LENSAINDONESIA.COM: George Soros, ekonom dan pengusaha di balik bangkrutnya Bank Sentral Inggris pada tahun 1992, ternyata menyimpan asset-nya di mata uang digital Bitcoin. Dia menginvestasikan assetnya di salah satu mata uang Crypto itu secara diam-diam dalam beberapa tahun.

Terbongkarnya menginvestasikan asset di Bitcoin itu setelah ada pengakuan langsung dari Dawn Fitzpatrick CEO dan CIO Soros Fund, perusahaan keluarga George Soros.

Dan, ini kali pertama George Soros mengakui kepemilikan Bitcoin (BTC) setelah beberapa tahun terakhir perusahaan itu sangat rajin berinvestasi di sejumlah perusahaan terkait Crypto. Langkah itu sekaligus menjawab spekulasi tingkat tinggi selama ini, apakah triliuner itu benar-benar masuk dan menyelam di kelas asset baru ini.

Fitzpatrick dalam keterangannya kepada Bloomberg, dari sudut pandang mereka, pihaknya memiliki beberapa Crypto. Namun, dia mengakui dengan jumlah yang tidak banyak.

“Jumlahnya tidak banyak dan itu sendiri kurang menarik kalau dibandingkan dengan Cryipto lain di sector DeFi (decentralized finance),” jelas Fitzpatrick kepada Bloomberg.

Pernyataan Fitzpatrick itu memastikan kabar sebelumnya pada awal tahun ini yang mengatakan Soros Fund telah mulai memperdagangkan Bitcoin, berdasarkan sumber anonim. Bahkan, Soros Fund juga merupakan investor di perusahaan Crypto seperti NYDIG dan Lukka.

“Saya tidak yakin Bitcoin hanya dilihat sebagai lindung nilai inflasi. Di sini saya pikir itu melewati jurang ke arus utama. Cryptocurrency sekarang memiliki kapitalisasi pasar lebih dari $2 triliun. Ada 200 juta pengguna di seluruh dunia, jadi saya pikir ini sudah hilang. mainstream,” tambah Fitzpatrick,” paparnya.

Spekulasi George Soros kian merangkul Bitcoin muncul kembali pada Juli 2021 lalu. Soros Fund Managemen, perusahaan investasi swasta milyarder George Soros dikabarkan akan memperdagangkan Bitcoin (BTC) sebagai langkah awal menggandeng Crypto nomor wahid itu.

Tidak hanya itu, Dawn Fitzpatrick, Kepala Investasi Soros Fund Management, juga memberi lampu hijau untuk memperdagangkan Bitcoin dan mungkin Crypto lainnya dalam beberapa minggu terakhir.

Fitzpatrick juga dikabarkan sedang melobi untuk mengakuisisi saham pribadi di perusahaan berbasis blockchain terkemuka, meskipun nama-nama perusahaan itu tidak dibuka di publik.

Sementara, NYIG pada akhir Juni 2021 bekerjasama dengan perusahaan penyedia jasa keuangan National Cash Register  (NCR) agar ratusan di bank di Amerika Serikat bisa menyediakan secara langsung layanan beli-jual Bitcoin, tanpa melalui bursa Crypto biasa.

Dan, pada April lalu, NYDIG mengumumkan sudah mengantongi dana investasi senilai US$100 juta dari perusahaan asuransi besar, di antaranya Starr Insurance, Liberty Mutual Insurance, New York Life dan Mass Mutual.

Dengan optimis, Fitzpatrick sempat menyebut, bahwa Bitcoin tidak akan terancam dengan hadirnya mata uang digital bank sentral (CBDC) seperti Yuan digital. Dia yakin kedua mata uang digital itu dapat berjalan beriringan.@rd