LENSAINDONESIA.COM: Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia, bahkan sejak tahun 2009 silam UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) telah menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Non Bendawi (Masterpieces of the Intangible Cultural Heritage of Humanity).

Membatik ternyata dapat menurunkan tingkat depresi dan kecemasan sosial. Setidaknya, seperti itu yang ditulis oleh Akhmad Mukhlis dalam tesisnya yang berjudul “Pengaruh Terapi Membatik terhadap Tingkat Depresi dan Kecemasan Sosial pada Narapidana”.

Dalam tesisnya tersebut, Akhmad Mukhlis, yang adalah seorang Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Kamal Sarang Rembang menjelaskan, aktivitas membatik yang memiliki latar belakang sejarah dan akar budaya Indonesia ini, mampu menimbulkan perasaan tertarik dan menyenangkan.

Menurutnya, proses membatik yang lebih menekankan pada kebebasan eksplorasi emosi, daripada hasil karya artistik, dapat menjadi terapi yang efektif menurunkan tingkat depresi. Hal ini terbukti pada 30 narapidana dari Rumah Tahanan Kelas IIB Rembang, Jawa Tengah, yang menjadi respondennya. Padahal, narapidana memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi, karena tekanan di dalam lingkungan penjara, maupun masyarakat.

Meski demikian, membatik memang tidak mudah, karena dibutuhkan ketelitian dan ketelatenan yang luar biasa. Bahkan, baru untuk belajar supaya bisa membatik telah membutuhkan niat dan keseriusan belajar yang hebat. Nah, di sinilah kerennya, sebab tidak semua orang memiliki niat dan keseriusan yang cukup besar untuk mulai membatik. Sehingga, tak berlebihan, jika dikatakan “Membatik itu Keren !”

Selain dapat menurunkan tingkat depresi dan kecemasan sosial seperti yang disampaikan Akhmad Mukhlis seperti diatas. Masih banyak lagi manfaat dari membatik. Namun, berikut adalah beberapa alasan bahwa membatik itu keren:

Melatih Kreativitas

Generasi muda biasanya identik dengan imajinasi dan kreativitas. Belajar membatik, memberi kesempatan untuk berkreasi seluas-luasnya, sesuai dengan imajinasimu. Meski motif batik tradisional memiliki pakem tersendiri, namun batik-batik modern lebih pada kreativitas dan imajinasi sendiri dalam membentuk motifnya. Jadi, tentu saja menjadi sangat menyenangkan untuk mereka yang masih belajar membatik.

Anti Mainstream

Membatik membuat kita menjadi anak muda yang anti mainstream. Memiliki pola pikir yang lain dari kebanyakan anak muda jaman now. Di saat anak muda yang lain sibuk berkeren-ria dengan gadget, atau segala bentuk aktivitas ala kebarat-baratan, kita tetap konsisten belajar dan melestarikan warisan budaya sendiri. Lebih bermanfaat dan pastinya lebih keren.

Suka dengan Tantangan

Bagi para penikmat tantangan sejati, membatik menjadi salah satu hal keren yang patut dicoba. Karena tantangan yang memacu adrenalin itu sudah lumrah dan sudah banyak yang melakukan. Kenapa tidak mencoba untuk melakukan hal yang berbeda, seperti menantang kesabaran dan ketelatenan diri sendiri dengan MEMBATIK ?

Mengikuti Tren Dunia/Internasional

Katanya kalau sudah mengikuti tren, apalagi tren dunia alias internasional yang diviralkan oleh artis mancanegara, baru disebut gaul dan kekinian. Omong-omong, batik sudah banyak dipakai dan disukai oleh artis-artis terkenal mancanegara, bahkan beberapa di antaranya sempat viral, seperti Siwon Choi “Super Junior”, Jessica Alba, Paris Hilton, dan masih banyak lainnya. Yuk, ikuti tren dunia dengan memakai batik.

Memaksimalkan Masa Muda

Dengan belajar membatik, itu artinya mengisi masa muda dengan hal-hal yang positif, dan terutama turut ambil bagian dalam melestarikan warisan budaya bangsa, seperti batik. Jika generasi muda Indonesia tidak memaksimalkan potensi budaya, maka keberadaannya pun perlahan memudar, dan akhirnya hilang.

Ini adalah kesempatan besar untuk melestarikan dan mengharumkan budaya warisan nenek moyang yang adi luhung, minimal mulai mengenalnya dari tahap belajar. @LI-Digimagz