LENSAINDONESIA.COM: Bali merupakan distinasi wisata andalan di Indonesia yang sangat terkenal di dunia. Pulau yang memiliki julukan Pulau Dewata ini memiliki potensi wisata yang komplet, dari wisata alam, wisata seni, adat dan budaya.

Wisata alam Bali menyuguhkan keindahan panorama pantai, pemandangan bentang sawah berundak yang memukau, dan sebagainya. Sedangkan terkait seni dan budaya, Bali adalah gudangnya. Mulai dari seni ukir, seni lukis, hingga seni tari.

Bali memiliki banyak jenis tarian tradisional, bahkan sembilan di antaranya telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, seperti Drama Tari Gambuh, Drama Tari Wayang Wong, Tari Baris, Tari Barong Ket, Tari Joget Bumbung, Tari Legong Kraton, Tari Rejang, Tari Sanghyang Dedari, Tari Topeng Sidakarya.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai Tari Legong, sebuah tarian tradisional yang mencerminkan keanggunan, keelokan, serta kelihaian para penari Bali. Biasanya Tari Legong ini dipentaskan ketika upacara adat atau saat acara penyambutan tamu.

Tari Legong, salah satu tari tradisional Bali yang mendunia. (Foto: Istimewa)

Mengenal Tari Legong

Tari Legong memiliki gerakan yang kompleks, berupa perpaduan antara gerak tari dengan iringan musik gamelan tradisional Bali. Konon gerakan kompleks dari para penari Legong disebabkan oleh adanya unsur gambuh. Gambuh merupakan salah satu tarian tertua yang ada di Bali dan menempati kasta tertinggi dalam seni tari Bali.

Nama Tari Legong berasal dari dua suku kata Bahasa Bali, yaitu “leg” yang berarti gerakan tari yang luwes, serta “gong” yang merupakan unsur alat musik tradisional gamelan. Sehingga, Tari Legong dapat diartikan sebagai tarian yang gerakannya terikat oleh gamelan atau musik pengiringnya. Biasanya tarian ini dilakukan olek kelompok penari wanita dalam jumlah tertentu.

 

Sejarah Tari Legong

Dilansir dari website ISI Denpasar: “awal mula diciptakannya tari Legong di Bali adalah melalui proses yang sangat panjang. Menurut Babad Dalem Sukawati, Tari Legong tercipta berdasarkan mimpi I Dewa Agung Made Karna, Raja Sukawati yang bertahta tahun 1775-1825 M. Ketika beliau melakukan tapa di Pura Jogan Agung desa Ketewel (wilayah Sukawati), beliau bermimpi melihat bidadari sedang menari di surga. Mereka menari dengan menggunakan hiasan kepala yang terbuat dari emas.

Ketika beliau sadar dari semedinya, segeralah beliau menitahkan Bendesa Ketewel untuk membuat beberapa topeng yang wajahnya tampak dalam mimpi beliau ketika melakukan semedi di Pura Jogan Agung dan memerintahkan pula agar membuatkan tarian yang mirip dengan mimpinya. Akhirnya Bendesa Ketewel pun mampu menyelesaikan sembilan buah topeng sakral sesuai permintaan I Dewa Agung Made Karna. Pertunjukan tari Sang Hyang Legong pun dapat dipentaskan di Pura Jogan Agung oleh dua orang penari perempuan.

Tak lama setelah tari Sang Hyang Legong tercipta, sebuah grup pertunjukan tari Nandir dari Blahbatuh yang dipimpin I Gusti Ngurah Jelantik melakukan sebuah pementasan yang disaksikan Raja I Dewa Agung Manggis, Raja Gianyar kala itu. Beliau sangat tertarik dengan tarian yang memiliki gaya yang mirip dengan tari Sang Hyang Legong ini, seraya menitahkan dua orang seniman dari Sukawati untuk menata kembali dengan mempergunakan dua orang penari wanita sebagai penarinya. Sejak itulah tercipta Tari Legong klasik yang kita saksikan sekarang ini.”

Tarian istana ini kemudian dikenal luas oleh masyarakat luas, berkat beberapa guru tari yang berasal dari berbagai desa di Bali, seperti Desa Saba, Bedulu, Peliatan, Klandis, dan Sukawati. Para guru tersebut mengajarkan kepada murid-muridnya, dan menggunakan Legong sebagai bagian utama dalam Upacara Piodalan atau Odalan, yaitu sebuah ritual upacara keagamaan umat Hindu yang dilaksanakan pada hari lahirnya Pura.

 

Makna Tari Legong

Tari Legong mengandung unsur atau tema tentang nilai keagamaan dan sejarah dalam budaya Bali. Gerakan dalam tarian ini merupakan simbolisasi ungkapan rasa syukur dan terimakasih masyarakat Bali terhadap nenek moyang yang telah memberikan keberkahan yang melimpah untuk keturunannya.

Namun, seiring perkembangan zaman, makna Tari Legong tidak hanya terbatas pada hal tersebut, namun juga bertransformasi menjadi pertunjukan hiburan hingga tarian penyambutan yang menarik bagi para wisatawan.

Legong memiliki berbagai unsur atau komposisi yang membuatnya semakin menarik sebagai sebuah pertunjukan. Komposisi tersebut meliputi alat musik, penari, busana, tata rias, dekorasi panggung dan sebagainya.

 

Penari Legong

Pada mulanya, Legong ditarikan oleh dua orang gadis remaja yang belum mengalami menstruasi. Kedua gadis tersebut akan menari dibawah sinar rembulan di lingkungan Kraton. Ciri khas utamanya dari tarian Bali ini adalah penari yang menggunakan kipas sebagat alat bantu untuk menari.

 

Jenis Tari Legong

Wikipedia.org menyebutkan terdapat sekitar 18 Tari Legong yang dikembangkan di selatan Bali, seperti Gianyar (Saba, Bedulu, Pejeng, Peliatan), Badung (Binoh dan Kuta), Denpasar (Kelandis), dan Tabanan (Tista).

Beberapa Tari Legong, diantaranya adalah:

Legong Lasem (Kraton) : Legong ini yang paling populer dan kerap ditampilkan dalam pertunjukan wisata. Tari ini dikembangkan di Peliatan. Tari ini mengambil dasar dari cabang cerita Panji (masa Kerajaan Kadiri), yaitu tentang keinginan penguasa (Adipati) Lasem (sekarang wilayah Kabupaten Rembang) untuk meminang Rangkesari, putri dari Kerajaan Daha (Kadiri). Namun, sang putri menolak pinangan tersebut, karena telah jatuh cinta kepada Raden Panji dari Kahuripan. Tidak terima dengan penolakan tersebut, akhirnya Adipati Lasem pun menculik Rangkesari.

Mengetahui adiknya diculik, Raja Kadiri, yang merupakan kakak dari sang putri, menyatakan perang dengan Lasem. Sebelum berperang, adipati Lasem harus menghadapi serangan burung garuda pembawa maut. Ia berhasil melarikan diri tetapi kemudian tewas dalam pertempuran melawan Sang Raja.

Legong Jobog : Tari Legong jenis ini mengambil cuplikan dari kisah Ramayana, tentang persaingan dua bersaudara Sugriwa dan Subali (Kuntir dan Jobog) yang memperebutkan pusaka dari ayahnya. Karena pusaka itu dibuang ke danau ajaib, keduanya kemudian bertarung hingga masuk ke dalam danau. Tanpa disadari, keduanya berubah menjadi kera, dan pertarungan di antara mereka itu pun tidak membuahkan hasil apapun.

Legong Legod Bawa : Tari ini mengambil kisah persaingan Dewa Brahma dan Dewa Wisnu dalam mencari rahasia lingga Dewa Syiwa.

Legong Kuntul : Legong ini menceritakan beberapa ekor burung kuntul yang tengah bercengkerama.

Legong Smaradahana : Sebuah tari yang diadaptasi dari Kakawin Smaradahana, karya Mpu Darmaja, pada abad 12 M. Berkisah tentang Kamajaya, Kamaratih dan Dewa Siwa.

Legong Sudarsana : Legong ini mengisahkan kesetiaan seorang patih atau abdi kerajaan yang bernama Patih Sudarsana.

Selain itu, di beberapa daerah memiliki Tari Legong yang khas. Seperti di Desa Tista (Tabanan) terdapat jenis Legong yang disebut Andir (Nandir). Di Pura Payogan Agung (Ketewel) ada Tari Legong dimana penarinya mengenakan topeng yang dikenal dengan nama “Sanghyang Ratu Dedari” atau “Topeng Ratu Dedari”. @LI-Digimagz