LENSAINDONESIA.COM: Pada tahun 2016, PTPN XI mengeluarkan kebijakan penghentian produksi gula pada sejumlah anak perusahaannya, dikarenakan minimnya pasokan bahan baku tebu. Salah satunya adalah Pabrik Gula (PG) Kanigoro Madiun.

“Tahun 2016, agak kesulitan di bahan baku. Dari tahun ke tahun pasokan tebu untuk produksi semakin sedikit, karena semakin berkurangnya suplai dari petani,” jelas Kepala Sie Sumber Daya Manusia (SDM) PG. Kanigoro Madiun Didik Haryono, S.E.

Saat ditemui Lensaindonesia.com, Sabtu (9/10/2021), Didik mengungkapkan, beberapa karyawannya terpaksa dimutasi ke anak perusahaan di bawah naungan PTPN XI yang masih aktif. Dan hingga saat ini, sekitar 68 orang yang masih terdaftar sebagai karyawan untuk mengelola beberapa aset PG Kanigoro tersebut.

“Untuk memanfaatkan aset, supaya ada income, sudah dua tahun ini kita menggeluti Pengelolaan properti rumah dan gudang yang menjadi aset PG Kanigoro kita sewakan,” ujarnya.

Sebagai informasi, ada 25 unit properti yang telah disewakan oleh pihak PG Kanigoro kepada pihak luar dengan proses verifikasi yang ketat. Selain itu, manajemen PG Kanigoro juga mengalihfungsikan area produksi menjadi lokasi workshop atau house of maintenance. Area tersebut digunakan untuk mengembangkan pelayanan berupa jasa perbaikan mesin, untuk beberapa industri pangan, terutama gula.

“Workshop disini artinya kantornya instalasi. Kami melayani permintaan dari user tentang segala perbaikan mesin untuk industri bahan pangan gula. Dalam tahun ini saja, kita ada empat unit mesin masuk. Macam-macam jenis perbaikannya, antara lain overhaul, trippler, rewending motor dan sebagainya. Kualitas personal maintenance kami memang bisa diandalkan,” terang Didik Haryono.

Tak hanya itu, PG Kanigoro juga mengelola pengolahan limbah industri gula atau yang biasa disebut ‘blotong’. Blotong yang berasal dari beberapa pabrik produsen gula tersebut, diolah kembali menjadi pupuk kompos setengah jadi yang dapat menunjang kualitas pertanian.

“Blotong itu kita olah jadi kompos, kemudian didistribusikan ke vendor di daerah Kulon Progo,” tambah Didik.

Dengan pemanfaatan aset dan limbah tersebut, Didik sangat optimis bahwa seluruh jajarannya bisa bangkit dari keterpurukan, asalkan terus berinovasi dan bekerja keras.

“Harapannya, supaya dengan kondisi ini, kita bisa saling support untuk bagian masing-masing. Mana yang bisa menyuplai dana, kita kembangkan,” pungkas Didik Haryono. @Limad