LENSAINDONESIA.COM:  Genap 120 tahun peringatan hari lahir Bapak Proklamator bangsa Indonesia pada tahun ini. Tepatnya, 6 Juni 2021 lalu.  Bung Karno, sebutan populer Ir Soekarno memang dikenal sebagai Bapak Proklamator, The Founding Father of Indonesia, Singa Podium, orator ulung dunia atau pun seorang intelektual yang revolusioner berskala dunia.

Namun, ada sisi lain dari Bung Karno yang lahir di Kota Surabaya, Jawa Timur pada 6 Juni 1901 ini yang masih jarang ditilik oleh banyak orang. Sisi lain itu, yaitu terkait seni berpenampilan. Khususnya dalam berpakaian yang mengiringi kiprahnya dalam memimpin Indonesia dan menjadi tokoh revolusioner dunia.

Bung Karno yang lahir dari seorang ayah berprofesi guru di era kolonial Belanda, bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo,  dan ibundanya yang juga guru berdarah biru asal Bali, Ida Ayu Nyoman Rai itu, dia memiliki ciri khas tersendiri setiap tampil di depan publik di dalam negeri maupun internasional.

Bung Karno juga biasa memakai setelan jas dengan tanda kepangkatan simbol militer dan peci hitam. Nah, selama menjadi presiden, ada atribut busana unik yang biasa dikenakan Bung Karno. Yakni, peci hitam.

Peci hitam yang selalu dipakai Bung Karno, rupanya memiliki filosofi tersendiri. Yang menjadi alasan pemilihan peci sebagai ‘teman outfit’ Bung Karno, tak lain karena peci merupakan simbol dari rakyat kecil pada saat itu.

Peci adalah tutup kepala yang sering dipakai oleh rakyat pribumi, bukan oleh raja, atau petinggi maupun bangsawan pada saat itu.

Pembahasan soal peci sebagai sisi humanis Bung Karno diangkat dalam Episode 8 Bung Karno Series Badan Kebudayaan Nasional Pusat PDI Perjuangan bersama Dr. Abdul Gaffar Karim (Dosen Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan UGM) dipandu oleh host Kirana Larasati.

“Bung Karno pernah menceritakan di dalam otobiografinya bahwa beliau memilih memakai peci hitam, karena peci merupakan tutup kepala yang biasa dipakai oleh rakyat kecil,” kata Gaffar.

Selain itu, makna psikologis peci adalah simbol perlawanan kepada penjajahan kolonialis dan imperialis pada masa itu.  Ada pula makna sosiologis bahwa Bung Karno seorang pemimpin revolusi yang benar-benar merakyat serta tulus untuk perjuangan rakyat Indonesia. Peci hitam juga simbol untuk mempersatukan rakyat melawan penjajah, serta menggambarkan tidak ada kesenjangan antara pemimpin revolusi dan rakyatnya.

“Itu merupakan simbol perlawanan kepada penjajahan, kepada imperialisme dan peci hitam merupakan simbol paling tepat menggambarkan untuk waktunya rakyat berada di atas,” lanjut Gaffar.

Uniknya, Bung Karno sering terlihat di berbagai pertemuan ataupun di foto resmi selalu memakai peci sedikit miring ke kiri. Bung Karno yang menyukai tentang filosofi, menggambarkan simbol keberpihakan kepada rakyat (sosialis) melawan penjajahan.

Selain peci, jas putih keabuan dan tongkat komando yang dikenakan oleh Bung Karno saat itu juga memiliki makna psikologis, yakni menunjukkan rasa percaya diri, optimistis, kebanggan, dan kehormatan Bung Karno sebagai bagian dari bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Hal-hal itu merupakan kelebihan Bung Karno dalam membangun jiwa kharismatiknya mulai dari seni berpakaian. Hal ini penting dalam membangun karakter tokoh yang memiliki jiwa nasionalisme, santun dan berkharismatik.

“Pecinya selalu sedikit miring ke kiri, menggambarkan keberpihakan Bung Karno kepada rakyat. Bung Karno seorang ideolog, biasa menyampaikan pesan ideologi dengan cara apa pun itu. Salah satunya lewat cara berpakaian. Di sinilah Bung Karno menunjukkan bahwa beliau tidak ingin memihak kepada satu golongan saja,” pungkas Gaffar.

Program ‘Talkshow & Musik’ BKNP PDIP dengan tema besar ‘Bung Karno Series’ hadir setiap hari pada Juni pukul 16.30 WIB, tayang selama satu bulan penuh, dan dapat diikuti melalui kanal Youtube: BKNP PDI Perjuangan, Instagram: BKNPusat dan Facebook: Badan Kebudayaan Nasional Pusat. @rel

Sumber: Badan Kebudayaan Nasional Pusat PDI Perjuangan