LENSAINDONESIA.COM: Kepala dusun (Kasun) berinisal AS, akhirnya dilaporkan lantaran diduga menlakukan pnggandaan sertifikat milik warga. Bahkan, korban penggandaan tersebut bertambah lagi satu orang.

Pelapor atas kasus ini adalah Moh Nurul Muhtadin. Sedangkan, warga berikutnya yang jga menjadi korban adalah Jurini. Hal itu seperti yang disampaikan Kades (Kepala Desa) Sonopatik, Kecamatan Brebek, Kabupaten Nganjuk, Imam Achmad.

“Infonya begitu, korbanya bertambah lagi satu,” tandas Imam kepada wartawan.

Bahkan, akibat ulah pemalsuan sertifikat tersebut, Nurul dan Jurini jadi pihak tergugat atas perkara perdata, yang berkaitan utang piutang dengan penggugat AN ke Pengadilan Negeri (PN) Nganjuk.

“Jadi kalau dari kemarin surat yang dilayangkan itu ada tergugat II dan tergugat III. Jadi antara Bu Jurini dan Mbak Khotimah (Kakak Nurul) itu satu paket,” papar Imam.

Dikatakan Imam, pihaknya sudah berusaha menengahi persoalan tersebut dengan mengumpulkan para pihak pada 18 September 2021. Dalam pertemuan itu, AS menandatangani surat pernyataan bermeterai untuk menyelesaikan permasalahan utang. Pasalnya, sertifikat tanah yang digandakan oleh AS digunakan sebagai jaminan utang.

“Jadi dari pihak desa itu sebetulnya sebelum kasus ini mencuat sudah ada mediasi. Sudah saya kumpulkan secara kekeluargaan. Bu Jurini sama Bu Khotimah, kakak dari pelapor, sudah duduk bersama di sini bersama keluarga dan membuat pernyataan,” urai dia.

Sedangkan, sebagai Kades Imam mengaku tidak tahu soal penggandaan sertifikat yang dilakukan AS atas tanah warga. Kata dia, pihaknya hanya membantu proses setiap pengajuan pendaftaran tanah sistematis lengkap (PTSL).

“Saya selaku kepala desa setiap ada usulan pengajuan sertifikat dan sebagainya, sepanjang di situ sudah berkas lengkap kita menandatangani, kita mengusulkan,” papar dia.

Namun demikian, kata Imam, kedua korban belum membuat laporak ke kepolisian. Dan, hanya berkordinasi dengan BPN untuk pembatalan penerbitan sertifikat yang digandakan AS.@rd