LENSAINDONESIA.COM: Unit Harta Benda (Harda) Satreskrim Polrestabes Surabaya menetapkan 4 orang sebagai tersangka dugaan penyerobotan tanah milik warga di Jl Manukan Surabaya.

Empat tersangka terduga ‘mafia’ tanah itu diantaranya adalah Djerman Prasetyawan (49), Samsul Hadi (52), Andrian (DPO) dan Subagiyo (52) oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Gresik.

Unit Harda menaikkan status 4 orang itu sebagai tersangka setelah melakukan penyelidikan selama 3 bulan.

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Jhonny Edison Isir mengatakan, pihaknya juga sangat concern dengan pengungkapan kasus-kasus sengketa tanah sebab hal ini merupakan sebuah kewajiban bagi institusinya. Disamping itu juga menindaklanjuti perintah Presiden dan Kapolri untuk memberantas kejahatan mafia tanah.

Mengenai 4 orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka penyerobotan tanah di Jl Manukan Surabaya tersebut, Isir menyampaikan, bahwa mereka merupakan komplotan.

“Tersangka merupakan komplotan mafia tanah, dengan membagi tugas dan peran, dari mencari tanah, melakukan proses ikatan jual beli di notaris hingga mengatur gugatan di Pengadilan,” terangnya saat gelar perkara di Mapolrestabes Surabaya, Kamis (10/06/2021).

Dalam upaya penguasaan bidang tanah seluas 17 hektare tersebut, tersangka menunjuk bidang tanah di Jl Manukan Wetan milik warga sebagai miliknya, dengan menerbitkan nomor bidang tanah (NBT) di BPN I Surabaya, dengan terlebih dahulu melakukan gugatan ke Pengadilan Negeri Surabaya.

“Untuk meyakinkan itu, mereka melakukan skenario gugatan perdata antar sesama. Dan hasil putusan pengadilan itu yang dijadikan dasar hinga dapat dikeluarkan peta bidang,” tambah Isir.

“Berdasar Peta Bidang itu, BPN dapat mengeluarkan sertifikat tanah. Jadi ini ada skenario yang sudah disiapkan dengan matang. Bila Sertifikat sudah diterbitkan, maka korban akan mengalami kerugian sangat besar berkisaran Rp 100 – 400 miliar,” pungkas Isir.

Untuk mempertamggung jawabkan perbuatannya, tersangka dijerat pasal 263 ayat (1) dan (2) dan diancam pidana selama 5 tahun penjara.@rofik