LENSAINDONESIA.COM: Anggun dan inspiratif, dua kata tersebut yang terlintas dalam benak saat melihat rekam jejak seorang Raden Ayu (R.Ay.) Febri Hapsari Dipokusumo. Bagaimana tidak? Jika seakan tiap gerak dan langkah perempuan kelahiran Surabaya tahun 1972 ini mencitrakan kepedulian dan kontribusi bagi masyarakat.

Sejak menikah dengan KGPH Adipati Dipo Kusumo, M.Si., putra Raja Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat SISKS. Pakubuwono XII, pada tahun 2000. Febri berperan aktif dalam mengupayakan revitalisasi Kraton Surakarta sebagai cagar budaya dan destinasi wisata yang dapat memberi penghidupan bagi para Abdi Dalem dan masyarakat di sekitar Kraton Surakarta.

Berbincang santai dengan Lensaindonesia.com, berikut kutipan wawancara bersama Runner-Up Putri Citra Indonesia tahun 1992 tersebut.

R.Ay. Febri Hapsari Dipokusumo

Bagaimana seorang R.Ay. Febri Hapsari Dipokusumo (Bunda Febri) memaknai Hari Kartini?

Saya memaknai Hari Kartini sebagai sebuah momentum pengingat bagi para perempuan Indonesia, ada seorang tokoh yang memperjuangkan hak perempuan untuk mendapatkan kesempatan pendidikan dan pengakuan terhadap eksistensinya.

Setiap tahunnya, Hari Kartini seperti sebuah alarm untuk kita selalu ingat bahwa semua yang diperoleh perempuan Indonesia di masa kini, berawal dari sebuah proses perjalanan panjang. Sehingga selalu menyadarkan kita untuk dapat menghargai proses tersebut.

Kartini menunjukkan cerminan perempuan Indonesia, dari cara berpakaian, serta tata kesantunannya dalam berucap dan bersikap. Secara pribadi, ini menjadi pengingat bagi saya, dalam memperjuangkan sebuah hak-pun tetap cerminan seorang perempuan harus dijaga. Tegas, berwibawa, namun tetap santun dan halus perangainya.

 

Mengingat Bunda Febri merupakan sosok perempuan yang dapat dikatakan memiliki predikat “super sibuk” dan sarat akan prestasi, apa tantangan terbesar menjadi seorang perempuan dengan predikat seperti itu?

Tantangan terbesar bagi saya adalah menjaga konsistensi dengan multi peran ini, untuk tetap bisa seimbang dan harmonis. Sebagai seorang istri, pendamping suami, Ibu bagi 4 anak, saya juga pelayan masyarakat dan beragam peran, maka saya harus selalu belajar untuk menyelaraskan semuanya.

Tidak mudah memang, karena dalam beberapa hal ada saja situasi dilematis. Tapi bagi saya hidup ini adalah pilihan dan kita harus konsekuen dengan pilihan kita. Saya memilih mengambil multi peran ini, maka saya harus konsisten, apapun kondisinya.

 

Bagaimana Bunda Febri mengatasi tantangan tersebut?

Cara saya mengatasi tantangan ini, dengan selalu mengembalikan pada konsep hidup saya “Madhep Mantep Manut Gusti Allah”.

Secara realistis, saya selalu menggunakan skala prioritas yang kadang setiap saat berubah. Saya terbiasa demokratis dan menerapkan keterbukaan dalam keluarga. Saya berdiskusi dengan suami dan anak-anak, bila saya menghadapi situasi dilema. Mereka harus tahu apa yang saya lakukan, dengan siapa saya bergaul, dan tanggung jawab apa yang saya emban. Oleh karena itu, tak jarang justru suami dan anak-anak yang mendorong saya untuk selalu memanfaatkan kesempatan yang ada didepan mata.

Maka ketika saya menjabat sebagai District Governor Rotary Indonesia (Pimpinan tertingi Rotary sebagai organisasi pengabdian masyarakat), saya menjadi sangat jarang di rumah, karena harus berkeliling ke berbagai Wilayah di Indonesia, bahkan ke luar negeri. Sehingga ada beberapa agenda kegiatan internal keluarga besar yang terlewat oleh saya.

Bagi saya sepanjang suami dan anak-anak tahu, mengerti, dan memberikan kepercayaan pada saya, itu berarti Allah menghendaki saya untuk mengambil keputusan tersebut. Maka Libatkan Allah Tuhanmu dalam segala urusan dan keputusanmu.

 

Sejauh ini, bagaimana perkembangan emansipasi dan kesetaraan gender di Kota Solo

Perkembangan kesetaraan gender di Kota Solo sudah cukup baik. Saya mendapat anugerah sebagai “Gender Champion” pada tahun 2018 akhir oleh Wali Kota Solo, serta mendapat gelar sebagai “Wanita Winasis”. Berbarengan saat itu, Solo mendapatkan Anugerah Parahita Ekapraya (APE), yaitu sebuah penghargaan dari Pemerintah Pusat sebagai pengakuan atas upaya dan prestasi Pemerintah Daerah yang dianggap ramah gender dengan menjamin kesetaraan dan keadilan gender.

Tahun ini Solo menjadi kandidat kembali untuk menerima anugerah yang sama, dan saya sebagai Gender Champion menjadi salah satu narasumber untuk mendampingi Wali Kota Gibran, beserta Ketua Tim Penggerak PKK, untuk menjawab serangkaian pertanyaan dewan juri saat penilaian secara terbuka melalui daring.

 

Sebagai seorang public figure, bagaimana concern Bunda Febri terhadap perempuan di Kota Solo, terkait dengan kesetaraan gender?

Concern saya terhadap kesetaraan gender di Kota Solo cukup tinggi, karena hampir sebagian besar kegiatan saya selalu mengedepankan perempuan. Mulai dari memberikan motivasi dan pendampingan dalam berbagai forum, agar perempuan bisa lebih memiliki peran di masyarakat, hingga terjun langsung dalam beragam kegiatan yang melibatkan banyak perempuan dalam berbagai karya dan kinerja. Misalnya, dalam beragam event yang saya lakukan, maka komposisi peran perempuan di dalamnya saya utamakan, sehingga perempuan menjadi muncul terdepan dan memiliki peran yang berimbang.

Saya sendiri memberikan contoh dengan selalu mengambil peran dalam setiap kesempatan, hingga membawa saya menjadi pemimpin di berbagai organisasi dan kegiatan-kegiatan penting di kota Solo.

 

Bunda Febri terlihat sangat concern pada kegiatan sosial dan budaya. Apakah ada misi khusus tentang hal itu?

Kegiatan Sosial dan Budaya menjadi bagian dari konsentrasi pengabdian saya, disamping Pendidikan dan Kepemudaan, karena bagi saya, hidup ini harus memberi manfaat bagi orang banyak. Dalam setiap langkah pengabdian saya melalui Organisasi pengabdian masyarakat “Rotary Club”, membuat hidup saya begitu bermanfaat.

Saya merasa sangat bersyukur dan bahagia, bila bisa melihat orang lain bahagia. Saya senang membantu dan melancarkan urusan orang lain karena saya meyakini, “Barangsiapa memudahkan dan melancarkan urusan orang lain maka Allah akan memudahkan dan melancarkan urusannya”.

Banyak mujizat dari apa yang saya yakini tersebut, karena konsep orang memberi, selalu akan menerima. Maka banyak berkah kehidupan yang saya dan keluarga rasakan.

Secara pribadi, saya punya komitmen dengan Sang Maha Pemberi Hidup, bahwa ini saya jadikan sebagai laku tirakat saya, untuk kebahagiaan keluarga saya. Banyak kemudahan dan keberuntungan datang buat keluarga saya, hal ini saya yakini berasal dari apa yang selama ini saya lakukan. Maka, kegiatan sosial menjadi bagian dari investasi kehidupan saya.

Dalam hal budaya karena saya dibesarkan dari keluarga jawa yang nasionalis. Terlebih ketika saya menjadi menantu Raja Pakubuwono XII, disitu saya terpanggil untuk ikut serta melestarikan budaya dengan terlibat langsung menjadi pelaku dan pegiat budaya, bukan sekedar pemerhati dan pecinta budaya. Salah satunya, sejak tahun 2003, saya sudah menjadi Ketua pelaksana Pemilihan Putra-Putri Solo, dan menjadi pembina paguyuban tersebut hingga saat ini.

Bagi saya budaya ini ibarat sebuah “Roh” atau “Jiwa”, yang harus selalu kita hidupkan. Kita boleh modern tapi jangan sekali-sekali meninggalkan akar budaya kita, sebagai identitas dan ciri khas diri kita. Contohnya, dalam setiap penampilan, saya selalu berupaya menjaga kesan dan menampilkan sosok perempuan jawa yang berjiwa Indonesia.

Jadi, meskipun saya harus berpikiran maju dan global, namun identitas citra perempuan Indonesia terus kita jaga, dari cara kita bertutur, bersikap, juga berpenampilan.

 

Apakah ada pesan dan harapan Khusus dari Bunda Febri untuk perempuan Indonesia ?

Tetaplah menjaga citra perempuan Indonesia yang santun dan anggun dalam setiap penampilan, namun tetap kuat dalam karakter, dan dinamis dalam karya. Bagaimanapun ada kodrat Ilahi yang harus dijaga. Bukan membatasi diri, tetapi ada batasan-batasan yang harus dijaga.

Perempuan timur, pasti akan berbeda konsep dengan perempuan barat. Maka sehebat apapun perempuan dalam karir dan peran di masyarakat, harus tetap ingat akan kodrat dan naluri seorang perempuan. Karena, pada hakekatnya, perempuan dilahirkan untuk memberi manfaat bagi keluarga dan lingkungannya. Keluarga ditempatkan pertama sebelum lingkungannya karena “Mendidik perempuan adalah mendidik generasi”. Bila perempuan berkualitas, dia akan menghasilkan generasi yang juga berkualitas. @LI-Digimagz

 

*Foto: Dok. Pribadi Febri Dipokusumo
*Berita ini menjadi Cover Story pada Lensa Indonesia Digimagz Volume 04 | Juni 2021