LENSAINDONESIA.COM: Sidang terhadap tiga oknum anggota Sat Reskoba Polrestabes Surabaya, Kamis (23/9/2021) kembali digelar di Pengadilan Negeri Surabaya, dengan agenda keterangan saksi. Nama mantan Kasat Reskoba AKBP Memo Ardian muncul sebagai orang yang ‘dicokot’

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hari Basuki dari Kejati Jatim, menghadirkan AKP Firso Trapsilo anggota Paminal Mabes, yang melakukan penangkapan saat ketiga terdakwa pesta sabu di Hotel Midtown, Jl Raya Ngagel, Surabaya.

Dalam keterangannya, saksi AKP Firso Trapsilo menyatakan bersama tim mendapat surat perintah penyelidikan (Sprindik) dari Kadiv Propam, atas dugaan pelanggaran ketidak profesionalan serta kode etik terhadap oknum anggota Polrestabes Surabaya.

“Setelah melakukan penyelidikan dan pendalaman serta memintai keterangan saksi korban, kami mendapat keterangan yang mengarah kepada saudara Eko Julianto,” terang AKP Firso.

Atas keterangan tersebut, pihaknya melakukan pendalaman serta profilling terhadap Kanit III Sat Reskoba Polrestabes Surabaya, Iptu Eko Julianto, hingga melakukan pembuntutan dan pengintaian di rumahnya.

“Kami sempat meminta keterangan dari saksi korban di rumahnya. Dari keterangan tersebut mengarah kepada saudara Eko Julianto. Kami lakukan profilling dan pembuntutan hingga mengawasi rumahnya,” tambahnya.

Disinggung JPU isi surat perintah (Sprint) yang dipegang sebagai dasar penangkapan, saksi menyatakan tidak ada keterkaitan dengan narkoba, melainkan tindakan ketidak profesionalan dan kode etik.

“Tidak ada terkait masalah narkoba, melainkan masalah ketidak profesionalan serta kode etik, dimana dari keterangan saksi diduga sering minta uang,” tambah saksi AKP Firso.

Atas penyelidikan tersebut, menurut saksi timnya mengetahui terdakwa Iptu Eko Julianto berada di Hotel Midtown. Namun karena tidak mendapat akses masuk ke kamar, tim Propam Mabes Polri menunggu di parkiran.

“Saat di parkiran, kami mendapati terdakwa Agung Pratidina keluar ke halaman parkir menuju mobilnya. Disitu kami langsung menanyakan maksudnya dan dijawab sedang menyanyi. Lalu muncul saudara I Made Sutayana sehingga keduanya kami periksa dan meminta menunjukan kamar hotel,” paparnya lebih lanjut.

“Jadi di sana (kamar hotel) ada 5 oknum polisi dan 3 warga sipil. Disitu kami menemukan barang bukti bong (alat hisap sabu) kemudian kami lakukan tes urine ,” ujarnya lebih lanjut.

Hasilnya, terdakwa Iptu Eko Julianto, Aipda Agung Pratidina dan Brigpol Sudidik dan tiga warga sipil lainnya hasilnya positif. Sementara 2 polisi yakni Iptu I Made Sutayana dan Bripka Iwan (Polsek Tandes) negatif.

“Setelah kami mintai keterangan, saudara Eko mengaku masih memiliki barang bukti lain yang disimpan di laci meja ruang kerjanya (Unit III Polrestabes Surabaya),” ungkap AKP Firso.

“Barang bukti yang ditemukan di ruang kerjanya itu, diakui hasil dari penangkapan calon tersangka Ari Bimantara dan perkara lainnya,” sambung saksi.

Ditanya apakah ketiga terdakwa saat di Hotel Midtown atas sepengetahuan Kasat Reskoba Polrestabes Surabaya AKBP Memo Ardian, saksi menyatakan tidak setelah mendapat keterangan langsung.

“Kami sudah memeriksa beliaunya di salah satu kamar Apartemen, untuk memastikan, dan beliau mengaku tidak tahu kalau terdakwa berada di haotel Midtown,” pungkasnya.

Atas keterangan saksi tersebut, terdakwa Aipda Agung Pratidina menanggapi menyatakan bahwa keterangan saksi ada yang tidak benar terkait mantan atasannya tidak mengetahui kegiatannya saat itu.

“Kasat saat itu mengetahui kegiatan kami, bahkan barang bukti yang ada pada saya, dikasih Kasat yakni AKBP Memo Ardian,” sahutnya saat diminta menanggapi menanggapi keterangan saksi. @rofik