LENSAINDONESIA.COM: Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Jawa Timur berhasil menggagalkan penyelundupan 22.200 ekor benih lobster (benur) dari Pantai Konang, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek menuju menuju Solo.

Dalam kasus ini, polisi mengamankan pelaku bernama Widodo (51) warga Plareng, Tlogoharjo, Giritontro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Penyelundupan ini dilakukan dengan cara sederhana, yaitu mengemas ratusan ribu benur di dalam 79 kantong plastik.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Gatot Repli Handoko mengatakan, pihaknya akan terus mengembangkan kasus penyelundupan baby lobster ini.

“Ini berkat kerja keras Tim Subdit Gakkum Ditpolairud Polda Jatim.

Penyelundupan benur lobster ilegal ini berhasil digagalkan saat anggota melakukan patroli. Kasus ini masih dalam pengembangan,” katanya di Mapolda Jatim, Rabu (09/06/2021).

Sementara itu, Kasubdit Gakkum Ditpolairud Polda Jatim AKBP Siswantoro menyampaikan, bahwa pengungkapan penyelundupan benur ini bermula adanya informasi masyarakat saat anggotanya melaksanakan pemantauan di wilayah Pantai Konang.

Melalui informasi tersebut, pihaknya melakukan pendalaman dengan cara menyelidiki secara diam-diam pada pelaku yang saat itu mengendarai Jazz silver F 1336 QL di Jl Wilis, sekitar Pantai Konang.

Setelah terpantau melakukan aktivitas mencurigakan, petugas langsung mendatangi pelaku untuk memintai keterangan.

“Saat digeledah, di bagasi ditemukan benur lobster kurang lebih 22.200 ekor. Masing-masing 22.145 ekor benur lobster jenis pasir dan sejumlah 55 ekor jenis mutiara yang diduga tanpa dilengkapi dengan ijin yang sah,” paparnya.

Saat diinterogasi singkat, pelaku mengaku hanya disuruh seseorang berinisial P untuk mengirimkan benur kepada seseorang berinisial A di Pacitan.

“Rencananya akan dikirim dari seseorang berinisial P ke penerima di Solo yang transit dulu di Pacitan. Dan tugas pelaku mengantar sampai ke Pacitan untuk bertemu dengan A yang merupakan orang kepercayaan dan karyawan seseorang berinisial M dengan tugasnya menghitung jumlah benur sebelum diantarkan ke Solo menggunakan sopir dan mobil yang berbeda,” jelasnya.

Kepada petugas Ditpolairud, Widodo mengaku dirinya mendapat bayaran sebesar Rp 400 ribu sekali pengiriman. “Dapat uang 400 ribu untuk satu kali pengiriman hingga sampai diterima pemesan Pak,” ungkapnya.

Untuk mendalami kasus ini, Widodo kemudian dibawa ke Mako Ditpolairud Polda Jatim untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Dari penggagalan penyelundupan ini, petugas Ditpolairud Polda Jatim berhasil menyelamatkan kekayaan negara yang diduga mencapai sekitar ratusan juta.

Atas perbuatannya pelaku dijerat Pasal 92 jo pasal 26 ayat (1) Undang-Undang Nomor
11 tahun 2020 Tentang Cipta Kerja jo Undang- Undang Nomor 45 tahun 2009 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan, dengan ancaman pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).@wendy