LENSAINDONESIA.COM: Pelindo III memaksimalkan penggunaan sistem informasi pada layanan operasional kepelabuhanan.

Selain kemudahan, penggunaan sistem informasi juga digunakan perusahaan untuk menghilangkan adanya pungutan liar di pelabuhan.

VP Corporate Communication Pelindo III Suryo Khasabu mengatakan, penggunaan sistem informasi telah digunakan perseroan di sejimlah terminal pelabuhan. Halnya penggunaan sistem informasi di Terminal Petikemas Surabaya yang digunakan pada proses penerimaan petikemas. Menurutnya, setiap petikemas yang akan masuk ke Terminal Petikemas Surabaya sebelumnya sudah didaftarkan perusahaan pelayaran. Kemudian pengguna jasa bisa mencetak E-CEIR (Electronic Container Equipment Interchange Receipt) yang dilengkapi QR-Code untuk selanjutnya diberikan kepada para pengemudi truk pengangkut petikemas.

“Pengemudi truk lalu menuju gerbang masuk dengan petikemasnya dan menempelkan QR-Code yang ada pada E-CEIR ke QR-Code Reader di gerbang. Lalu ada proses untuk mengecek kesesuaian petikemas dengan data yang diinput pada awal pengajuan. Jika sesuai maka selanjutnya akan memperoleh job slip,” tuturnya dalam keterangan resmi yabg diterima Lensaindonesia.com, Senin (14/06/2021).

Dengan job slip, pengemudi truk selanjutnya menuju lokasi penumpukan petikemas sesuai informasi yang ada pada dokumen tersebut. Di sisi lain, terminal memberikan perintah kepada operator alat bongkar muat melalui sistem yang disebut VMT (Vehicle Mounted Terminal) untuk memindahkan petikemas dari truk ke lapangan penumpukan.

“Saat pengemudi truk menuju lokasi yang berbeda dengan lokasi yang ada di job slip, maka tidak akan dilayani, sebab lokasi penumpukan petikemas sudah ditentukan oleh sistem VMT tadi,” tandas Suryo.

Penggunaan sistem informasi menjadikan semua pergerakan petikemas di dalam terminal tercatat dan ditentukan. Ini memudahkan dan menghindari adanya interaksi langsung antara pekerja dengan pengguna jasa. Jika interaksi langsung hilang, maka pungutan liar dengan dalih untuk mempercepat ataupun memuluskan proses pelayanan dapat dihilangkan.

“Bahkan di Terminal Teluk Lamong, terminal kami yang lain, sudah tidak dijumpai lagi orang di lapangan, semua sudah dikendalikan oleh sistem yang terintegrasi,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua DPC Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Surabaya Putra Lingga menjelaskan, penggunaan sistem informasi di Terminal Petikemas Surabaya maupun Terminal Teluk Lamong memudahkan anggotanya melakukan pengiriman maupun pengambilan petikemas. Sistem tersebut menyajikan informasi terkait ukuran petikemas, nomor petikemas, nomor kendaraan (truk), lokasi penumpukan petikemas, hingga nama pengemudi truk yang masuk ke dalam terminal. Hal ini meminimalkan adanya transaksi di luar sistem yang tercatat sesuai layanan dari terminal.

“Semua sudah tercatat, tidak ada setoran dalam bentuk apapun, apalagi pungutan untuk dilayani terlebih dahulu. Selama tercatat di dalam sistem maka akan dilayani oleh terminal, itu pengalaman saya pribadi,” tegas Suryo.

Selain itu, lanjutnya, setiap sudut terminal juga dilengkapi kamera pengawas (CCTV). Sehingga setiap tindakan yang dilakukan petugas maupun pengguna jasa akan nampak jelas. Maka tindakan pungutan liar sudah selayaknya tidak terjadi lagi.

“Kalaupun ada pungutan liar itu tidak terjadi di dalam terminal, namun terjadi di luar terminal. Di dalam terminal seperti di Terminal Petikemas Surabaya dan Terminal Teluk Lamong sudah tidak ada pungutan liar,” pungkas Suryo.i