LENSAINDONESIA.COM: Suasana pedesaan di Desa Turi, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, terkesan tenang, damai, dan cukup asri. Tidak dinyana, terdapat bangunan Pondok SPMAA yang unik dan mencolok dengan gaya arsitektur yang khas Islami.

Siang itu, terlihat beberapa santriwan dan santriwati berlalu lalang di sekitar pondok. Kebetulan saat itu menjelang sholat Dhuhur.

Gus Khosi’in Koco Wolo Brenggolo atau Gus Koco –sebutan akrabnya—yang bertindak sebagai Imam sholat Dhuhur. Usai sholat, Gus Koco dan dua orang Gus lainnya –sebutan putera Kiai—berkumpul dan bincang-bincang. Kedua saudaa Gus Koco itu, yaitu Gus Arbi dan Gus Na’im.

Ketiga Gus ini memang keturunan langsung Kiai Muchtar, figur patriotik pejuang pembela NKRI yang juga pendiri Pondok Pesantren SPMAA ini.

Pondok yang kharismatik ini didirikan lebih setengah abad silam. Tepatnya, tahun1961. Kultur pondok ini terkesan memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri. Pondok dikembangkan dengan berbasis misi kemanusiaan. Para santri dari mulai kali pertama masuk dididik dengan bekal kehidupan yang sangat luar biasa.

Karena itu, pondok ini sangat diminati para orang tua yang ingin membekali putera-puterinya dengan pendidikan berbasis agama. Terbukti, lebih 400 santri yang belajar di Pesantren SPMAA ini. Mereka berasal dari berbagai latar belakang sosial.

Sebagaimana disebutkan Gus Koco, ada santri yang memang bertujuan ingin belajar agama di pesantren, ada yang sengaja dititipkan keluarganya. “Dan, tidak sedikit pula yang dikirim Dinas Sosial untuk dibina,” kata Gus Koco di tengah suasana masih beraroma Peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini.

Gus Koco dan kedua saudaranya mengakui bahwa dasar pembelajaran Ilmu agama adalah hal utama bagi visi pendidikan di pesantrennya. Walau demikian, pondoknya juga memperkaya dengan berbagai layanan sosial. Diantaranya, layanan konseling untuk korban KDRT, dan layanan untuk para Lansia.

Selain itu, menurut Gus Koco, SPMAA-nya juga memiliki konsep sekolah berbasis dunia akhirat, dimana setiap santri tidak hanya dikenalkan keilmuan dari sekolah formal.

“Tapi, juga memprioritaskan bekal-bekal ilmu agama yang digunakan sebagai bekal untuk terjun ke masyarakat dan mengabdi pada masyarakat, bangsa dan negara” jelas Gus Koco. @hayom