LENSAINDONESIA.COM: Marta Frily Adetya gagal mendapatkan medali emas dalam debutnya di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2021 di Papua. Tampil di kelas randori putri 50 kg, atlet kempo asal Malang ini cuma meraih perak. Ia kalah dari Hilda Christina Blandina (Papua Barat).

Marta adalah satu-satunya atlet kempo Jatim yang tampil di PON Papua. Sangat jauh dibandingkan dengan PON XIX 2016 di Jawa Barat (Jabar) di mana Jatim datang dengan sembilan emas. Namun Marta mencatat prestasi lebih baik daripada para seniornya itu.

Marta yang tampil seorang diri, bisa menyabet perak. Sedangkan atlet Jatim yang bertanding di PON Jabar cuma mendapat sekeping perunggu.

Perjuangan Marta untuk mendapatkan perak ini sangat berat. Dia mengalami cedera di final. Serangan Hilda ke pangkal paha, membuat Marta kesakitan. Tim medis sampai harus turun ke arena pertandingan untuk merawat atlet asal 23 tahun tersebut.

Sebenarnya, Marta sempat melancarkan serangan yang berbuah poin. Tapi itu hanya dilihat oleh wasit utama. Sedangkan empat wasit lainnya tidak melihat momen tersebut. Sehingga poin itu tidak diakui. Ronde pertama pun berakhir imbang.

Babak perpanjangan pun dilakukan. Namun kedudukan masih sama kuat. Akhirnya wasit memanggil pelatih Jatim dan dan Papua Barat. Wasit bertanya, apakah perlu melanjutkan ke babak perpanjangan kedua atau tidak. Pelatih Papua Barat menolak. Pun demikian dengan Jatim.

“Dengan hasil yang masih fifty-fifty, saya bisa memaksa Marta untuk bermain. Tapi saya pikir itu tidak bijak. Sebab kondisi Marta sudah seperti itu. Saya bertugas untuk menyelamatkan atlet saya dulu supaya tidak cedera fatal,” jelas I Wayan Martha Utama. @Fredy