LENSAINDONESIA.COM: Ali Usman, bandar narkoba yang mencatut nama puluhan oknum polisi telah menerima upeti darinya kembali menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (15/09/2021).

Dalam sidang dengan agenda keterangan saksi tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suparlan dari Kejari Surabaya menghadirkan tiga orang untuk diminta kesaksiannya, Maskhori dan Munali anggota Satreskoba Polrestabes Surabaya serta Ahmat Taufik Hidayatullah (Bandar) penyuplai barang.

Maskhori dan Munali kedua saksi (Penangkap) saat dimintai keterangan menyatakan, penangkapan terhadap terdakwa Ali Usman hasil pengembangan dan pengakuan dari terdakwa Ahmad Taufik Hidayatullah (berkas terpisah) yang sebelumnya diamankan di Nganjuk, Jawa Timur.

“Dari pengakuan terdakwa Ahmad Taufik, pada Senin 1 Maret 2021 kami mengamankan terdakwa saat berada di salah satu kamar Apartemen Puncak Permai Kertajaya Indah Regency. Di sana kami temukan barang bukti 15 butir Pil double L,” terang saksi penangkap.

Atas keterangannya itu, menurut saksi didapat keterangan terdakwa menyimpan barang bukti lainnya berupa 2 poket sabu dan 42 butir extacy di kamar Apartemen Twins Jl Kalisari. “Di sana kami temukan juga barang bukti 2 poket sabu dan 42 butir extacy berbagai jenis,” tambahnya.

Saksi Maskhori juga menyatakan, bahwa terdakwa telah membeli sabu sebanyak 100 gram terhadap saksi Ahmad Taufik Hidayatullah pada Desember 2020 dan 200 gram sabu sebulan berikutnya.

“Yang 2 poket sabu itu, sisa pembelian dari Ahmad Taufik, pada Desember 2020 membeli 1 ons, dan Januari 2021 beli 2 ons,” paparnya.

Atas keterangan kedua saksi penangkap tersebut, dibenarkan oleh saksi Ahmad Taufik. Atas pesanan dari terdakwa tersebut, dirinya memesan barang (sabu) kepada Raffi bandar narkoba yang saat ini mendekam di Lapas Pamekasan Madura.

“Atas pesanan itu, saya menghubungi Raffi untuk dikirimkan barang kepada terdakwa. Kemudian Raffi menyuruh anak buahnya melakukan transaksi dan langsung bertemu dengan Ali Usman,” ungkap saksi Ahmad Taufik.

Saksi Ahmad Taufik menegaskan, dalam transaksi tersebut, dilakukan dua kali sistem pembayaran yakni Cash dan transfer.” Pembayar cash Rp 60 juta yang diserahkan langsung kepda Raffi, dan sisanya (Rp 40 juta) ditransfer ke rekening saya,” tambahnya.

Atas keterangan para saksi tersebut, tidak dibantah oleh terdakwa, namun dirinya menyatakan bahwa uang tunai sebesar Rp 40 juta yang disimpan dalam celengan, ikut disita petugas yang tidak ada hubungannya dengan transaksi narkoba.

Sementara 1 unit motor Vespa dan 2 unit mobil yang disita oleh petugas, diakui hasil dari penjualan narkotika.

“Benar yang mulia, tapi uang saya Rp 40 juta yang didalam celengan, ikut disita. Itu tidak ada kaitannya dengan transaksi narkoba, tapi hasil dari penjualan pakaian,” ungkapnya.@rofik