LENSAINDONESIA.COM: Kekebalan tubuh atau antibodi kembali menjadi tolak ukur masyarakat menghadapi virus Covid-19. Bahkan, kali ini masyarakat harus siap-siap menjalani survei antibodi. Pasalnya, pemerintah akan memberlakukan status Covid-19 dari pandemic menjadi endemic.

Kekebalan tubuh yang dimiliki masyarakat Indonesia sekarang ini bisa lantaran vaksin atau secara alami.

Survei dilakukan secara berkala, yakni setiap 6 bulan sekali. Dengan menggunakan metode seroprevalence dan akan dilakukan kepada 21.880 sampel yang tersebar di 100 kabupaten/kota pada 34 provinsi.

“Ini agar hasilnya bisa dibagikan di dunia dan menunjukan kesiapan Indonesia dalam tangani pandemi serta transisi menjadi endemi,” ujar Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers via daring.

Mengutip The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, seroprevalence survei menggunakan tes antibodi untuk memperkirakan persentase orang dalam populasi yang memiliki antibodi terhadap SARS-CoV-2. Dan dalam tes ini pula menginfokan berapa banyak orang dalam populasi tertentu yang sebelumnya telah terinfeksi virus corona.

Survei akan dilakukan Kemenkes dan Kemendagri (Kementerian Dalam Negeri) dengan menggandeng Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Survei diharapkan bisa selesai pada pertengahan Desember untuk memberikan gambaran lengkap kondisi antibodi seluruh masyarakat. Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menyatakan bahwa selama ini masyarakat telah mencapai kekebalan tubuh akibat telah terinfeksi Covid-19 atau vaksinasi. Kekebalan ini terbentuk setelah dua bulan gelombang kedua virus corona.

Sementara, The Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) memperkirakan, 29 % orang di Indonesia sudah terkena corona hingga 27 September. Dicky memprediksi sekitar 120 juta orang di Indonesia memiliki imunitas akibat terinfeksi Covid-19 serta vaksinasi.

“Artinya situasi penularan mereda karena masyarakat sudah mencapai status imunitas, tapi bukan karena herd immunity,” paparnya. @rd