LENSAINDONESIA.COM: Belasan orang pemilik tanah kapling di Gunung Anyar Surabaya yang tergabung dalam Paguyuban Restabun Karya memasang spanduk di kawasan lahan milik mereka, Sabtu siang (18/09/2021).

Spanduk tersebut dipasang karena selama ini, ada pihak yang berusaha mengusai tanah tersebut.

Pantauan lensaindonesia.com, ada dua spanduk warna kuning yang dipasang di lahan Petok D no 1159 itu. Spanduk pertama kuning bertuliskan “TANAH INI MILIK PAGUYUBAN TANAH KAVLING RESTABUN KARYA”.

Dan kedua, “Siapapun dilarang memasuki/melakukan kegiatan apapun di atas tanah kavling milik Paguyuban Tanah Kavling Restabun Karya berdasarkan putusan Mahkamah Agung No. 1320 K/KiD/2019 yang berkekuatan hukum tetap (Inkracht). Barang siapa yang memasuki pekarangan ini dan mempergunakan tanah ini tanpa ijin akan kami tuntut dengan ancaman pidana”.

Ketua paguyuban Restabun Karya Tanto Wibisono mengatakan, akibat upaya pihak lain menguasai lahan tersebut, para pemilik menjadi tidak bisa memanfaatkan tanah hak miliknya. Padahal, putusan Mahkamah Agung NO. 1320 K/PiD/2019 telah menyatakan bahwa para warga yang kini tergabung dalam paguyuban adalah pemilik yang sah.

Karena itu, lanjut Tanto, pihaknya memasang sepanduk berisi pengumuman tersebut sebagai pengingat semua pihak terkait.

“Berdasar putusan Mahkamah Agung NO. 1320 K/PiD/2019 sudah menjelaskan kamilah pemilik yang sah. Tapi sampai saat ini selalu saja ada pihak yang hendak menguasai atau menghalang-halangi kami dengan cara premanisme,” ujarnya saat ditemui lensaindonesia.com, Sabtu (18/09/2021).

Saat ini lahan tersebut masih diawasi oleh orang yang diduga preman suruhan Fauzi oknum anggota TNI yang merupakan pihak bersebrangan di pengadilan beberapa waktu lalu.

Fauzi diduga masih memerintahkan orang suruhannya menjaga tanah sengketa yang diklaim oleh pihaknya melalui plat berukuran kurang lebih 4 meter dengan tulisan ‘Tanah ini Milik Fauzi’.

Tanto menjelaskan, pihaknya pernah mencoba untuk berkomunikasi dengan sekelompok massa, tetapi berakhir dengan pengeroyokan yang mengakibatkan Bakri, Yerly, Adhy, dan Ahmad Arif (polisi berpakaian preman) mengalami luka.

Polisi berpakaian preman tersebut dikepruk dengan vas bunga dan korban lainnya juga dikeroyok. Malah ada korban yang ditendang para pelaku saat hendak menyelamatkan diri.

“Lah kami mau ngomong baik baik malah dikeroyok, ada korbannya perempuan umur 55 dipukuli sampai pingsan,” ungkapnya.

Pengeroyokan ini sudah dilaporkan ke Polrestabes Surabaya dan telah menetapkan Roni Frieds (43), warga Jalan Rungkut Lor Surabaya, sebagai tersangka. Sayangnya pelaku pengeroyokan yang diperkirakan dilakukan oleh lebih dari 5 orang lainnya belum tertangkap.

Terkait dengan pemasangan banner ini, lanjut Tanto, untuk menegaskan pihak lain tentang status tanah. Pasalnya, selama ini banyak pihak yang memanfaatkan tanah tersebut untuk tipu-tipu.

“Kami minta polisi maupun kesatuan dimana Fauzi bertugas memberikan dukungan dan pendampingan kepada kami dalam menghadapi masalah ini,” pungkasnya.

Sekadar informasi, kasus sengeta tanah ini telah sampai di persidangan Pengadilan Militer III-12. Sedangkan, terkait pengeroyokan sudah ditangani Polrestabes Surabaya, meski ada beberapa pelaku yang masih buron.

Fauzi juga sudah ditetapkan sebagai terdakwa di pengadilan militer dengan dakwaan pengerusakan, penyerobotan tanah, dan pemalsuan keterangan dalam data otentik.

Sayangnya, satu bulan terakhir sidang dihentikan karena Fauzi tiba-tiba menghilang atau mangkir dari panggilan dan tugas.

Selama mangkir, Fauzi diduga masih memerintahkan orang suruhannya menjaga tanah yang terletak di wilayah Kecamatan Gunung Anyar ini.@wendy