LENSAINDONESIA.COM: Firdaus Fairus (53) oknum pengacara yang menjadi terdakwa dalam perkara penganiayaan terhadap asisten rumah tangganya yaitu Elok Anggraini Setiawati kembali menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (15/09/2021).

Dalam sidang dengan agenda keterangan saksi tersebut, terdakwa Fairus melalui kuasa hukumnya menghadirkan dua orang untuk diminti kesaksiannya yakni Adi Mulyono dan Ishadi, keduanya sekuriti perumahan.

Dalam keterangannya, keduanya banyak mengaku tidak tahu.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Martin Ginting, saksi Ishadi sempat mengatakan bahwa pada saat dia melakukan patroli keliling perumahan, melihat korban Elok Anggraini Setiawati sedang dijemur dalam keadaan membungkuk.

“Saya bertanya pada Bu Fairus, kenapa kok pembantunya dijemur seperti itu. Terus Bu Fairus bilang, dia itu maling biar tahu rasa,” ungkap Ishadi.

Saksi Ishadi mengaku sempat menyarankan kepada terdakwa bila sudah tidak suka agar memulangkan korban. “Kasihan bu, kalau tidak suka dipulangkan saja. Sama Bu Fairus dijawab kalau pembantunya itu tidak mau pulang kalau tidak bersama anaknya, kata bu Fairus anaknya ini pintar,” lanjutnya.

Atas keterangan saksi tersebut, terdakwa membantah menjemur korban, dirinya menyatakan sedang menunggu tukang rombengan yang telah membeli jilbab dan leaging yang dicuri korban.

“Kalau menjemur itu tidak benar yang mulia, korban telah mencuri jilbab dan celana leaging saya kemudian dijual kepada tukang rombengan. Disitu kami menunggunya untuk membelinya lagi,” ungkap terdakwa keberatan.

Atas pernyataan terdakwa itu, saksi Ishadi menarik keterangannya dan menyatakan korban tidak dijemur, melainkan dipanaskan sambil jongkok.

“Bukan dijemur yang mulia, tapi dipanaskan,” ucap saksi Ishadi menarik keterangannya.

Saksi Ishadi juga menerangkan, bahwa dirinya pernah mendapat laporan dari terdakwa Firdaus Fairus, korban pernah minum minyak tanah.

“Saya pernah dibilangin sama Ibu Fairus, kalau korban pernah minum minyak tanah,” ungkapnya.

Pernyataan saksi yang diharapkan dapat meringankan tersebut, kembali dibantah oleh terdakwa, bahwa yang diminum terdakwa bukan minyak tanah, melainkan gas.

“Yang mulia, kami keberatan atas pernyataan saksi, bahwa yang diminum itu bukan minyak tanah, tapi Gas. Dia minum dilantai tiga sehingga pingsan, lalu saya gendong ke lantai I, dan itu saya laporkan kepada ketua RT,” sanggah terdakwa.

Atas keterangan saksi yang berubah dan menarik keterangannya sendiri dalam sidang serta tidak mengakui BAP kepolisian tersebut, Tono salah satu kuasa hukum terdakwa menyalahkan penyidik kepolisian.

“Saksi ini hanya diminta tanda tangan tanpa tahu isi BAP nya, jadi langsung tanda tangan. Kalau keterangan faktanya ya sekarang ini dalam sidang,” ucapnya.

Seperti diketahui, kasus penganiyaan berawal dari Firdaus Fairus mengantarkan Elok Anggraini Setiawati (EAS) ke lingkungan pondok sosial (Liponsos) Surabaya.

Firdaus Fairus mengatakan, jika asisten rumah tangganya tersebut mengalami gangguan kejiwaan. Namun saat dirawat petugas menemukan kejanggalan pada tubuh EAS yang mengalami banyak luka lebam.

Dari situ korban mengaku dianiaya oleh majikannya bahkan dipaksa memakan kotoran kucing oleh sang majikan. Dihadapan penyidik kepolisian disebutkan bahwa motif tersangka melakukan penganiayaan tersebut lantaran merasa kesal atas pekerjaan rumah yang dilakukan oleh EAS.

EAS mulai bekerja di kediaman Firdaus Fairus  sejak April 2020. Namun sejak memasuki Agustus EAS mengalami tindak kekerasan fisik yang berujung pada penahanan terhadap Firdaus.

Akibat perbuatannya, terdakwa dijerat pasal berlapis yakni Pasal 44 Undang-Undang nomor 23 tahun 2004 tentang Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan, dengan ancaman pidana maksimal lima tahun penjara.@rofik