LENSAINDONESIA.COM: The Republic Institute melakukan survei untuk mengukur popularitas dan elektabilitas aktor politik yang potensial untuk berkompetisi dalam pemilihan Gubernur tahun 2024 mendatang. Hasil survei menyimpulkan adanya dominasi nama-nama beken.

Dari hasil survei yang dilakukan mulai tanggal 1 hingga 13 September 2021, popularitas dan elektabilitas Khofifah Indar Parawansa masih menduduki urutan pertama.

Dari sisi popularitas Khofifah menempati urutan teratas dengan capaian 97,8%, kemudian Tri Rismaharini berada di urutan kedua dengan tingkat popularitas 89,4%. Kemudian di posisi ketiga ditempati Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dengan popularitas 87,4%.

Di posisi selanjutnya ada nama Emil Elestianto Dardak ((83,8%), La Nyalla (50,7%), Djarot S. Hidayat (48,6%), Bambang DH (48,2%), Sahat Simanjutak (39,6%), Sarmuji (38,8%), Gus Barra (38,7%), Haeny Relawati (32,7%), Thoriqul Haq
(32,5%), M. Nur Arifin (31,7%), Muhammad Fawaid (30,4%), Arzeti Bilbina (29,9), Anwar Sadad (28,8%), Badrut Tamam (27,9%), Gus Halim (27,6%), Ony Anwar (27,2%), Ratna Juwita (27,2%), Anik Maslachah (23,7%), Gus Hans (23,7%), Kusnadi (23,6%), Heru Tjahyono (23,2%), Riski Sadiq (23,2%), Sri Sajekti (23,1), Fadil Muzakki (22,3%), Masfuk (22,1%) dan Irwan Setiawan (21,7%).

Sementara itu untuk tingkat elektabilitas (keterpilihannya) bagi aktor-aktor politik potensial di Jawa Timur yang berpeluang ikut dalam kontestasi dalam pemilihan Gubernur mendatang apabila pilihannya sekarang maka hasil yang didapatkan sebagai berikut: Khofifah (38,1%), Tri Risma (23,9%), Gus Ipul (11,8%), Emil Dardak (6,0%), Sarmuji (1,4%), Gus Halim (0,7%), Ony Anwar (0,7%), Haeny Relawati (0,7%), Thoriqul Haq (0,7%), Muhammad Fawaid (0,4%), Fadil Muzakki (0,4%), Anwar Sadad (0,3%), Sahat Simanjutak (0,2%), Gus Barra (0,2%), Djarot S. Hidayat (0,2%), M. Nur Arifin (0,2%), La Nyalla (0,1%), dan yang belum menentukan (13,9%).

Popularitas dan Liketabilitas Kandidat Calon Gubernur Jatim. FOTO: Infografis The Republic Institute

Direktur The Republic Institute Dr. Sufyanto menjelaskan, popularitas diantara calon Gubenur terjadi lebih karena jabatan dan ketokohan calon yang bersangkutan, seperti Khofifah adalah Gubernur Jatim dan ketua Muslimat NU, kemudian Saifullah Yusuf atau Gus Ipul yang sekarang menjabat sebagai Wali Kota Pasuruan dan pernah menjabat Wakil Gubernur Jatim. Sedangkan Tri Rismaharini merupakan mantan Wali Kota Surabaya yang saat ini menjabat sebagai Menteri Sosial yang didukung keaktifan di media sosial yang luar biasa besar. Dan Emil Dardak adalah Wakil Gubernur Jatim yang saat ini menjadi Plt Ketua DPD Partai Demokrat Jatim.

Sedangkan terkait elketabilitas, menurut Sufyanto tingginya suara Khofifah dipengaruhi oleh gerakan kader Muslimat NU. Sementara suara Risma ditunjang karena sering muncul dan menjadi bahasan di media sosial.

“Dari tabel di atas, tingginya suara Khofifah bisa dijelaskan karena Khofifah saat ini masih menjabat Gubernur serta gerakan kader-kader muslimat yang massif dan tetap mengingatkan ke masyarakat untuk tetap mendukung dan membantu program-program Khofifah. Sedangkan suara yang tinggi dari Risma karena Risma adalah seorang Menteri, memiliki sifat yang tegas dan selalu membela kaum kecil, termasuk Risma yang terus muncul di media social, terkait sikap Risma yang sering marah-marah di medsos, sebagian masyarakat menganggap itu adalah bentuk dari sikap tegas beliau melihat ketidaknormalan pada pelaksanaan bantuan social oleh aparatp pemerintah, tetapi bukan merupakan sifat negatif dari Risma,” jelasnya dalam rilis di Surabaya, Minggu (10/10/2021).

“Untuk Gus ipul, lebih karena beliau seorang walikota dan mantan wakil gubernur. Sedangkan emil, disamping sebagai wakil gubernur juga peran popularitas istrinya sebagai artis cukup membantu dalam peningkatan elektabilitasnya,” tambah Dosen Politik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) ini.

Temuan risetnya, bila dilihat dari sebaran elektabilitas bagi kandidat yang menempati 2 teratas dapat dibaca pada dukungan ormas dan dari pemilih partai politiknya.

Temuan itu sebagai berikut:

1. Khofifat dipilih oleh masyarakat sebagai jamaah ormas NU (40%), Muhammadiyah 35%, Ormas Islam Lain (33,3%), ormas dibawah gereja (15,7%), dibawah naungan Hindu (15,2%), dibawah naungan budha (14,3%); sementara itu dilihat dari pilihan partai politik; Golkar (47%) PKB (47,9%), Demokrat (40,9%), PDIP (27,5%), Nasdem (43%), PAN (45%), PPP (51%)

2. Tri Rismaharini dipilih oleh masyarakat sebagai jamaah ormas NU (23%), Muhammadiyah 55%, Ormas Islam Lain (30%), ormas dibawah gereja (30%), dibawah naungan Hindu (33%), dibawah naungan budha (71%); sementara itu dilihat dari pilihan partai politik; Golkar (20,5%) PKB (15%), Demokrat (18%), PDIP (40,5%), Nasdem (27,5%), PAN (65%), PPP (51%).

Survai The Republic Institute ini dilakukan pada tanggal 1-13 September 2021 dengan margin of error sebesar 2,8 %.

Survei ini menggunakan metode pengambilan sampel multistage random sampling dengan jumlah sampel keseluruhan sebanyak 1.225 responden tersebar di 38 kabupaten dan kota di seluruh wilayah provinsi Jawa Timur.

Kemudian sampel dari Provinsi tersebut diturunkan ke tingkat Kabupaten/Kota, lalu ke tingkat Kecamatan, dilanjutkan ke tingkat Desa lalu diturunkan ke tingkat RT, Rumah dan menentukan subjek penelitian.@LI-13