LENSAINDONESIA.COM: Rempah-rempah menjadi menjadi tujuan datangnya bangsa-bangsa Eropa ke Nusantara atau Indonesia di masa lalu. Melihat berlimpahnya rempah-rempah di Nusantara dan memiliki nilai jual tinggi atau mahal pada masa itu, membuat mereka berambisi untuk menguasai dan menjajah Nusantara.

Jahe atau dengan nama latin Zingiber Officinale merupakan salah satu komoditas rempah-rempah yang diburu oleh bangsa Eropa. Jahe ini dikenal memiliki banyak manfaat bagi kehidupan sehari-hari, terutama untuk kesehatan.

Jahe merupakan tanaman yang berasal dari Asia Tenggara, kemudian menyebar ke berbagai negara. Dikenal memiliki aroma yang khas, rempah-rempah yang satu ini seringkali dijadikan bumbu masakan, sekaligus salah satu bahan racikan pengobatan tradisional di Cina, India, hingga Timur Tengah.

Berdasarkan jurnal Universitas Indonesia berjudul Analisis Kandungan Tanaman Jahe, bangsa Cina telah memanfaatkan jahe selama 2500 tahun untuk obat pencernaan, anti mual, rematik, mengatasi pendarahan, gigitan ular, gangguan pernapasan dan bahkan mengatasi kebotakan.

Di Indonesia sendiri, tanaman jahe relatif mudah ditemukan hampir di semua daerah. Penggunaannya pun sudah sangat familiar di masyarakat, bukan hanya untuk keperluan memasak, melainkan juga untuk perawatan kesehatan dan kecantikan. Jahe sering digunakan sebagai bahan jamu untuk meningkatkan imunitas tubuh, seperti membantu mengatasi flu dan masuk angin. Kemampuan jahe untuk meningkatkan daya tahan tubuh ini, membuatnya banyak diburu di masa Pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Selain itu, dilansir dari buku 365 Tips for Women, jahe memberikan manfaat mengurangi jerawat di wajah. Caranya adalah dengan mengonsumsi jus jahe. Jahe juga digunakan sebagai bahan kosmetik, karena kemampuannya untuk menghasilkan minyak atsiri yang biasanya digunakan sebagai campuran bahan baku kosmetik untuk antioksidan dan antiseptik. Namun, konsumsi jahe untuk konsumsi tubuh perlu diperhatikan penggunaanya. Mengingat jahe bersifat panas dan kuat, jika konsumsi berlebihan hal ini justru dapat mengganggu pencernaan Ibu dan keluarga.

Dari jenis, bentuk, besar rimpang, dan warnanya, jahe dibagi atas tiga jenis, yaitu:

Jahe putih:
Jahe putih, dikenal juga dengan sebutan jahe kuning besar, jahe gajah, jahe badak atau jahe kombongan. Jenis jahe yang satu ini memiliki rimpang yang besar dan gemuk, berwarna putih kekuningan, berserat sedikit dan lembut. Jahe putih biasanya dikonsumsi pada saat masih muda atau pada saat aromanya sudah tak terlalu tajam dan rasanya kurang pedas. Kebanyakan masyarakat menggunakan jahe ini sebagai bumbu masakan.

Jahe Putih Kecil:
Jahe putih kecil, atau disebut juga dengan nama jahe sunti atau jahe emprit. Jahe ini memiliki bentuk yang agak pipih, berserat lembut. Jahe putih kecil memiliki aroma yang agak tajam dan rasanya pedas. jahe emprit ini mengandung minyak astiri yang lebih banyak daripada jahe putih biasa.

Jahe Merah:
Seperti namanya, jahe jenis ini memiliki warna rimpang jingga muda hingga merah. Jahe merah memiliki memiliki serat yang kasar, aromanya sangat tajam, dan rasanya lebih pedas daripada jahe putih kecil. Memiliki kandungan oleoresin dan minyak atsiri yang tinggi, jahe ini banyak digunakan sebagai bahan obat-obatan atau jamu.

 

Tanaman jahe paling cocok ditanam di tanah yang subur, gembur dan banyak mengandung humus. Sehingga, tak mengherankan apabila jahe sangat berlimpah di Indonesia, karena tanah di Indonesia memiliki tesktur tanah yang gembur dan memiliki kandungan humus yang tinggi.

Selain itu, jahe tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0 – 2.000 mdpl. Sedangkan di indonesia, pada umumnya jahe ditanam pada ketinggian 200 – 600 mdpl, jadi sangat cocok untuk budidaya tanaman jahe.

Tanah di Indonesia yang cocok untuk menanam jahe, serta perawatan yang relatif mudah, membuat banyak masyarakat Indonesia menanam jahe di pekarangan rumah dengan sistem tumpang sari yang dicampur dengan tanaman lainnya. @LI-Digimagz