LENSAINDONESIA.COM: Pengadilan Negeri Jombang menggelar persidangan setempat (PS) pada objek tanah sengketa atas gugatan yang diajukan Pengasuh Pondok Pesantren Shiddiqiyyah, KH Muchtar Mu’thi terhadap anak kandungnya Lu’Lu’il Azaliyah, Jumat siang (23/07/2021).

Dalam sidang setempat tersebut, majelis hakim menghadirkan bersama, panitera beserta pihak tergugat dan kuasa hukum penggugat mendatangi lokasi tanah seluas 1000 meter persegi yang di sengketakan, yaitu di dalam lingkungan Pondok Pesantren Shiddiqiyyah, Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang.

Sayangnya, penggugat I yaitu KH Muchtar Mu’thi tidak bisa hadir. Padahal pihak tergugat selama ini sangat berharap Muchtar Mu’thi bisa dihadirkan dalam persidangan. Ia selalu diwakili tim kuasa hukumnya.

Sedangkan para tergugat yang tampak hadir diantaranya, Lu’Lu’il Azaliyah tergugat I, Buadi (penjual tanah) selaku terguguat II, Kepala Kantor Dinas Dispenduk turut tergugat II, Sutrisno Lurah Losari turut tergugat IV, tergugat V Kantor BPN sedangkan turut tergugat I Purwanto (Mantan Camat Ploso) tidak hadir.

Pada PS tersebut, majelis hakim yang diketuai Denndy Firdiansyah melihat langsung dan mengukur obyek tanah.

Setelah dilakukan pengukuran, pihak BPN membenarkan ukuran dan batas-batas lahan. Pihak BPN menyampaikan, bahwa data yang ukur yang disampikan sesuai dengan dokumen yang bawa oleh Kepala Desa Losari,
Sutrisno.

Sementara itu, Buadi mengakui bahwa dirinya menjual tanah miliknya kepada KH Muchtar Mu’thi pada tahun 1992. Saat itu, dirinya menjual tanah untuk tambahan modal usaha kayu.

“Saya jual sudah lama. Tahun 1992. Waktu itu tanah saya jual Rp 500 ribu karena mau usaha dagang kayu,” ungkapnya kepada lensaindonesia.com di sela persidangan setempat.

Di penghujung persidangan setempat, ketua majelis hakim Denndy Firdiansyah memberikan kesempatan kepada Lu’Lu’il Azaliyah untuk menyampaikan keterangan terkait batas-batas dan ukuran yang disengketakan.

Dalam keterangannya putri KH Muchtar Mu’thi itu menyatakan tidak tahu. Ia dengan lugu mengatakan, bahwa dirinya tidak tahu tanah mana yang disengketakan. Karena sebelum terjadi gugatan, dirinya tidak tahu kalau telah diberi sebidang tanah oleh ayahnya, terlabih tanah tersebut telah bersertifikat atas nama dirinya.

“Saya tidak tahu (batas dan ukuran tanah). Baru tahu (ada sertifikat tanah atas nama dirinya) ya sekarang tanah ini yang digugat,” ungkapnya disampingi kuasa hukumnya,  Edi Haryanto SH, MH CIL C. Me.

Agar detail batas objek diketahui secara jelas, perempuan yang akrab disapa Ning Luluk itu meminta kepada ketua majelis hakim untuk menghadirkan KH Muchtar Mu’thi selaku penggugat I.

“Yang tahu persis mengenai tanah ini abah saya (Penggugat I/KH Muchtar Mu’thi). Saya mohon agar beliau dihadirkan supaya jelas” pintanya kepada ketua majelis Hakim Dendy Firdiansyah.

Namun permintaan Ning Luluk untuk menghadirkan ayahnya tersebut langsung disela oleh salah satu kuasa hukum KH Muchtar Mu’thi.

“Tidak bisa (tidak bisa dihadirkan). Kan sudah dikuasakan kepada kuasa hukum. Kami mendapat kuasa,” ujarnya memotong ketarangan Ning Luluk pada ketua majelis hakim. “Beliaunya sakit, kan sudah dipasrahkan kepada tim kuasa hukum,” ujarnya menambahkan.

Sedangkan Ketua Majelis Hakim Dendy Firdiansyah juga menyampaikan hal yang sama. Kata dia, penggugat I (KH Muchtar Mu’thi) tidak bisa hadir karena sudah diwakili kuasa hukum.

“Iya sudah dipasrahkan kepada Tim kuasa, jadi ini sudah mewakili penggugat I,” ucapnya.

Usai persidangan setempat, Lu’Lu’il Azaliyah menyatakan, sebelumnya dirinya tidak tahu sama sekali menganai tanah yang disengketakan itu.

Karena itu, ia merasa heran ketika dirinya digugat karena dianggap dianggap telah memalsukan dokumen yang berujung peralihan hak atas sertifikat lahan yang kini jadi objek sengketa.

“Katanya tanah tersebut dibeli abah tahun 1992. Lalu ada sertifikatnya atasnama saya. Informasinya sertifikat itu terbit tahun 2000. Saya masih 19 tahun saat itu, ya saya kan nggak tahu. Dokumen apa yang saya palsukan. Saya tidak pernah memalsukan dukumen apa-pun. Kalau sidang ini tujuannya untuk mencari kebenaran, saya minta abah dihadirkan,” ucap Ning Luluk.@rofik