LENSAINDONESIA.COM: Berprofesi sebagai dokter mempunyai resiko tinggi terpapar virus Corona. Hal itu, diakui oleh dr. Melisa Indah Purnama, seorang dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Ploso, Kabupaten Jombang. Ya, selama pandemi ini,

Melisa sudah dua kali terpapar virus COVID-19.

“Saya dua kali sudah terpapar, yang pertama itu pada Desember tahun kemarin dan yang kedua pada akhir Juni kemarin,” ungkap dr. Melissa saat ditemui lensaindonesia.com, Selasa (07/09/2021).

Diceritakan Melisa, positif COVID-19 pertama yang dialaminya terjadi saat persebaran virus Corona di Kabupaten Jombang sedang mengalami peningkatan tajam. Ia tidak tahu tertular dari siapa dan di mana persisnya.

“Kan pada waktu itu lagi meningkatnya, banyak juga yang nakes (tenaga kesehatan) yang terpapar. Sehingga saya juga ditracing akhirnya itu diketahui positif,” ungkapnya.

Pada saat mendengar hasil tes PCRnya positif, Melisa langsung melakukan isolasi di RSUD Ploso. Saat itu ia mengalami gejala indera penciuman dan perasa sudah hilang, tidak bisa merasakan apapun, sehingga harus dilakukan perawatan lebih lanjut.

“Saat itu indera penciuman dan perasa saya sudah hilang dan tidak merasakan apa-apa,” bebernya.

Saat menjalani isolasi Melisa merasa sudah mengendalikan stres. Akan tetapi, dirinya terus berjuang dan meyakini bahwa dirinya bisa sembuh.

Perempuan berparas cantik ini mengatakan, dirinya bisa mengedalikan stres karena sering berkonsultasi sesama dokter untuk menambah wawasan bagaimana cara menguatkan mental sehingga bisa sembuh dari ganasnya virus tersebut.

Diakui Melissa, meski dirinya juga dokter tentu tidak bisa melakukan pemeriksaan sendiri, jadi tetap memerlukan dokter lainya. Sehingga, dirinya juga sering melakukan konsultasi dengan teman dokter yang lain yang melakukan isolasi di rumah sakit.

“Dari situ saya disiplin menjalankan protokol kesehatan, mengurangi aktifitas berlebih, juga bercerita saling support dengan nakes (tenaga kesehatan) yang lain.
Jadi hiburannya itu bisa saling sharing,” tuturnya.

Melisa menyampikan, bahwa dirinya saat itu memilih melakukan isolasi di rumah sakit karena kondisi kesehatanya bisa selalu terpantau.

“Ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat, kalau isolasi di rumah sakit memang lebih terpantau, ada kunjungan dari dokter spesialis juga. Jadi, 10 hari saya sudah dinyatakan negatif,” imbuhnya.

Setelah sembuh, Melisa pun kembali menjalani aktivitasnya sebagai dokter. Ia melayani pasien dan bertemu banyak orang di rumah sakit.

Aktivitasnya yang mengharuskan bersentuhan dengan pasien inilah, membuat Melisa kembali terpapar COVID-19 yang kedua kalinya pada Juni kemarin. Ia menyadari, mungkin dirinya terpapar virus saat sedang lengah.

“Mungkin saat itu saya dengan lengah, sebab sehari-hari saya selalu tertip protokol kesehatan. Jadi memang penggunaan masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari kerumuman itu kunci untuk terhindar dari COVID-19. Jangan sampai lengah,” ujarnya.

Saat terpapar COVID-19 kedua, Melisa tidak mengalami gejala seperti yang pertama. Kali ini, ia hanya merasakan badannya terasa capek dan berat.

“Yang kedua ini, saya melakukan isolasi mandiri (Isoman). Karena memang keluhan tidak parah seperti yang pertama. Hanya merasakan capek-capek saja,” terangnya.

Berdasar dari pengalaman yang pertama, Melisa harus melawan mental sendiri agar tidak stres. Terlebih sewaktu terpapar pertama belum ada vaksin, sehingga mental juga menjadi drop, namun bisa diatasi dengan penanganan yang tepat dan juga support.

“Kan kalau kena seperti ini juga menyerang mental. Tapi juga harus yakin bisa sembuh. Terlebih yang pertama dulu memang saya belum divaksin, jadi keluhannya juga agak berat. Kalau yang kedua ini kan sudah divaksin. Jadi, vaksin itu memang sangat penting sekali,” tegasnya.

Terlebih lagi, tetap menjaga protokol kesehatan, memakai masker, menjaga jarak, rajin mencuci tangan dengan sabun, menghindari kerumunan juga memgurangi aktifitas secara ketat sangat dibutuhkan.

“Kami nakes sudah jaga prokes ketat, tapi paparan kami yang tinggi dan kelelahan juga sangat mudah terapapar,” jelasnya.

Sehingga, apabila masyarakat mengalami gejala yang disinyalir mengarah pada COVID-19, bersegeralah untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat, untuk mendapat pelayanan dan penanganan.

“Jangan segan-segan untuk segera melakukan pemeriksaan ke dokter. Semakin cepat memeriksakan diri semakin cepat diobati semakin cepat juga proses pemulihan. Karena banyak yang takut periksa dan akhirnya datang kondisi terlambat,” tandasnya.

Melisa juga mengingatkan supaya tetap menerapkan protokol kesehatan dan ikuti vaksinasi, karena hal inilah sangat penting. Disamping menguatkan mental dan meyakini bahwa bisa sembuh. “Tetap prokes dan laksanakan vaksin,” pungkasnya.@Obi