LENSAINDONESIA.COM: Kalimantan atau yang sering disebut “Borneo” adalah salah satu dari lima pulau besar di Indonesia. Selain itu, dengan luas pulau sebesar 743.330 km persegi, pulau ini menduduki peringkat ketiga sebagai pulau terbesar di dunia, setelah Pulau Greenland, dan Pulau Papua Nugini.

Meski saat ini, penduduk Kalimantan terdiri dari beragam suku, namun Suku Dayak merupakan penduduk asli dari pulau yang sebagian wilayahnya masih berupa hutan hujan tropis tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Suku Dayak hampir tak pernah lepas dari senjata khas yang disebut “Mandau”. Bagi mereka, keberadaan Mandau tak tergantikan oleh yang lain, sebab merupakan simbol kehormatan dan jati diri. Bahkan, kepercayaan masyarakat Dayak dulu, Mandau yang telah keluar dari sarungnya, pantang kembali sebelum memenggal kepala musuh.

Selain itu, Mandau dianggap memiliki unsur magis. Di masa lalu, senjata ini hanya digunakan dalam acara ritual tertentu seperti, perang, pengayauan, perlengkapan tarian adat, dan perlengkapan upacara.

Di masa sekarang, senjata tradisional ini sudah terkenal hingga ke mancanegara. Kecantikannya membuat siapapun terpesona akan keindahan senjata ini. Penuh dengan hiasan dan ornamen ukiran yang mendetil mulai dari pegangan, sarung, hingga bilahnya.

Mandau yang asli terbuat dari bahan besi istimewa, yang disebut “Sanaman Mantikei”. Konon, bahan besi ini hanya terdapat di hulu Sungai Mantikei, Desa Tumbang Atei. Keistimewaan dari bahan tersebut, Mandau yang dihasilkan sangat keras dan kuat, tapi lunak ketika dibentuk. Hanya Mandau asli yang menggunakan bahan Mantikei ini, sedangkan untuk Mandau yang sering dijadikan cenderamata terbuat dari bahan besi biasa.

Pada umumnya, Mandau asli memiliki “Penyang”, yaitu azimat Suku Dayak yang diwariskan secara turun temurun dari leluhur. Konon, Penyang ini akan membuat orang yang memegang Mandau tersebut menjadi sakti, kuat dan kebal dalam menghadapi musuh. Selain itu, jika digunakan dalam peperangan, Mandau ini sangat mematikan.

Di samping beragam kisah sangar yang membungkusnya, Mandau memiliki makna luhur sebagai ikatan persaudaraan, melambangkan jiwa kesatria dan penjaga, simbol dari tanggung jawab, serta kedewasaan. Tak berlebihan jika untuk masyarakat Dayak, memiliki Mandau adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan. @LI-Digimagz