usai membuat pengaduan terkait fitnah dan pencemaran nama baik di Polda Jatim, Jl A Yani Surabaya, Jumat (04/06/2021).

Ketika dalam keadaan gelap itu, tepatnya habis Magrib, kata Gus Qoim, ratusan santri dan orang tak dikenal tiba-tiba datang mengepung rumahnya. Pada saatt kejadian beralangsung tidak ada satupun pengamanan dari aparat ataupun dari keamanan pondok sendiri.

“Karena listrik mati, 8 CCTV di sekitar rumah tidak berfungsi, sebagaian juga tampak seperti dirusak. Sementara ratusan santri dan orang tidak dikenal tidak dengan bebas mengepung rumah kami,” tambahnya.

Saat suasana mencekam itu, Nyai Endang Yuniati sempat keluar dari kamarnya dan memberitahukan ada beberapa orang yang sudah melompat pagar. Kata Gus Qoim, orang-orang tersebut kemudian melakukan penyegelan dua dari tiga jendela rumahnya dari luar menggunakan kayu yang dipaku, juga dengan menghadang pintu menggunakan jam lantai yang terbuat dari kayu besar.

“Setelah memberi tahu ada orang melopat pagar, ibu ibu sholat tarawih di kamar. Saat juga dari luar jendela terdengar suara seperti orang memaku, saat saya mau mencoba melihat keluar tidak bisa karena pintu juga tidak bisa dibuka. Akirnya kami keluar dari jendela yang belum disegel, ternyata dua jendela sudah dipaku menggunakan kayu yang dipalang. Dan pintu diganjel menggunakan jam lantai yang terbuat dari kayu besar,” ungkapnya.


Jendala rumah Hj. Endang Yuniati yang disegel orang tak dikenal. FOTO: doc.LICOM

Anehnya, ungkap Gus Qoim, orang-orang yang melakukan pengepungan itu saat ditanya maksud dan tujuannya. Mereka hanya mengarahkan kamera ponselnya untuk merekam.

“Karena mereka tidak menjawab, akhirnya kami menyingkirkan tumpukan barang dan jam yang mengganjal pintu. Dan setelah kami masuk tidak lama kemudian, dari luar terdengar suara bor, kami tidak bisa melihat karena selain gelap juga ditutupi triplek,” lanjutnya.

Pihaknya yang berusaha keluar dari jendela yang tidak tersegel, puluhan orang dari luar berusaha menahan sehingga terjadi saling dorong hingga kaca pecah. Saat itu, Gus Qoim bersama kelurga pun terkurung di dalam rumah.

“Karena saling dorong, kaca jendela pecah hingga mengenai dan melukai adik kami. Kami terkurung. Kami bisa keluar setelah pihak kepolisian dari Polsek Ploso dan Koramil datang,” katanya.

Saat itu, pihak keluarga sempat menghubungi petugas PLN untuk menyalakan lampu. Namun petugas PLN dilarang masuk ke oleh ratusan massa yang mengepung rumah di dalam pondok tersebut.

“Mereka (petugas PLN) akhirnya balik. Namun saat ada seorang petugas PLN yang sempat mengukur tegangan listrik dengan sebuah alat menyampikan bahwa aliran listrik ke rumah Nyai Endang Yuniati tegangannya dinaikkan yang seharusnya 2200 volt menjadi 3800 volt,” sehingga disarankan diputus bila tidak akan menyebabkan kebakaran,” ungkap Gus Qoim yang sehari-hari berkerja sebagai desain grafis ini.

Lampu penerangan kediaman Nyai Endang Yuniati baru bisa menyala sekitar pukul 21.00 WIB setelah pihak keluarga secara diam-diam mandapat bantuan genset. “Genset sempat tidak bisa dinyalakan karena tidak ada bahan bakarnya. Untungnya ada motor yang tangkinya besar milik teman, sehingga kami bisa ambil bensinya,” katanya.

Kata Gus Qoim, pengepungan rumahnya tersebut berlangsung selama dua hari. Bahkan salah satu massa terlihat membawa senjata tajam.

Lantas mengapa kasus pengepungan dan teror ini baru diadukan ke Polda Jatim? Qoim mengatakan, dirinya dan saudara-suadarinya tidak bisa melapor karena dilarang oleh Nyai Endang Yuniati. “Ibu selalu mencegah. Mengatakan sabar, sabar. Kami diminta terus bersabar,” ungkapnya.

Nyai Endang Yuniati baru memberi restu anak-anaknya untuk mengadukan kasus ini ke pihak kepolisian setelah merasa khawatir akan keselamatan anak dan cucu-cucunya.

“Ketika kami jelaskan mengenai keselamatan cucu-cucunya, ibu langsung mengucap Astaghfirullah hal adzim. Ya kami akhirnya direstui untuk mengadukan ke polisi. Ya gimana lagi, Nyai saja dibeginikan (diteror) apalagi cucu-cucunya,” ujar Gus Qoim.

Gus Qoim mengatakan, finah-finah tersebut pihak kelurganya merasa sangat terganggu,

“Atas fitnah melalui video yang disebar di WA Group itu, dampak yang paling terasa dikalangan santri sudah tidak menganggap keluarga Bu Endang sebagai keluarga atau anak dari Kyai Muchtar,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap polisi dapat mengusut aktor dibalik peristiwa tersebut.@rofik