LENSAINDONESIA.COM: Pemasalahan hukum terkait aset tanah terus melanda Pondok Pesantren (Ponpes) Shiddiqiyyah, Jombang.

Setelah melakukan gugatan terhadap Lu’Lu’il Azaliyah, putri pengasuh Pondok pesantren Siddiqiyyah KH Muchtar Mu’thi atas tuduhan pemalsuan dokumen yang berujung peralihan hak atas sertifikat lahan, kini melalui tim kuasa hukumnya, Yayasan Pendidikan Shiddiqiyyah (YPS) melayangkan somasi terhadap tiga anak KH Muchtar dari istri Hj Endang Yuniati yang lain untuk mengembalikan beberapa sertifikat tanah yang telah diberikan.

Anak KH Muchtar Mu’thi hasil penikahan dengan Nyai Endang yang disomasi itu adalah Khamalat Azizah, Qoim Liddinillah dan Muntasir Billah.

“Ya benar kami disomasi. Kami disomasi untuk mengembalikan sertifikat tanah. Saya sendiri nggak tahu sertifikat itu. Katanya sertifikat itu atas nama saya, kakak dan adik saya,” kata Qoim Liddinillah saat ditemui usai persidangan setempat (PS) pada objek tanah sengketa atas gugatan yang diajukan KH Muchtar Mu’thi terhadap Lu’Lu’il Azaliyah, Jumat siang (23/07/2021).

Sesuai surat kuasa kepada tim kuasa hukumnya nomor 16/SK.ST/LKBH./S/VI/2021 yang dibuat pada Sabtu 24 Juni 2021 itu, Yayasan Pendidikan Shiddiqiyyah Pusat yang mengatasnamakan KH Muchtar Mu’thi meminta Khamalat Azizah, Qoim Liddinillah dan Muntasir Billah mengembalikan beberapa sertifikat tanah dengan dalih akan dihibahkan ke yayasan.

Ketiga anak kandung H Muchtar Mu’thi itu diberi deadline (tenggat waktu) hingga Sabtu 24 Juli 2021 untuk menyerahkan sertifikat-sertifikat tanah yang sudah atasnama mereka ke kantor Lembaga konsultasi dan bantuan Hukum (LKBH) Siddiqiyyah di Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang.

Dalam somasi pertama itu tim kuasa hukum menyebut;

Bahwa tanah-tanah dengan Sertipikat Hak Milik tersebut diatas telah di Hibahkan untuk menjadi Pondok Pesantren Pesantren Cinta Tanah Air Indonesia Raya Jati Diri Bangsa yang menjadi tempat proses belajar dan mengajar santri dan warga Shiddiqiyyah.

Bahwa semua tanah-tanah dengan Sertipikat Hak Milik tersebut diatas adalah milik klien kami yang telah dibeli klien kami kepada pemilik awal/asal tanah-tanah tersebut.

Bahwa klien kami pada saat membeli tanah-tanah tersebut belum sempat melakukan proses balik nama disertipikat keatas namanya dan/ataa pada saat sertipikat belum ditdrbitkan ke atas nama saudari (Kamalat Azizah).

Bahwa semestinya sertipikat-sertipikat tersebut diatas menjadi hak dari klien kami. Yang mana Peralihan Hak atas sertipikat kepada saudari tidak benar atau menyimpang dari yang seharusnya dan/atau terjadi suatu Perbuatan Melawan Hukum dalam proses penerbitan
sertipikat.

Bahwa sertipikat-sertipikat hak milik atas nama sauadari tersebut diatas, yang saat ini dipegang dan dikuasai oleh saudari adalah Hak dari Klien kami.

Dalam kuasanya kepada Tim kuasa hukum Lembaga konsultasi dan bantuan Hukum (LKBH) Siddiqiyyah, KH Muchtar Mu’thi menyebutkan bila ketiga putra-putrinya tidak mengindahkan somasi yang dilayangkan dan menyerahkan sertifikat itu, maka pihaknya akan menempuh jalur hukum baik perdata maupun pidana.

Terkait hal ini, Qoim Liddinillah merasa heran somasi yang dilayangkan tersebut. Ia yakin somasi itu dibuat tanpa sepengetahuan ayahnya, yaitu KH Muchtar Mu’thi.

“Sebelumnya saya tidak tahu kalau ada sertifikat atas nama saya, Ning Zizah (Khamalat Azizah) dan Mas Billah (Muntashir Billah). Dan kami memang tidak mau tahu. Ya nggak mungkin abah mensomasi kami yang anak kandungnya ini,” ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Gus Qoim ini menyampaikan, bahwa ayahnya tidak mungkin asal somasi dan menggugat. Sebagai ulama dan Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah KH Muchtar Mu’thi pasti akan berbicara baik-baik.

“Abah tidak mungkin menggunakan cara-cara seperti itu (mensomasi dan menggugat). Saya tidak yakin. Apalagi kami tidak tahu soal sertifikat-sertifikat yang dimaksud itu. Pasti beliau akan bicara secara langsung kepada kami,” tutrnya.

Saat ditanya, mengapa KH Muchtar Mu’thi tidak berbicara langsung atau memanggil anak-anaknya untuk membicarakan sertifikat-sertifikat itu, Gus Qoim menyampaikan hal yang sangat mengejutkan. Bahwa dirinya dan keluarga sudah sekitar 2 tahun tidak bisa bertemu dengan KH Muchtar Mu’thi meski tinggal dalam satu lingkungan pondok.

“Jujur ya. Saya, kakak adik saya dan ibu saya sudah sekitar dua tahun sudah nggak bisa ketemu abah, bahkan saat Hari Raya Idul Fitri kemarin, padahal abah tinggal di rumah sebelah. Aneh kan?. Terakhir ketemu tahun 2019 saat beliau sakit,” ungkapnya.

Gus Qoim menyampaikan, dirinya dan saudaranya beberapa waktu lalu sempat berkunjung ke rumah sebelah untuk bertemui sang ayah, namun upayanya tidak pernah berhasil.

“Namanya anak ya kangen sama orang tua. Apalagi abah sudah sepuh, 93 tahun. Tapi kami tidak bisa menemui. Ada pihak yang selalu menghalang-halangi. Alasannya macam-macam. Dulu di belakang rumah kami ini ada lorong yang menghubungan dengan rumah Abah. Tapi lorong yang menjadi akses Abah untuk ke rumah kami itu sudah ditutup. Nggak tahu kenapa. Bahkan, depan depan kami juga sudah ditutup, sehingga untuk keluar masuk kami lewat gang sempit bobolan di samping pondok. Kami tidak bisa lagi keluar masuk lewat pondok, padahal rumah kami berada di dalam lingkungan pondok pesantren,” tutup Gus Qoim.@rofik