LENSAINDONESIA.COM: Makin meningkatnya jumlah kasus positif COVID-19 di Kabupaten Bangkalan, Madura ditambah dengan susahnya sikap kooperatif masyarakat Bangkalan menjadi sorotan banyak pihak. Salah satunya, Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim, Hikmah Bafaqih.

Ia menilai penanganan COVID-19 di Bangkalan butuh pendekatan khusus, tidak bisa disamakan dengan daerah lain di Jatim.

Yakni dengan menggunakan pendekatan lewat ulama juga tokoh masyarakat.

Ulama dan tokoh masyarakat itu, kata dia, akan memberikan pengertian secara langsung kepada masyarakat Bangkalan.

Diketahui, saat ini warga di Kabupaten Bangkalan banyak yang menolak dilakukan tes swab meski virus COVID-19 di wilayahnya sedang mengalami peningkatan signifikan.

“Harus menggunakan stakeholder kunci. Kan disana budayanya atau istilahnya manutnya masyarakat jika yang ngomong ulama atau lora-lora langsung kepada masyarakat. Pemprov ataupun Pemkab Bangkalan kumpulkan para ulama, mereka nanti yang jalan ke masyarakat untuk memberi pemahaman,” kata Hikmah Jumat (11/06/2021).

Meski demikian, Hikmah menilai saat ini respons pemerintah untuk menanggulangi penyebaran COVID-19 lebih dari cukup. Terlebih, pemerintah pusat juga turun langsung ke Bangkalan dengan memberikan bantuan 30 unit ventilator oksigen untuk pasien COVID-19.

“Itu membantu sekali, karena banyak pasien datang sudah dalam kondisi agak parah. Yang dibutuhkan memang alat bantu oksigen,” katanya.

Namun, dengan kondisi situasi sekarang, pola yang diterapkan pemerintah untuk mengendalikan kasus COVID-19 di Bangkalan masih belum signifikan. Sehingga, dia menyarankan pemerintah agar memahami pula karakteristik warga disana.

“Tidak bisa didekati dengan pola saat ini. Nah, sekarang gimana caranya tracing bisa diterima. Kedua, isolasi mandiri. Itu mereka lebih memilih isolasi mandiri daripada dirujuk. Sekarang PRnya adalah mendesign isolasi mandiri yang benar dan terawasi,” papar dia.

Karenanya, Hikmah memberikan masukan kepada pemerintah agar menggunakan kearifan lokal untuk mengendalikan kasus di Bangkalan. Menurutnya, tidak bisa apabila pemerintah hanya mengandalkan ketegasan mengendalikan kasus di sana.

“Jadi kita merespons sesuai dengan kearifan lokal. Kalau dengan cara maksa orang-orang bagaimanapun sulit. Makanya kita juga perlu relawan,” ujarnya.

Terkait relawan, pihanya meminta Dinas Sosial Jatim menerjunkan para Tagana. Nantinya Tagana akan dilibatkan membantu mengawasi warga yang melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah.@sarifa

 

#satgascovid19
#ingatpesanibu
#ingatpesanibupakaimasker
#ingatpesanibujagajarak
#ingatpesanibucucitangan
#pakaimasker
#jagajarak
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitangan
#cucitangandengansabun