LENSAINDONESIA.COM: Penanggung jawab Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya, I Dewa Gede Nalendra Djaya Iswara mengungkap temuan klaster COVID-19 di salah satu pondok pesantren di Surabaya.

Klaster Pondok Pesantren di wilayah Surabaya itu terbongkar saat adanya dua santri yang terjaring penyekatan di Jembatan Suramadu dalam rangka pengendalian COVID-19 di Kabupaten Bangkalan, Madura yang melonjak saat ini.

“Setelah dua santri tersebut terkonfirmasi positif, maka dilakukan pengembangan tracing dan swab PCR kepada semua santri pondok pesantren itu, hasilnya ditemukan 14 orang dinyatakan positif COVID-19. Semuanya lak-laki dengan nilai CT Value di bawah 25, dan saat ini sedang dirawat di RSLI,” ungkapnya, Kamis (10/06/2021).

Nalendra menyampaikan, bahwa hingga Kamis 10 Juni 2021, jumlah pasien COVID-19 yang dirawat di RSLI mencapai 226 orang. Jumlah tersebut terdiri dari 81 orang Pekerja Migran Indonesia (PMI), 78 pasien dari klaster Madura, 14 pasien daru klaster pondok pesantren, dan 53 orang lainnya adalah pasien umum atau mandiri.

“Dari klaster Madura ada 10 orang nilai CT Value-nya antara 25-35. Sedang CT Value di bawah 25 sebanyak 65 orang, sehingga akan kita kirim ke ITD Unair dan Balitbangkes untuk konfirmasi lebih lanjut, dugaan varian baru COVID-19. Yang sedang dirawat 78 orang dan 4 orang rujuk ke faskes lainnya,” ungkapnya.

Sementara terkait dugaan adanya varian baru COVID-19, dr. Nalendra mengatakan, hingga hari ini belum ditemukan varian baru pada pasien RSLI, pasca dua varian baru COVID-19 yakni B.117 (Strain Inggris) dan B.1351 (strain Afrika Selatan) dari PMI di bulan Mei 2021.

Namun dengan merujuk kondisi pasien yang nilai CT Value-nya rata-rata rendah, jumlah terkonfirmasi positif cukup banyak yang menandakan daya tular tinggi, serta beberapa informasi tentang kecepatan kondisi memburuk pada mereka yang terkena COVID-19 hingga pada tingkat kematian yang cepat, maka patut diduga adanya kemungkinan varian baru COVID-19.

“Untuk sekarang ini sudah dikirimkan kembali 37 sampel ke Balitbangkes dan 11 sampel ke ITD Kampus C Unair. Total 48 Sampel dan baru dikirimkan hasil berupa 5 specimen dengan hasil negatif (tidak ada varian baru). Rencana berikutnya akan dikirimkan 10 sampel baru, sehingga total sampel yang kita kirimkan menjadi 58 sampel,” jelasnya.

Meski demikian, pihaknya tetap menghimbau masyarakat untuk disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan dan menjaga imunitas tubuh.

“Pandemi COVID-19 belum berakhir, dan malah ada indikasi menuju second wafe (serangan gelombang kedua). Semua stakeholder harus bahu–membahu mengatasinya. Edukasi harus tetap dijalankan. Kami minta peran masyarakat, berbagai kelompok, pemuka agama, tokoh masyarakat dan potensi yang ada di berbagai kalangan, termasuk kawan-kawan media untuk turut serta membantu memberikan informasi dan edukasi bagi masyarakat dalam memahami dan menanggulangi COVID-19,” pungkasnya.@wendy

 

#satgascovid19
#ingatpesanibu
#ingatpesanibupakaimasker
#ingatpesanibujagajarak
#ingatpesanibucucitangan
#pakaimasker
#jagajarak
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitangan
#cucitangandengansabun