LENSAINDONESIA.COM: Candi Penataran berada di sebelah utara kota Blitar, di lereng Barat Daya Gunung Kelud, atau tepatnya di Dukuh Krajan, Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Blitar. Dibangun diatas lahan seluas 13.560 m2, membuat candi ini menjadi komplek percandian terluas di Jawa Timur.

Kompleks Candi Penataran ditemukan oleh seorang warga negara Belanda bernama Dokter Horsfield, seperti yang tertulis dalam buku “The History of Java”, karya Sir Thomas Stamford Bingley Raffles. Di dalam kompleks candi ini juga terdapat sebuah prasasti, yang dikenal dengan nama “Prasasti Palah”, dari masa Kerajaan Kadiri, berangka tahun 1119 Saka (1197 M).

Seperti yang disebutkan dalam Prasasti Palah, dipercaya bahwa nama asli Candi Penataran ini adalah Palah. Dibangun oleh Raja Çrnga (Syrenggra) atau Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Çrengalancana Digwijayottungadewa, yang memerintah kerajaan Kadiri antara tahun 1190 – 1200.

Diyakini, pembangunan candi ini sebagai candi gunung, yaitu tempat yang digunakan untuk upacara pemujaan agar terhindar dari bahaya bencana letusan Gunung Kelud.

Kuil Naga yang merupakan salah satu candi di kompleks Candi Penataran dibangun pada tahun 1286. Di kuil Naga ini terdapat relief sembilan orang menyangga naga yang melilit di sekeliling tubuh candi.

Dalam Kitab Kakawin Negarakretagama, karya Mpu Prapanca, yang mengisahkan perjalanan Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit (1350 – 1389) ke Candi Palah untuk melakukan pemujaan kepada Hyang Acalapat yang merupakan perwujudan Siwa sebagai Girindra (dewa penguasa gunung).

Terdapat Kesamaan nama Girindra yang disebut dalam kitab Negarakretagama, dengan Ken Arok yang memiliki gelar Girindra atau Girinatha, menyebabkan muncul dugaan bahwa Candi Penataran merupakan tempat pedharmaan bagi raja pertama Kerajaan Singhasari (Singasari) tersebut. Sementara itu, Hyang Acalapat adalah salah satu perwujudan dari Dewa Siwa, yang mana Ken Arok pun dianggap sebagai titisan atau perwujudan Siwa.

Secara umum kompleks Candi Penataran dalam kondisi baik dan terawat. Setiap harinya cukup banyak wisatawan yang datang berkunjung. Selain menjadi destinasi wisata domestik maupun mancanegara, Candi Penataran juga sering digunakan untuk upacara keagamaan.

Selain itu, sebelum Indonesia dilanda Pandemi Covid-19, hampir setiap tahun, Dewan Kesenian Kabupaten Blitar menggelar even internasional “Purnama Seruling Penataran” di dalam kawasan Candi Penataran ini. Purnama Seruling Penataran merupakan perhelatan seni dan budaya yang menampilkan seniman lokal Blitar, seniman nasional, dan bahkan internasional.

Bagi para pemburu foto, di dalam kompleks Candi Penataran ini terdapat beberapa spot yang instagramable dan memiliki nilai estetika yang tinggi. sehingga pantang dilewatkan untuk berkunjung kesini kalau kalian sedang berada di kota Blitar. @LI-Digimagz