LENSAINDONESIA.COM: Rumah Sakit Lapangan (RSL) Kogabwilhan II tengah mewaspadai varian baru COVID-19 yang masuk melalui Pekerja Migran Indonesia (PMI), yang baru pulang dari luar negeri. Sebab, di beberapa PMI ditemukan fenomena CT value ekstrim atau angkanya sangat rendah.

Penanggungjawab RSL Kogabwilhan II Laksamana Pertama dr Ahmad Samsulhadi, mengaku pihaknya tengah mencermati salah seorang pasien PMI yang nilai CT value-nya di angka 1,8. Angka ini termasuk sangat rendah dan memiliki potensi penularan cukup tinggi.

“Untuk penanganan pasien PMI, kita sangat antisipatif. Terutama kemungkinan varian baru muncul. Karena kami menemukan nilai CT value 1,8 pada satu pasien, sampai saya tanya dan konfirmasi ke dr. Fauqa, ini nilai CT valuenya 1,8 atau 18? Mohon swab PCR nya diulang, karena pasien ini sudah dirawat 12 hari,” ulasnya, Rabu (8/9/2021).

Setelah diulang, dr Samsulhadi mengatakan nilai CT value pasien tersebut memang 1,8. Tak hanya itu, dr Samsulhadi mengungkapkan ada beberapa pasien PMI yang sudah 10 hari dirawat, tapi nilai CT valuenya masih di bawah 15.

Sementara, Dokter Spesialis Patologi Klinis sekaligus Dokter Penanggungjawab Pasien (DPJP) RSLI, dr. Fauqa Arinil Aulia menyebut, pihaknya sering menemui fenomena CT value ekstrim hingga di bawah 5.

“Fenomena yang ada di RSLI akhir-akhir ini memang kami menemukan CT Value ekstrem, dan masih pada angka yang sangat rendah,” ungkapnya.

“Padahal teorinya, pada varian lain progresnya baik, CT Value naik. Bahkan hari ke 13 sudah negatif. Sedangkan sekarang ini kok malah kebalikannya, minggu kedua seperti mulai kembali terserang, dengan indikasi nilai CT Value yang masih rendah, di bawah 25 bahkan di bawah 5,” tambah dia.

Ketika ditanya apakah hal ini mengarah ke varian baru atau masih di varian Delta, dr Fauqa tak bisa memastikan. Sebab, hingga kini masih menunggu hasil Whole Genome Sequencing (WGS).

Sambil menunggu hasil 78 sampel yang telah menjalani pengujian, pihaknya terus memonitor pasien dengan CT Value rendah, apakah varian baru atau tidak.

“Kita tidak bisa berandai-andai, semua masih menunggu konfirmasi dari WGS dari sampel yang kita kirimkan,” ungkapnya.

Tidak berhenti pada pendeteksian varian baru, terkait Covid-19 varian MU yang termasuk Varian of Interest (VoI) yang telah melanda 39 negara itu juga menjadi perhatian oleh pihaknya.

“Terhadap varian MU ini kita tidak perlu khawatir. Sebagai VoI sifatnya tidak berubah dari gejala klinis, perkembangan di penyakitnya, dan juga terapinya masih sama. Yang perlu kita waspadai adalah Varian of Concert (VoC), dan Varian of High Consequence (VoHC) yang sekarang memang belum ada,” paparnya.

Jika pada varian delta, CT value pasien bisa di bawah 25 hingga di bawah angka 5, dr Fauqa menyebut varian MU tidak seperti itu.

“Untuk VoC itu contohnya adalah Delta. Varian Delta kemarin termasuk VoC, seperti kita tahu kemarin sangat heboh, outbreaknya luas dan mereka yang terinfeksi Delta, nilai CT Valuenya rata-rata dibawah 25, dan ada yang ekstrem dibawah 5. Sedangkan pada Varian MU masih termasuk VoI, karakteristiknya urutan dasar masih sama, tidak merubah sifat dasar virus. Jadi tidak perlu terlalu dirisaukan,” pungkasnya. @wendy