LENSAINDONESIA.COM: Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak mengaku optimis bahwa Merit Sistem bisa mewujudkan birokrasi di lingkungan Pemprov Jatim menuju kelas dunia.

Hal tersebut didasarkan bahwa Provinsi Jawa Timur memiliki kekuatan 45.968 PNS dan ditambah dengan PTT dan GTT dengan total 75.100 PNS.

“Kita mendapatkan predikat sangat baik untuk penerapan Merit Sistem bagi birokrasi di Jatim. Jadi saya terus mendiskusikan tekanankenapa kita layak mendapatkan predikat terbaik sistem manajemen kepegawaian,” tuturnya dalam Seminar Nasional Penguatan Sistem Merit Menuju Birokrasi Kelas Dunia 2024, Selasa, (12/10).

Mantan Bupati Trenggalek tersebut menyebut Pemprov Jatim memiliki program aplikasi E-Master yang memberikan sebuah platform untuk setiap pegawai yang ada di Pemprov bisa mengaksesnya.

Orang nomor dua di Jawa Timur tersebut berbicara mewakili atas Provinsi Jatim yang mendapatkan predikat sangat baik oleh KASN.

“Segala hal berkaitan dengan cuti, berkaitan dengan kenaikan pangkat, ijin pendidikan bisa dilakukan secara online. Ini dibarengi dengan penerapan tunjangan kinerja yang awalnya memang 60-70% adalah kehadiran. Tetapi kita mulai geser menuju ke kinerja,” ungkapnya.

Wagub Emil menyebut, tantangannya ada pada manajemen ASN. Menurutnya ada kompetensi Mismatch karena pada kenyataannya ada senioritas. “Untuk itu kita menjaga dinas-dinas semaksimal mungkin ada kompetensi. Kemudian ini kita sikapi dengan merumuskan dari mulai planning, rekrutmen, capacity Building hingga memperbaiki Welfare,” tegasnya

Wagub Emil menyampaikan tantangan saat ini yakni menerapkan meritokrasi yaitu bagaimana saat menilai proses birokrasi berjalan dengan baik dan terukur.

Menurutnya saat menilai sasaran kinerja itu seperti copy paste. Tidak ada sasaran kualitatif.

“Misalnya bikin event yang grand, bisa menarik sponsor, melebihi dari kontribusi APBD itu kalau didalam dokumen satu kegiatan. Effort kualitatifnya sulit. Kemudian budaya Ewuh Pakewuh itu juga terjadi dari atas ke bawah. Pimpinan tidak enak memberikan nilai yang jelek. Sehingga memang kita perlu namanya kualitatif target,” tutupnya.@rif/rel