LENSAINDONESIA.COM: Virgil Griffith, pengembang Ethereum, terancam dipenjara 6,5 tahun. Jaksa AS menuding, Griffith membantu pemerintah Korea Utara (Korut) untuk mencuci uang alias money laundering.

Kasus ini berawal pada November 2019 silam, ketika Griffith datang ke Korea Utara untuk menghadiri konferensi blockchain pertama di negeri itu. Di sana dia mempresentasikan sejumlah keunggulan teknologi blockchain untuk mentransfer uang lintas negara. Presentasi khusus itu dihadiri oleh sejumlah petinggi negara pimpinan Kim Jong-un.

Namun, usai dari Korut dan kembali ke Amerika Serikat, Griffith malah dipanggil oleh FBI dengan dugaan membantu negara musuh AS. Yakni, melanggar Undang-undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional, yang melarang warga AS mengekspor teknologi dan kekayaan intelektual ke negara-negara komunis.

Dan kasus tersebut akhirnya dilimpahkan ke kejaksaan. Namun, peneliti Ethereum Foundation itu itu awalnya tidak mengakui. Namun,mendadak pada Senin (27/9/2021) Griffith malah mengakui bersalah atas tuduhan jaksa, yakni berkonspirasi dengan Korut untuk melanggar undang-undang sanksi Amerika Serikat.

Sementara, atas pengakuan tersebut Griffith dipastikan akan mendapatkan ancaman hukuman 6,5 tahun penjara. Dan, siding lanjutan kasus ini akan dilakukan beberapa pecan mendatang, setelah pemilihan juri dari New York.

Di tempat terpisah, Ethan Lou, yang ketika itu bersama Griffith ke Korut mengaku tidak tahu apa alasan Griffith mengakui hal tersebut. “Tidak jelas hal dia justru mengaku bersalah. Surat pengakuan itu dia tandatangani pada (26/9/2021),” ujar Lou pada akun Twitter-nya.

Tak lama kemudian, FBI melakukan penangkapan terhadap Virgil Griffith. Dan tanpa menunggu lama, kasus langsung dilimpahkan ke Kantor Kejaksaan Southern District di New York dan diumumkan kepada publik.

“Griffith diduga melakukan perjalanan ke Korea Utara tanpa izin dari pemerintah federal. Di sana ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum Amerika Serikat. Kami tidak bisa membiarkan negara manapun untuk menghindari sanksi, sebab Korea Utara memiliki dana, teknologi dan informasi untuk meningkatkan kemampuan senjata nuklirnya yang bisa mengancam keamanan dunia. Lebih mengerikan lagi jika seorang warga negara AS diduga memilih untuk membantu musuh kita,” kata Asisten Direktur Utama FBI William F. Sweeney Jr, seperti yang dilansir Forbes.

Tak hanya itu, penyidik mengaku, selama perjalanan ke Korut, Virgil Griffith memberikan informasi yang sangat teknis kepada Korut. Informasi tersebut digunakan oleh Korut untuk melakukan pencucian uang dan menghindari sanksi ekonomi Amerika Serikat.

“Sebelumnya, kami sudah memperingkatkan Griffith agar tidak pergi ke Korea Utara. Di sebuah konferensi blockchain di sana ia mengajar para audiens cara menggunakan teknologi blockchain untuk menghindari sanksi,” tambah John Demers, Asisten Jaksa Agung AS.@rd/blc