LENSAINDONESIA.COM: Kembangkan bisnis media sibe di Indonesia, KEK Singhasari berkolaborasi dengan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wilayah Jatim berencana akan membangun lokasi Klaster Media.

Hal tersebut disampaikan oleh Arif Rahman, Ketua AMSI Jatim saat kunjungannya beserta pengurus berikut Wakil Ketua AMSI Pusat Suwarjono yang juga dihadiri Bupati Pamekasan, Badrut Tamam, dan Kepala Bappeda Tomie Herawanto.

Arif mengatakan, rencana AMSI Jatim dengan KEK Singhasari merupakan bentuk sinergi dan sharing ekonomi. Melalui penyediaan klaster tersebutdl diharapkan media anggota AMSI Jatim akan memiliki basecamp di kawasan tersebut.

“Ya tentunya kerja sama dengan KEK Singhasari ini akan mempercepat pertumbuhan bisnis media siber yang didukung wadah untuk memproduksi konten kreatif semaksimal mungkin,” ujarnya saat dikonfirmasi Lensaindonesia.com, Minggu (13/06/2021).

Ia menambahkan, kolaborasi ini juga diharapkan sebagai langkah konkrit agar media siber di Jatim khususnya anggota AMSI akan lebih mudah untuk monetisasinya.

“Untuk meningkatkan mknetisasi, tentunya didukung dengan konten yang maksimal. Seperti halnya klaster media di KEK tersebut harus ada lokasi khusus untuk memproduksi konten berkualitas. Diantaranya ada ruang fotograsi, sinematografi, demografi, podcast, videografi dan yang lainnya untuk percepatannya,” tandas Arif.

(ki-ka) Ketua AMSI Jatim, Arif Rahman, Founder KEK Singhasari David Santoso dan Bupati Pamekasan, Badrut Tamam saat meninjau langsung lokasi tencana klaster media. Eld

David Santoso, Founder Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari menyatakan, kerja sama dengan AMSI merupakan langkah strategis untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis media siber tentunya.

“Media merupakan sektor strategis disaat memasuki era diserupsi dan pandemik. Tentunya banyak dinamika dan hal yang perlu disikapi. KEK ini diharapkan jadi salah satu instrumen untuk meningkatkan bisnis media ke depan” tuturnya.

David menambahkan, untuk area KEK infrastrukturnya sudah mencapai 65 persen sembari mengejar ruang untuk kreator animator.

“Yah target saya pasti makin banyak startup yang bergabung makin bagus. Saya optimis akan ada 25 perusahaan startup animator yang tergabung, dan itu pun akan menyerap 300 tenaga animator,” imbuh David.

Berjuang hingga berdarah-darah

Kepala Bappeda Tomie Herawanto menyampaikan, Pemkab Malang akan mensupport penuh mengenai perizinannya.

“Untuk urusan perizinan, kami (Pemkab Malang) akan kawal penuh. Dan yang terpenting OSS ojo suwe-suwe (jangan lama-lama,red), ” tutur Tomie.

KEK Singhasari merupakan KEK satu-satunya di Jawa Timur. Dan untuk keberhasilannya, pihaknya juga turut berjuang hingga berdarah-darah sampai keluar PP.

“Dengan kedatangan teman-teman AMSI Jatim, kami ingin bersinergi. Berharap point-point dalam Rakerwil juga diperjelas. Kami juga akan akan ajukan ke RPJMD Kabupaten Malang,” tambahnya.

Menurut Pemkab Malang, KEK tak hanya menguntungkan Malang Raya, tapi juga Jatim dan Nasional. Dukungan media sangat diperlukan untuk pengembangan ke depan. Sebab, PP ada batasan waktu tiga tahun, ini sudah setahun.

“Kami titip KEK Singhasari dimasukkan, media bisa membantu KEK, apa yang dibutuhkan (data, red), kami siapkan,” tegasnya.

Teknologi jadi kuncinya

Secara terpisah, Suwarjono Wakil Ketua AMSI Pusat mengungkapkan, media digital butuh partner yang paham. Klaster media di KEK Singhasari menurutnya sangat memungkinkan. Bahkan tim media Suwarjono, sebagian besar malah di Yogyakarta tidak Jakarta.

“Kita pilih tempat yang SDM bagus. Industri ini bisa dikerjakan di manapun. Tim IT, ilustrator, video editor dan konten kreator. Sebagian besar timnya tidak di Jakarta, secara bisnis tidak sustainable jika seluruhnya di Jakarta. Maka kami cari lokasi dengan harga terjangkau,” katanya.

Contoh lain, lanjutnya, sekelas Kompas bahkan memindahkan kantor ke Solo. Media memindah basis produksi ke daerah yang harga masuk.

“Malang, banyak SDM berbobot, jaringan dan budaya juga ada mahasiswa memungkinkan untuk klaster media. Saya ikut karena ingin tahu lokasinya jauh atau tidak. Motor, bangunan, infrastruktur apakah harga juga memungkinkan. Namun kalau Surabaya belum masuk secara bisnis,” beber Suwarjono.

Ia melanjutkan, di industri ini pemainnya sedang banyak. Ada homeless media, mereka konten kreator yang masuk dari platform lain dari rumah. Namun, untuk media online ada keunggulan tersendiri. Sebab ada ikatan dan aturan lebih bisa menyatukan dibanding teman-teman conten creator.

Di era kini, era iklan dashboard to dashboard, sudah tidak ada bertemu marketing. Seperti adnetwork dikelola google dan banyak agency global. Pola ini banyak digunakan. Dan bisa dilakukan jika traffic tinggi dan harus berkolaborasi.

“Ada newsroom bersama dengan platform beda, maka akan sangat efisien dan membantu,” terangnya.

Ke depannya era video akan bisa buat studio bersama. Video akan lebih menarik jika dibuat teman dengan background lapangan atau liputan.

“Video adalah masa depan, sekarang banyak platformnya, tidak hanya tergantung youtube,” turur Pemimpin Redaksi portal media PT Arcadia Digital Media Tbk ini.

Kolaborasi seperti satu studio, yang terpenting harus ada teknologi yang membantu. Media terinspirasi Bezoz yang membangun Washington Post tiga tahun mampu kembalikan keuntungan besar.

“Kuncinya itu ada pada teknologi. Produk sebagus apapun jika teknologi tidak bagus, itu nggak akan berhasil. Karena era diserupsi ini adalah era untuk lebih mengedepankan teknologi,” pungkas Suwarjono