LENSAINDONESIA.COM: Akibat sembrono dalam berkomentar di sosial media, Abdul Aziz (23) harus berurusan dengan pihak kepolisian. Pemuda asal Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan tersebut, diamankan oleh petugas Satuan Reskrim Polres Madiun Kota, karena diduga telah melakukan pendiskreditan dan penghinaan terhadap profesi wartawan di salah satu grup Facebook.

“Iya pihak kami berhasil mengamankan pelaku yang diduga mentransmisikan penghinaan tersebut, kemarin lusa, Selasa (27/7/2021),” ungkap Kapolres Madiun Kota AKBP Dewa Putu Eka Darmawan dalam gelaran press release, Kamis (29/7/2021).

Didampingi oleh Kasat Reskrim AKP Fatah Meilana, orang nomor satu di jajaran Polres Madiun Kota itu menjelaskan, pihaknya menerima laporan dari sejumlah jurnalis Madiun pada 20 Juli 2021 terkait komentar pelaku pada unggahan video viral seorang terapis dan seorang tokoh agama menghirup napas pasien Covid-19, yang kemudian keduanya dikabarkan meninggal dunia.

Abdul Aziz yang tidak percaya tokoh agama tersebut meninggal akibat tertular Covid-19, menuliskan komentar yang berujung pada penghinaan terhadap profesi wartawan.

“Layo endi Vidio pas detik-detik e wonge mati … tenan kenek korona opo Ra … opo mati mergo obat. Neng agama wae di ajarne … pekerjaan paling hina itu seorang wartawan … kenapa bisa hina … karna selalu menyampaikan berita-berita untuk saling memfitnah sana sini … alias hoax,” tulis Abdul Aziz melalui akun Mas Aziz di kolom komentar. Saat ini akun facebook tersebut sudah dihapus.

Menindaklanjuti laporan tersebut, jajaran Satreskrim Polres Madiun Kota melakukan penyelidikan, dan kemudian berhasil mengamankan pelaku.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 45 Ayat 3 junto Pasal 27 Ayat 3 UU RI Nomor 19 tahun 2016 sebagai perubahan atas UU RI Nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik, dengan ancaman pidana kurungan 4 tahun dan atau denda kurang lebih 750 juta rupiah.

Meski demikian, AKBP Dewa Putu Eka Darmawan menyebutkan, untuk sebisa mungkin mengedepankan Restorative Justice atau suatu pendekatan yang lebih menitik-beratkan pada kondisi terciptanya keadilan dan keseimbangan bagi pelaku tindak pidana serta korban.

“Kami menindaklanjuti berdasarkan delik pengaduan dan memberikan ruang untuk Restorative Justice,” ucap Dewa di hadapan awak media. “Kami kembalikan kepada pelapor, apakah nantinya cukup dengan permintaan maaf secara terbuka, didepan forum dan harus diposting lagi,” tambahnya.

AKBP Dewa berharap, kasus pelanggaran UU ITE semacam ini bisa menjadi pelajaran bagi pelaku dan masyarakat, untuk bijak dalam menyebarluaskan informasi dan berkomentar di media sosial.

“Himbauan saya, masyarakat jangan mudah menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya atau memberi komentar yang tidak pantas. Memang sekarang media sosial merupakan ruang terbuka untuk semua, tapi di sana ada hak orang lain yang harus kita hargai,” pungkas Dewa.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, pelaku mengakui kesalahan atas perbuatannya dan meminta maaf di hadapan para wartawan yang hadir dalam press release di Mapolres Madiun Kota tersebut.

“Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh wartawan, di Madiun khususnya, atas komentar saya sebelumnya yang telah menyinggung wartawan dan pihak lain. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi, dan saya akan lebih bijak lagi di media sosial,” kata Abdul Aziz.

Sebagai informasi, dari tangan pelaku, Kepolisian berhasil menyita barang bukti berupa handphone yang digunakan sebagai alat transmisi unggahan di akun media sosialnya. @Limad