LENSAINDONESIA.COM: Tren meningkatnya kasus COVID-19 menjadi bahasan panas dalam rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Surabaya. Hal ini karena tingginya tingkat mortalitas akibat COVID-19 telah mengakibatkan antrean pemakaman jenazah.

Kondisi rapat bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) yang sejatinya membahas Pertanggung Jawaban Anggaran Tahun 2020 itu harus berganti topik pembahasan menjadi penanganan COVID-19.

Pimpinan dewan merasa isu penanganan COVID-19 sangat perlu dibahas bersama jajaran eksekutif karena situasi pandemi saat ini sangat mengkhawatirkan.

Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono menyampaikan, bahwa ada 6 problem pananganan COVID-19 di Surabaya, yaitu Antrean pemakaman sampai 1 x 24 jam, waktu tunggu hasil tes swab PCR sampai 10 hari, isu kelangkaan tabung, regulator, dan isi oksigen, lalu isu kelangkaan obat terapi COVID-19 dan bantuan permakanan dan vitamin bagi warga yang isoman.

Salah satu problem yang saat ini menjadi sorotan adalah soal antrean pemakaman jenazah pasien COVID-19.

Kata Adi, saat ini antrean di Pemakaman Khusus COVID-19 Keputih rata-rata harus menunggu 24 jam.

Supaya permasalah ini dapat dituntaskan, ia mengusulkan agar pemakaman jenazah pasien COVID-19 dapat dilakukan tempat pemakaman umum (TPU) yang ada di kampung masing-masing. Dengan catatan, ada persetujuan dari pihak RT/RW dan protokol kesehatan (prokes) tetap dijalankan selama proses pemakaman.

“Rata antrian untuk pemakaman COVID-19 itu 24 jam, oleh karena itu kami (DPRD Kota Surabaya, red) mengusulkan agar jenazah pasien COVID-19 dapat dikuburkan di (TPU) kampung saja. Pemakamannya harus tetap seizin RT/RW sehingga tidak menimbulkan polemik ke belakangnya. Orang yang memakamkan juga wajib mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap. “Meski lahan makamnya disendirikan, lokasinya tidak harus di TPU Keputih,” kata pria yang juga menjabat Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya ini.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Surabaya Reni Astuti mempermasalahkan terkait lama hasil uji swab PCR di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Surabaya. Hal ini sangat berpengaruh bagi warga yang menjalani isolasi mandiri (isoman) setalah hasil rapid antigen-nya dinyatakan positif.

Diketahui, hasil swab PCR merupakan salah satu syarat warga bisa menjalani isolasi di tempat karantina yang disediakan pemerintah.

“Mereka yang hasil rapid antigen-nya dinyatakan positif pun menjalani isoman. Setelah itu, warga menjalani tes swab PCR. Namun, setelah sepekan lebih, hasilnya belum keluar. Selama itu, tidak ada penanganan apa pun yang dilakukan pemkot. Kalau dibiarkan seperti itu, kondisinya bisa memburuk,” tandasnya.

Legislator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menyampaikan, bahwa tidak sedikit kasus warga yang meninggal dunia ketika isoman. Rata-rata mereka meninggal karena mengalami sesak napas. Tidak tertutup kemungkinan, kondisi yang bersangkutan menurun ketika menunggu hasil tes swab PCR. “Yang seperti itu jangan sampai bertambah banyak,” tegasnya.

Reni memahami bila beban Labkesda Surabaya saat ini cukup berat, sebab sampai saat ini masih ada 20 ribu sampel yang harus diselesaikan. “Kalau menunggu antrean sebanyak itu, kapan selesainya? Ini kondisi darurat dan harus ada solusi konkret agar penanganannya bisa berjalan cepat,” katanya.

Karena itu, Reni menyarankan agar pemkot menggunakan hasil rapid antigen sebagai patokan untuk mengambil tindakan. Hasilnya lebih cepat diketahui. Dengan catatan, orang yang sudah dinyatakan negatif tetap wajib menjalankan prokes sesuai ketentuan. “Yang masih positif diperlakukan seperti orang positif,” terangnya.

Sedangkan terkait isu kelangkaan oksigen. Baik tabung, regulator, maupun isinya, Ketua DPRD Adi Sutawijono mengapresiasi langkah cepat kepolisian yang berhasil mengungkap salah satu pelaku penimbunan tabung oksigen. Dia berharap pemkot juga bergerak untuk mengantisipasi hal tersebut.

Penanganan terhadap isu kelangkaan oksigen juga berlaku untuk kelangkaan obat. Menurut Adi, pemahaman terkait obat terapi COVID-19 harus diperjelas. Sebab, saat ini masyarakat cenderung terstigma oleh merek tertentu.@adv