Oleh:
Septian Dwita Kharisma, S.Pd. (Pegiat Sejarah Madiun)

 

Apa itu Pembela Tanah Air (PETA)?

PETA (Pembela Tanah Air) adalah organisasi militer bentukan Jepang, pembentukan PETA ini berawal pada 7 September 1943 dari permohonan Raden Gatot Mangkoepradja.

Permohonan tersebut kemudian disusul oleh permohonan lain yakni tanggal 13 September 1943, yang di sampaikan oleh Sepuluh orang alim ulama terkemuka (Sukadri dkk, 1981: 49) diantaranya, K.H. Mas Mansyur, KH. Adnan, Dr. Abdul Karim Amrullah (HAMKA),Guru H. Mansur, Guru H. Cholid. K.H. Abdul Madjid, Guru H. Jacob, K.H. Djunaedi, U. Mochtardan H. Mohammad Sadri (_, 2005: 35). Sehingga dibentuklah PETA pada 3 oktober 1943, PETA dirancang oleh pejabat-pejabat Angkatan darat ke-16 Jepang sebagai pasukan greliya bantuan yang disentralisasikan untuk disebarkan jika terjadi serangan oleh sekutu ke pulau jawa (Anderson, 1988: 40).

Di satu sisi PETA dibentuk oleh Pemerintah Pendudukan Jepang untuk menanamkan jiwa yang keras kepada para pemuda Indonesia, menanamkan cinta tanah air, rasakebangsaan. Pembentukan Angkatan bersenjata ini disambut oleh para pemuda di berbagai daerah sehingga terbentuknya Kesatuan-kesatuan PETA di seluruh Jawa Terutama di Madiun.

 

Bagaimana Sejarah PETA di Madiun?

Pembentukan organisasi militer PETA di tingkat Pusat tersebut disambut oleh daerah-daerah. Di Karesidenan Madiun terdapat tiga Daidan diantaranya, Deidan Madiun, Pacitan dan Ponorogo (Sukadri dkk, 1981: 50). Luangnya syarat masuk ke dalam PETA yang tidak melihat Golongan sosial, membuat para Priyayi, pegawai pemerintahan dan guru serta rakyat biasa bisa masuk kedalam PETA.

Pada masa itu, menjadi anggota PETA diminati oleh para Pemuda Madiun karena penghidupan para anggota PETA cukup terjamin dan diberi Jatah pangan setiap harinya, jatah makanan terdiri dari 350 Gram beras, 100 Gram Tapioka dan ditambah ikan asin dan lain-lain (Koesdim dan Soekowinoto 1981: 87).

Dibentuknya badan pembantu Prajurit PETA, membuat kesejahteraan terjamin, badan ini bertugas meminjami, Peminjaman Uang, pemberian makanan, Pakaian, mengurus kiriman uang, membantu belasungkawa dll (Gunawan, 1981: 44) anggota PETA Dai I Daidan Madiun memiliki barrack yang sering disebut Kesatrian PETA (sekarang menjadi Batalyon 501 di Manguharjo) dan Sedangkan PETA Dai II Chiku Sireibu Chiku Sireibu Iwabe Butai bermarkas di Kompleks Boschbow Oro-oro ombo, Kartoharjo Madiun, Dai II Chiku Sireibu Iwabe Butai membawahi daidan-daidan di Karesidenan Semarang, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Pati, Kediri dan Madiun, Soeharto (Mantan Presiden Republik Indonesia ke 2) pernah menjabat sebagai Chudanco bagian Kepala Pendidikan di Dai II Chiku Sireibu Iwabe Butai (Negara, 2015: 76).

Komandan Daidan PETA Madiun ialah seorang Wedana Caruban bernama Agus Thoyib, salah satu komandan kompi ialah seorang guru olahraga Sekolah Menengah Umum R. Soenadi dan Chudanco dijabat oleh Djokosoejono, Sumantri serta Murman Slamet. PETA Madiun di didik dengan disiplin ank eras ala Militer Jepang seperti baris berbaris, penggunaan senjata api, berlatih perang (Perang-perangan) hingga Greliya. Ketika ada informasi Soal persiapan Pembrontakan Daidan Blitar pada 14 Februari 1945, Kanpetai (Polisi Rahasia Pasukan Jepang) Daerah Madiun membatasi aktivitas anggota PETA Daidan Madiun dibatasi, seperti tidak boleh keluar malam, penggunaan senjata api dibatasi,berlatih senjata dengan Senjata tiruan, pembagian amunisi juga dibatasi hingga tak Boleh bergerombol lebih dari 5 orang ( _ , 1981: 290).

Kebijakan Kanpetai Madiun tersebut para anggota PETA Daidan Madiun tidak bisa membantu PETA Blitar untuk menggelorakan perlawanan pada Pemerintahan Pendudukan Jepang di Daerah Madiun, akhirnya rencana pembrontakan lokal yang rencananya dilakukan serentak itu gagal.

Monumen PETA yang berada di Jl. Diponegoro, Kota Madiun. (Foto: Septian)

 

Bagaimana Peran Pembela Tanah Air (PETA) Madiun?

Ketika Informasi proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 baru terdengar di Madiun pada 18 agustus 1945, para perwira PETA Daidan Madiun dengan tanggap dan sigap merespon berita Kemerdekaan itu dengan melakukan Pelucutan Senjata di markas Kanpetai (sekarang KOREM 081 di Jalan Pahlawan Kota Madiun) dan Markas pasukan Jepang atau Dai Ni chiku Shireibu (sekarang dikenal sebagi Kompleks Boschbouw) bersama massa rakyat dan pemuda Madiun, penyerbuan dan pelucutan Senjata di Markas Kanpetai itu dilakukan oleh Djokosoedjono seorang eks Chudanco PETA Daidan Madiun, melihat markas Kanpetai dikepung oleh masa rakyat dan pemuda Madiun. Bupati Madiun, Ronggo Koesnindar bergegas memasuki kantor Kanpetai bertemu dengan perwira Kanpetai dan berdiskusi dengan perwira Kanpetai tersebut untuk menyerah dan menyerahkan senjatanya secara damai pada rakyat dan pemuda Madiun agar tidak terjadi pertumpahan darah.

Di Madiun, eks Anggota PETA Daidan Madiun memiliki kontribusi besar dalam perintis dan petinggi angkatan bersenjata di Madiun. Seperti Murman Slamet menjadi pemimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR/TNI sekarang) Kab. Madiun, R. Sunadi mendirikan Polisi Tentara (PT atau CPM sekarang) Detasemen Madiun yang bermarkas di Jalan Pahlawan (yang sekarang menjadi Hypermart), Soemantri menjadi Pemimpin BKR Se Karisidenan Madiun dan Agus Toyib Eks Komandan Daidan PETA Madiun, berpindah menjadi anggota Polisi dengan Pangkat Inspektur Polisi (Yauwerissa, 2013: 46) sehingga menjadi perwira tinggi di kesatuan Polisi Istimewa (BRIMOB) di Madiun. @LI-Digimagz

 

DAFTAR PUSTAKA
  • Anderson, Ben. (1988), “Revoloesi Pemoeda, Pendudukan Jepang dan Perlawanan Di Jawa 1944-1946”. Jakarta: Sinar Harapan.
  • Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Madiun (2005), Monument-Monument Peristiwa Sejarah Dan Profil Seni Budaya Di Kota Madiun.
  • Gunawan, Putu, Gde, I. (1981), “Madiun shu Pada Masa pendudukan Jepang 1942-1945”. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. (Tulisan tidak diterbitkan).
  • Sukradi K, Heru. Soewarno, Umiati RA. (1991), “Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) Di Jawa Timur”. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
  • Negara, Surya, Mansur, Ahmad (2015), “Api Sejarah 2”. Bandung: Surya Dinasti.
  • Pemerintah Kabupaten Madiun Tingkat II Madiun (1980), “Sejarah Kabupaten Madiun”.
  • Yauwerissa, Lorenzo (2013), “Pasukan Polisi Istimewa, Prajurit Istimewa Dalam Perjuangan Kemerdekaan Di Jawa Timur”. Yogyakarta: Matapadi Presindo.