LENSAINDONESIA.COM: Kabupaten Ponorogo, tak hanya menyimpan catatan sejarah panjang, namun juga memiliki sebuah kisah legendaris. Layaknya kisah cinta Romep dan Juliet, pun kisah Joko Lancur dan Dewi Amirah yang cintanya berakhir dengan kepedihan, lalu melahirkan sebuah mitos. Mitos yang dipercaya kebenarannya hingga saat ini, khususnya oleh masyarakat desa Golan dan desa Mirah yang berada di Kecamatan Sukorejo, Ponorogo. Saat ini desa Mirah menjadi salah satu dusun di wilayah desa Nambangrejo.

Sutrisno Hadi, Juru Kunci Setono Wungu

Sebuah mitos yang sudah ada selama beratus tahun bahwa apapun yang yang berasal dari kedua desa tersebut tidak bisa disatukan, tidak boleh ada pernikahan antara penduduk kedua desa karena akan mendatangkan malapetaka, bahkan air dari kedua desa ini pun tidak bisa disatukan.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi, sehingga membuat mitos Golan dan Mirah masih tumbuh berkembang dan dipercaya oleh masyarakat kedua desa tersebut sampai saat ini ?

Kali ini tim Jawa Undercover berkesempatan untuk berbincang dengan Bapak Sutrisno Hadi, sang juru kunci Situs Setono Wungu yang dipercaya merupakan makam dari Joko Lancur dan Dewi Amirah.

 

Apakah benar mitos yang beredar di masyarakat tentang Desa Golan dan Desa Mirah yang tidak bisa menyatu bahkan air dari kedua desa ini juga tidak bisa menyatu?

Setahu saya seperti itu. Tetapi, pada dasarnya masyarakat kedua desa itu baik. Apabila bertemu dijalanpun, masyarakat kedua desa tetap rukun karena kedua belah pihak sama-sama menyadari bahwa semua itu sudah urusan leluhur, bukan urusan pribadi.

 

Bagaimana awal mula mitos ini terbentuk ?

Sebelumnya, saya sampaikan bahwa makam yang berada disini memiliki keterkaitan dengan kisah Joko Lancur dan Dewi Amirah. Jadi, Joko Lancur merupakan putra dari Ki Honggolono dari Desa Golan sedangkan Dewi Amirah adalah putra dari Ki Honggo Joyo.
Ki Honggo Joyo memiliki nama asli Shidiq Muslim. Dikarenakan dalam tradisi Jawa, seorang ayah biasanya dipanggil dengan nama yang diambil dari nama anak pertamanya, sedangkan Ki Honggo Joyo memiliki anak pertama “Dewi Amirah, selain itu juga merupakan tokoh yang dituakan. Sehingga, masyarakat memanggi Beliau dengan nama Ki Ageng Mirah. Ki Ageng Mirah sendiri merupakan putra dari Ki Ageng Gribig, yang memiliki nama asli Bancangilo, dan merupakan putra dari Joko Dolog keturunan Brawijaya V.

Nah, Dewi Amirah yang saya sebutkan tadi merupakan salah seorang yang dimakamkan di makam Setono Wungu ini. Diperkirakan, makam Setono Wungu ini sudah ada sekitar 600 tahun yang lalu.

Di sebelah barat Dusun Mirah, saat ini Desa Mirah telah menjadi salah satu dusun di Desa Nambangrejo, terdapat sebuah desa bernama Desa Golan. Sesepuh desa tersebut adalah seorang pengikut dari Ki Demang Suryo Alam bernama Ki Honggolono. Ki Honggolono memiliki seorang putra bernama Joko Lancur.

Joko Lancur ini memiliki kesenangan sabung ayam. Lalu, pada suatu hari Joko Lancur sabung ayam dengan seorang penduduk Desa Mirah bernama Suromejo. Pada saat itu, pertarungan antara kedua belah pihak berlangsung ramai. Warga kedua desa sama-sama memberikan dukungan kepada jagoan desanya masing-masing. Sampai akhirnya, ayam dari Joko Lancur terkena jalu ayam Sumorejo, kemudian kabur meninggalkan arena. Kemudian, ayam ini lari menuju pekarangan belakang rumah Ki Ageng Mirah atau Ki Honggo Joyo, kemudian berdiam diri di dekat Dewi Amirah yang sedang membatik.

Dewi Amirah penasaran dengan ayam tersebut karena terlihat seperti sehabis diadu. Setelah mengamati sekeliling pekarangan rumahnya, Dewi Amirah mendapati sosok Joko Lancur yang terlihat sedang mencari ayam tersebut. Mengetahui keberadaan Joko Lancur, Dewi Amirah bergegas masuk ke dalam rumah sambil menangis karena malu dilihat oleh seorang pria.

Di lain sisi, Joko Lancur yang sedari tadi mengamati Dewi Amirah dari kejauhan, merasa tertarik dengan kecantikan Dewi Amirah. Dia, yang sebenarnya ke pekarangan tersebut mencari ayamnya, sejenak melupakan ayamnya karena tertegun melihat kecantikan Dewi Amirah. Karena melihat Dewi Amirah yang masuk ke dalam rumah, Joko Lancur langsung mengambil ayamnya kemudian pulang.

Sesampainya di rumah, Joko Lancur terus terbayang-bayang kecantikan Dewi Amirah dan merasa gundah. Kegundahan Joko Lancur muncul karena perasaan kasmarannya kepada Dewi Amirah. Perasaan yang begitu dalam membuatnya susah tidak dan tidak enak makan selama berhari-hari. Hingga Sang Ayah, yaitu Ki Honggolono, menanyakan sebab kegundahannya. Joko Lancur pun memeberitahukan keinginannya untuk menikahi seorang putri dari Desa Mirah.

Ki Honggolono, yang merupakan seorang sesepuh desa, tentu saja menyanggupi keinginan putranya. Tetapi, setelah Joko Lancur menjelaskan lebih lanjut bahwa yang ingin diperistrinya adalah anak dari Ki Honggo Joyo, Ayahnya langsung merasa tidak setuju. Hal itu dikarenakan, Ki Honggolono memiliki pemikiran yang tidak sepaham dengan Ki Honggo Joyo. Akan tetapi, Joko Lancur tetap memaksa, dia memilih mati jika memang tidak diperkenankan untuk menikah dengan Dewi Amirah. Akhirnya, dengan berat hati, Ki Honggolono menyanggupi permintaan dari anak yang dikasihinya tersebut. Ki Honggolono pun berangkat ke Desa Mirah, menemui Ki Honggo Joyo, untuk melamar putrinya.

Sesampainya di tempat tujuan, Ki Honggo Joyo menyambut kedatangan Ki Honggolono dengan hormat. Ki Honggo Joyo kemudian meminta izin mengambil air kelapa sebagai suguhan untuk Ki Honggolono. Kemudian, Ki Honggolono mengajak untuk mengambil air kelapanya bersama-sama.

Di bawah pohon kelapa yang dituju, Ki Honggolono langsung menggoyang-goyangkan pohon tersebut agar buah kelapanya jatuh sehingga tidak perlu memanjat. Saat Ki Honggolono menggoyang-goyangkan pohon, Ki Honggo Joyo kemudian mengingatkan agar menghentikan hal yang dilakukan itu. Ki Honggo Joyo memberitahu bahwa jika mengambil buah kelapa dengan cara seperti itu akan merusak buah kelapa lain yang belum waktunya diambil. Kemudian, Ki Honggo Joyo melengkungkan pohon kelapa tersebut dan mempersilakan Ki Honggolono untuk mengambil buah kelapa yang dikehendaki. Singkat cerita, setelah perjamuan tamu tersebut selesai, Ki Honggolono menyampaikan maksud dan tujuannya bersilaturahmi ke rumah Ki Honggo Joyo adalah melamar Dewi Amirah untuk putranya Joko Lancur.

Mengetahui hal tersebut, Ki Honggo Joyo sebenarnya tidak setuju, tetapi jika menolak secara langsung dikhawatirkan akan terjadi peperangan antar desa. Kekhawatiran tersebut dikarenakan keduanya memiliki pengikut yang sama-sama banyak. Akhirnya, Ki Honggo Joyo berusaha menolak dengan halus dengan cara memberikan Ki Honggolono dua persyaratan.

Syarat pertama adalah mengairi seluruh sawah di Desa Mirah dalam waktu semalam. Kedua, satu lumbung padi dan satu lumbung kedelai berjalan sendiri dari Desa Golan ke Desa Mirah. Meski berat, Ki Honggolono menyetujui persyaratan tersebut.

Sesampainya di Desa Golan, Ki Honggolono berusaha memenuhi syarat pertama dengan membendung sungai, yang sekarang dikenal sebagai Dam Tretes. Lalu, untuk persyaratan kedua Ki Honggolono mencoba mengakali dengan cara mencampur padi dan kedelai dengan jerami. Pada jaman dulu, padi dan kedelai disimpan dengan cara diikat. Tiap ikatannya, Ki Honggolono mengakalinya dengan memberi jerami di dalam ikatannya, sehingga dari luar tampak banyak. Dengan cara ini, Ki Honggolono sudah merasa dapat mencukupi semua persyaratan. Kemudian, Ki Honggolono menyuruh anaknya untuk bersiap-siap berangkat melamar Dewi Amirah.

Sesampainya disana, Ki Honggolono langsung meminta Ki Honggo Joyo untuk mempertemukan calon pengantin. Tetapi, Ki Honggo Joyo menolak. Hal itu dikarenakan Ki Honggo Joyo mengetahui bahwa Ki Honggolono telah berbohong dan mengakali jumlah padi dan kedelainya. Dengan kesaktiannya, Ki Honggo Joyo kemudian menunjukkan bahwa yang dibawanya hanyalah jerami yang ditutupi menggunakan padi dan kedelai. Lamaran tersebut pun ditolak, karena Ki Honggolono tidak mampu memenuhi persyaratan.

Ki Honggolono merasa dipermalukan atas kejadian tersebut, kemudian mengutuk Dewi Amirah meninggal. Ki Honggo Joyo yang mendengar hal tersebut langsung bergegas masuk ke dalam rumah untuk melihat putrinya. Ternyata benar, putrinya telah jatuh terkapar, kemudian meninggal. Mengetahui hal tersebut, Joko Lancur langsung mencabut kerisnya kemudian bunuh diri, karena orang yang dicintainya telah meninggal.

Atas kesepakatan kedua belah pihak, yaitu Ki Honggo Joyo dan Ki Honggolono, jenazah keduanya dimakamkan dalam satu tempat pemakaman yaitu, pemakaman Setono Wungu.

 

Apakah mitos tentang tidak bisa bersatunya segala hal dari kedua Desa benar-benar terjadi hingga saat ini ?

Kita tidak bisa memastikan hal itu benar-benar terjadi, tetapi kenyataannya memang sering terjadi. Contohnya, ketika ada acara pernikahan yang dihadiri oleh warga desa golan dan mirah di saat yang bersamaan, biasanya terjadi sesuatu, seperti listriknya mati, diesel terbakar, air yang tidak bisa mendidih, sehingga pemilik hajatan merasa kesulitan. Hal semacam itu sudah seringkali terjadi. Tetapi, saya sendiri juga pernah hidup di pesantren bersama keturunan dari Desa Golan, dan Alhamdulillah tidak pernah terjadi apa-apa.

 

Selain mitos tersebut, apakah ada pantangan lain dari kedua desa yang masih berlaku sampai saat ini ?

Kalau di Desa Mirah, pantang menanam kedelai dan ketan hitam. Ada beberapa orang yang mencoba menanam akhirnya sakit-sakitan dan meninggal. Akhirnya, hingga hari ini warga Desa Mirah tidak menanam kedua tanaman tersebut. Jikapun ingin menanam harus menggunakan perantara orang lain. Jadi, orang Mirah hanya boleh menjadi pekerja, tidak boleh menjadi pemilik dari kedelai dan ketan hitam yang ditanam. @LI-Digimagz

 

*Wawancara ini dapat disaksikan melalui video di Channel Youtube tim Jawa Undercover: https://youtu.be/3izAqQGmGtY