LENSAINDONESIA.COM: Lonjakan kasus terkonfirmasi COVID-19 di Kabupaten Bangkalan menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya, Reni Astuti. Sebab dalam waktu dekat Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah segera dilaksanakan.

Menurut Reni, sebagai daerah yang bertetangga, mobilitas warga Surabaya dan Bangkalan cukup berpotensi terjadi penularan COVID-19. Bila kasus COVID-19 melonjak lagi, maka pelaksanaan PTM pada tahun ajaran baru 2021 Juli mendatang akan terganggu.

Meski begitu, politikus dari Partai Keadilan Sejahtera ini yakin, PTM di Surabaya dapat berjalan sesuai rencana. Reni mengaku terus memantau lonjakan kasus yang terjadi di Bangkalan. Termasuk dampaknya terhadap Surabaya, yang berisiko untuk menimbulkan lonjakan kasus di Kota Pahlawan.

“Lonjakan kasus di Bangkalan ini akan terus dipantau. Semoga efeknya tidak menyebabkan lonjakan di Surabaya. Diharapkan PTM tetap berjalan seusai rencana,” harapnya dalam keterangan persnya Kamis (10/06/2021).

Menjelang pelaksanaan PTM ini, Pemerintah Kota Surabaya telah melakukan berbagai persiapan, khususnya terkait penerapan protokol Kesehatan (Prokes), pembentukan Satgas Mandiri di tiap-tiap sekolah, serta assesmen dari Satuan Tugas (Satgas) COVID-19. Semua dilakukan guna menghindari terjadinya penularan COVID-19 selama PTM.

Meskipun lonjakan kasus COVID-19 di Kabupaten Bangkalan berisiko memberikan dampak pada Surabaya, Reni meminta agar masyarakat tidak menyudutkan Bangkalan. Karena menurutnya, pandemi tidak memandang wilayah. “Yang terpenting adalah penanganan dilakukan secara optimal dengan melibatkan berbagai pihak,” katanya.

Reni berharap, pandemi dapat segera berakhir dan kondisi dapat kembali seperti sedia kala.

“Tidak perlu menyudutkan daerah lain. Pandemi ini tidak memandang wilayah. Yang terpenting adalah penanganan bersama. Fokus pada penanganan ini. Semoga semuanya cepat selesai,” imbaunya.@ADV